• Rabu, 30 September 2026
Berita Terbaru

Investasi KEK Sawit Peluang Penggerak Ekonomi 8 Persen

Jakarta, SAWIT INDONESIA – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sektor sawit belum maksimal dalam menarik investasi yang bernilai tambah tinggi. Pada pemerintahan baru ini, peranan KEK dinilai menjadi kunci pendorong agar Indonesia mampu melaju mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen yang merupakan target pemerintahan baru ini.

Hal tersebut terangkum dalam seminar “Peranan Kawasan Ekonomi Khusus Terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Investasi Industri Hilir Sawit Bernilai Tambah Tinggi” yang diselenggarakan Majalah Sawit Indonesia dan Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) di Jakarta, Senin (4 November 2024).

Dalam sesi II seminar tersebut, Deputi Bidang Pengembangan Regional Badan Perencanaan Pembangunan (Bappenas) Tri Dewi Virgiyanti mengatakan bahwa tujuan pemerintah membangun KEK itu sendiri adalah untuk membangun wilayah, bukan hanya industrinya saja. KEK di Indonesia dari sisi kewilayahan tersebar secara tidak merata. Jawa paling banyak sembilan, Sulawesi ada tiga, Kalimantan ada dua, Maluku dan Papua masing-masing ada 1. Artinya, di kawasan Indonesia Barat itu terdapat 68 persen dan Indonesia kawasan Timur 32 persen.

“Yang paling jelek itu sebenarnya KEK sawit, MBTK dan Sorong. Yang cukup baik KEK Sei Mangkei dan Arun,” ujarnya.

Secara keseluruhan, Tri Dewi Virgiyanti mengungkap bahwa KEK sendiri kinerjanya belum signifikan. Hal itu terbukti dari capaian realisasi investasi pada triwulan 1 2024 baru Rp15 triliun dari target Rp71 triliun. Lalu, penyerapan tenaga kerja baru pun baru 9 ribu dari 38 ribu orang yang ditargetkan.

“Apakah KEK ini mampu mendorong ekonomi di kawasan kawasan? Ternyata ini juga belum optimal,” tuturnya.

Tri Dewi Virgiyanti juga menuturkan jika saat ini pemerintah sedang Menyusun Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2024, setelah RPJMN 2020-2024 baru saja selesai.

“[Evaluasinya] KEK sektor sawit perlu ditingkatkan realisasi investasinya untuk mengatasi pertumbuhan industri yang kecil dan stagnan. Industri pengolahan, hilirisasi sawit perlu diperhatikan untuk mendorong produktivitas sawit saat ini,” ungkapnya.

Seminar yang didukung BPDPKS, Holding Perkebunan Nusantara III (Persero), dan Musim Mas Grup ini dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Rizal Edwin Manansang, Deputi Bidang Pengembangan Regional Kementerian PPN/Bappenas Tri Dewi Virgiyanti, Dirjen Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika, Kepala Divisi Program Pelayanan BPDPKS Arfie Thahar, Direktur KEK Sei Mangkei Moses Situmorang, dan Pemimpin Redaksi Majalah Sawit Indonesia Qayuum Amri.

Artikel Terkait