• Rabu, 30 September 2026
Berita Terbaru

Jawab Tantangan Sawit, IPOSS: Sektor Sawit Perlu Diperjuangkan

Jakarta, SAWIT INDONEIA - Sulit dipungkiri, di masa lalu Indonesia pernah berjaya di kancah dunia sebagai penghasil beberapa komoditas primadona seperti cengkeh, pala, karet, tebu, dan teh. Faktanya, komoditas primadona tersebut saat ini nyaris tidak menyisakan kedigdayaannya. Memang, banyak faktor yang berpengaruh.

Selain komoditas di atas yang pernah berjaya, saat ini Indonesia memiliki satu komoditas yaitu kelapa sawit. Bahkan, dari kelapa sawit Indonesia saat ini menjadi produsen minyak nabati (sawit) terbesar di dunia.

Akankah, nasib kelapa sawit bisa bertahan atau sebaliknya? “Kita tentu berharap jangan sampai kelapa sawit serupa dengan komoditas cengkeh, pala, karet, tebu, dan teh yang sudah tidak lagi berdaya. Kita juga patut bersyukur diberikan anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa berupa alam yang subur hingga pohon sawit terus bertumbuh dan berkembang di tanah air, lebih baik dari lokasi asal kelapa sawit di Afrika,” kata Darmin Nasution, Dewan Pengawas IPOSS (Indonesian Palm Oil Strategic Studies), saat menyampaikan keynote speech, di acara peluncuran buku ‘Sawit, Anugerah yang Perlu Diperjuangkan’, di Jakarta, Kamis (5 September 2024).

Sumbangsihnya pun dalam perekonomian nasional tidak bisa dipandang sebelah mata. Tumbuhan yang berasal dari Afrika tersebut, kini menghidupi lebih dari 16 juta warga negara Indonesia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kemajuan hilirisasi produk sawit saat ini turut berperan sebagai pengungkit perputaran roda perekonomian di berbagai daerah. Oleh karenanya, salah Langkah dalam mengeluarkan kebijakan akan berdampak buruk pada kesejahteraan masyarakat sepanjang rantai pasok.

Diungkapkan Darmin, kemajuan hilirisasi sawit telah menghasilkan berbagai produk turunannya yang sudah mencapai 179 jenis (2023). Selain menjadi bagian penting dalam kebutuhan pangan, sawit juga banyak digunakan untuk kosmetik, bahan Kesehatan hingga biodiesel.

“Yang paling mutakhir kedepan sawit memiliki potensi besar sebagai bahan baku bioavtur bagi dunia penerbangan sehingga mendukung komitmen Indonesia menuju Net Zero Emision 2060. Indonesia memiliki prospek sebagai produsen renewable energy terbesar karena dikaruniai sumber bahan baku yang melimpah dari sawit,” ungkapnya.

Namun, lanjut Darmin, Indonesia saat ini sebagai produsen terbesar minyak sawit di dunia tidak digapai dengan mudah. Industri sawit Indonesia telah melalui episode perjalanan yang panjang dengan pasang surutnya.

“Misalnya, pada 2011, ketika terjadi oversupply Crude Palm Oil (CPO) minyak mentah sawit dari Indonesia. Yang tidak diimbangi daya serap pasar global menyebabkan ambruknya harga CPO,” lanjutnya.

Pada 2011, perdagangan Indonesia masih sempat surplus sebesar US$ 26,1 miliar. Namun tahun berikutnya justru berbalik defisit sebesar US$ 1,7 miliar, antara lain sebagai dampak ambruknya harga CPO dunia. Dampak langsung yang dirasakan adalah menuruannya harga Tandan Buah Segar (TBS), yang pada gilirannya menggerus kesejahteraan para petani sawit di berbagai daerah.

