Jejak Dana Hibah: Kampanye Batasi Sawit Sebagai Bahan Baku Biodiesel

Upaya membatasi minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel dikampanyekan pegiat LSM. Berdalih ingin menekan deforestasi sawit di Indonesia.

Mandatori  biodiesel dia cungi jempol banyak negara. Indonesia menjadi negara pertama pengguna biodiesel terbesar dunia. Program ini mampu meningkatkan pemakaian energi baru terbarukan dan menjaga stabilitas sawit di dalam negeri.

Kendati demikian, tantangan biodiesel juga semakin besar. Isu negatif ditujukan kepada biodiesel mulai deforestasi sampai kesejahteraan petani. Ir. Gulat ME Manurung, MP, CAPO, Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) menegaskan implementasi B30 ini meningkatkan serapan konsumsi domestik akibatnya negara importir sawit kebakaran jenggot karena kesulitan membeli CPO dengan harga murah.

“Apa bila ada NGO yang mengkritik biodiesel dengan mengatakan merugikan petani sawit. Ada kemungkinan yang berteriak itu bukan petani sawit. Sebab, mereka tidak menikmati harga TBS setelah biodiesel diimplementasikan,” jelasnya.

Majalah Sawit Indonesia mendapatkan data berkaitan penyaluran hibah dari lembaga donor kepada LSM/NGO berkaitan kampanye sawit. Data bersum berdari The Climate And Land Use Alliance (CLUA) pada 2020. Data ini membeberkan pembiayaan NGO/LSM di tanah air dari sejumlah lembaga donor (foundations) di luar negeri. Tujuan pendanaan ini menyasar isu kelapa sawit dari aspek sosial, ekonomi dan lingkungan.  Di Indonesia, inisiatif pendanaan CLUA bertujuan untuk mengurangi emisi dari hutan dan lahan gambut Indonesia. Selanjutnya menjaga hak tanah masyarakat adat hak, meningkatkan mata pencaharian lokal, dan berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan.

The Climate And Land Use Alliance adalah kolaborasi yayasan, lembaga donor, dan filantropi yang fokus kepada isu hutan dan lahan berkelanjutan sebagai respon atas perubahan iklim dunia. Ada empat lembaga donor dalam empat aliansi ini yaitu Climate Works Foundation, David and Lucile Packard Foundation, Ford Foundation, dan Gordon and Betty Moore Foundation. Seluruh lembaga ini berkantor pusat di Amerika Serikat. Dari 2010 – 2019, dana yang telah dikucurkan lembaga donor ini mencapai US$ 574 jutabagi 1.700 pendanaan hibah.

David and Lucile Packard Foundation, salah satu lembaga donor yang memberikan hibah sebesar sebesar US$ 249,953 kepada Traction Energi Asia (Traction). Dana ini diberikan dari periode September 2019 selama 18 bulan lamanya. Hibah ini digunakan untuk mengembangkan transparansi dan ketelusuran bahan baku biodiesel dari petani dan membatasi ekspansi kelapa sawit untuk dijadikan bahan baku biodiesel.

Majalah Sawit Indonesia mengklarifikasi dana hibah ini kepada Traction Energi Asia. Ricky Amukti, Manajer Riset Traction Energy Asia, mengatakan banyak CSO (Civil Society Organization) di Indonesia  yang menerima dana dari lembaga donor asing. Alasannya, masih sedikit lembaga donor Indonesia yang mendukung pekerjaan untuk memikirkan kembali bagaimana menggunakan sumberdaya yang terbatas secara lebih berkelanjutan tanpa merusak lingkungan atau berdampak negatif pada masyarakat.

(Selengkapnya dapat di baca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 111)

Related posts

You May Also Like