• Selasa, 29 September 2026
Berita Terbaru

INSTIPER Yogyakarta Manfaatkan Teknologi Digital Jadi Ekosistem Pembelajaran

Yogyakarta, SAWIT INDONESIA – Bergerak mengikuti perkembangan zaman dan menghadapi berbagai dinamika dapat menggambarkan perjalanan INSTIPER Yogyakarta yang pada tahun ini memasuki usia 67 tahun.

Untuk menghadapi berbagai tantangan dan persaingan yang begitu ketat, perguruan tinggi swasta dengan kompetensi inti (core competency) di bidang perkebunan dan perhutanan ini, di 2025 meluncurkan inisiatif strategis. Sebagai bentuk transformasi pembelajaran dengan platform digital yang menjadi fondasi terbangunnya ekosistem pembelajaran berbasis digital, INSTIPER Digital Learning Ecosystems.

Rektor INSTIPER Yogyakarta, Dr. Harsawardana, menyampaikan bahwa inisiatif tersebut adalah program sistemik dan terstruktur yang diciptakan dalam menjaga kontinuitas peningkatan kinerja yang telah berjalan selama 6 tahun terakhir – yang diawali di tahun 2018 akhir.

"INSTIPER memahami bahwa saat ini dan di masa 5-10 tahun ke depan diperlukan kompetensi Sumber Daya Manusia yang mampu beradaptasi secara aktif terhadap perubahan yang disruptif pada lanskap pendidikan. Dipicu perubahan cepat dan kompleks dari dunia usaha dan bisnis serta perubahan demografi penduduk yang akan didominasi oleh generasi Z," ujarnya saat menyampaikan sambutan perayaan Dies Natalis ke-67 di Grha INSTIPER Yogyakarta, pada Rabu (10 Desember 2025).

Lebih lanjut, Dr. Harsawardana mengungkapkan bahwa dalam satu dekade terakhir, berbagai faktor mendorong untuk melakukan perubahan, mendesain ulang semua bentuk aktivitasnya, termasuk entitas perguruan tinggi.

"Faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain faktor eksternal PESTLE (Politics, Economy, Social, Technolgy, Law, Environment), faktor lestari dan berkelanjutan dalam berbagai aspek (sustainability), faktor geopolitik dan geoekonomi serta perubahan iklim yang ekstrim. Dampaknya telah mendorong perubahan signikan di banyak aspek kehidupan," ungkapnya.

"Menyadari hal tersebut, INSTIPER menjawab secara positif dan justru dipandang sebagai sebuah peluang untuk melakukan perubahan fundamental dalam bisnis prosesnya," imbuh pria yang menjabat Rektor INSTIPER Yogyakarta periode kedua.

Pengembangan kurikulum

Lalu, apa yang dilakukan? Di antaranya kurikulum dan pembelajaran yang sejak 20 tahun terakhir dikembangkan melalui konsep dan pendekatan "Link and Match". Diimplementasikan melalui kemitraan strategis yaitu program University-Industry Partnership berfokus pada kebutuhan spesifik yang diterjemahkan dalam bentuk minat khusus dan kompetensi unik pada program studi.

Sasarannya adalah relevansi hasil pembelajaran dengan kebutuhan yang berarti tercapainya capaian pembelajaran (learning outcomes) lulusan dengan knowledge (pengetahuan), skill (keahlian/keterampilan) dan attitude (sikap dan karakter) yang dibutuhkan oleh dunia usaha, dunia industri dan dunia kerja.

"Desain transformasi kurikulum dan metode pembelajaran bertujuan membangun kompetensi melalui pendekatan competency block yang bersifat modular, fleksibel dan adaptif sehingga mampu mengantisipasi perubahan yang cepat," jelas Dr. Harsawardana.

"Dengan memanfaatkan teknologi sebagai kunci yang harus ditanamkan (embedded) baik sebagai penguat kompetensi utama (major) dan pendukung (minor) maupun sebagai sarana prasana proses pembelajaran," sambungnya.

Metode pembelajaran berbasis blok dan modular yang diimplementasikan melalui kombinasi sinergis antara aktivitas intrakurikuler, dan kokurikuler serta ekstrakurikuler akan memberikan keleluasaan yang berarti adaptif dan fleksibel kepada mahasiswa sesuai kapasitas dan kecepatan individu dalam proses belajar.

"Bertumpu pada keterlibatan proaktif dan aktif peserta didik dalam memecahkan persoalan yang sedang terjadi. Menambah kemampuan memprediksikan potensi hambatan dalam menerapkan solusi. Hasilnya adalah terbangunnya fondasi kuat bagi mahasiswa dalam segi kreativitas, berpikir kritis, logis dan komprehensif. Hal ini akan menumbuhkan kemampuan berpikir analitis dan sintetis serta mampu memecahkan masalah (problem solving) di masyarakat, dunia usaha, dunia industri dan dunia kerja," pungkas Dr. Harsawardana.

Artikel Terkait