“Maka, pelajaran yang dapat dipetik adalah pentingnya kebijakan yang bisa menyeimbangkan antara supply and demand. Perlu diciptakan sumber permintaan (konsumen) yang akan memastikan harga CPO stabil. Untuk menciptakan sumber permintaan, hilirisasi pada industri sawit perlu terus diperluas, terutama untuk kebutuhan produksi pangan dan energi terbarukan (renewable energy) yang sedang berjalan yaitu mandatory campuran biodiesel,” kata pria yang pernah menjabat Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Lahirlah Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) pada 2015 lalu. Menjad itonggak penting, yang berperan strategis dalam mendorong kemajuan mandatory campuran biodiesel melalui skema subsidi. Dalam kurun waktu 10 tahun, mandatory campuran biodiesel meningkat secara bertahap dari hanya 2,5% (2008-2015) menjadi 35% (2023).

“Bahkan, pada 2020-2022 saja berkat biodiesel Indonesia dapat menghemat impor diesel dengan nilai mencapai Rp266,6 triliun, serta mampu mereduksi gas rumah kaca sebesar 74,7 ton CO2,” jelas Darmin.

Sektor sawit masih hadapi tantangan

Terlepas dari kemajuan yang ditorehkan BPDPKS dalam mendorong mandatory campuran diesel, program yang masih menghadapi tantangan adalah program peremajaan sawit rakyat (PSR), yaitu program untuk mendongkrak produktivitas kebun sawit rakyat. Kenapa penting? Karena dengan semakin sempitnya ruang untuk melakukan ekstensifikasi lahan kebun, satu-satunya cara adalah mendorong intensifikasi (mendongkrak produktivitas) dengan meremajakan banyak pohon sawit yang sudah menua. Dan, kebun sawit rakyat ini merepresentasikan 42% dari hamper 17 juta ha lahan sawit nasional.

Dari tahun 2027 hingga 31 Mei 2024, BPDPKS telah menyalurkan bantuan PSR kepada 151.185 pekebun dengan luas lahan 336.834 ha. Namun, capaian ini masih jauh dari harapan mengingat masih terdapat 2 juta ha, lahan yang perlu bantuan dalam kurun waktu 5-10 tahun yang akan datang. Banyak berbagai persoalan atau kendala pada tahapan implementasi PSR di lapangan, yang memerlukan komitmen dan koordinasi antar sebuah pemangku kebijakan baik di pusat maupun daerah.

“Keberhasilan PSR menjadi sangat strategis untuk meningkatkan produksi sawit nasional, terutama untuk mengimbangi kebutuhan bahan baku sawit yang akan terus meningkat, baik untuk kebutuhan produksi pangan, produksi campuran biodiesel sesuai dengan rencana pemerintah kedepan maupun ekspor,” kata Mantan Menko Darmin.

Tantangan lain untuk menjaga kesinambungan industri sawit nasional, terutama untuk menjaga kesejahteraan petani sawit juga bersumber dari eksternal. Pada akhir 2024, Uni eropa akan memberlakukan full implementation atas European Union Deforestation Regulation (EUDR). Melalui aturan ini, berbagai komoditi termasuk sawit akan dihalangi masuk Uni Eropa kecuali bila mampu memenuhi aturan tentang bebas deforestasi melalui skeman treacibility (ketelusuran). Indonesia bersama beberapa negara penghasil sawit terus berdiplomasi dan bernegosiasi untuk bisa sampai pada titik win-win solution sehingga petani sawit Indonesia tidak dirugikan.

“Berbagai tantangan tapi juga peluang kedepan, begituluas dan nyata di depanmata. Apa bila tidak dikelola dan dimanfaatkan dengan baik, bisa merugikan industri sawit dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Itulah, mengapa buku ‘Sawit, Anugerah yang Perlu Diperjuangkan’, yang dikeluarkan IPOSS diluncurkan. Mengajak semua pemangku kepentingan untuk bersama-sama menciptakan dan memelihara ekosistem kelapa sawit dari hulu hingga hilir semakin baik,” pungkas Darmin.

Artikel Terkait