INSTIPER Yogyakarta memanfaatkan kelimpahan teknologi informasi untuk mendukung output SDM sawit di industri perkebunan. Beragam inovasi hadir mulai dari Instiper Academy sampai Institut Pertanian Siber.
Perkembangan teknologi 4.0 direspon baik oleh INSTIPER Yogyakarta yang memanfaatkan kelimpahan teknologi informasi dan komunikasi dalam mendukung pembelajaran bagi mahasiswanya.
Rektor INSTIPER Yogyakarta, Dr. Harsawardana, M.Eng., mengungkapkan kalau boleh flashback, di tahun 2019 (awal periode pertama kepemimpinan), bersama tim manajemen INSTIPER Yogyakarta telah berpikir jauh ke depan. Bahwa teknologi informasi dan komunikasi menjadi kunci untuk setiap kegiatan di masa mendatang.
“Kami sudah membangun jaringan backbone yang dimulai 2019, sebelum terjadi pandemi Covid-19. Itu menjadi hal yang strategis dengan membangun dan menyiapkan server yang cukup kuat,” ujarnya saat ditemui tim redaksi majalah Sawit Indonesia seusai pelantikan sebagai Rektor INSTIPER periode 2023-2027 pada Senin (3 Juli 2023), di Yogyakarta.
“Pada saat terjadi pandemi Covid-19, kami tidak kaget. Saat itu, semua merasakan serba sulit karena ada pembatasan sosial sebagai upaya menekan penyebaran virus. Tetapi, karena project infrastruktur jaringan internet sedang berjalan, semua barang untuk project infrastruktur digital sudah masuk, jadi rekanan (vendor) sudah bisa mengerjakannya,” tambah Dr. Harsa, sapaan akrab rektor INSTIPER, Harsawardana.
Sejak kepemimpinan di periode pertama (2019), Dr. Harsawardana bersama tim Manajemen tengah mempersiapkan dan menjalankan proyek infrastruktur jaringan internet. Memasuki awal 2020, infrastruktur jaringan internet sudah selesai saat pandemi terjadi.
Di masa pandemi Covid-19, INSTIPER Yogyakarta mendapatkan berkah dari penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk mendukung pembelajaran secara online.
“Selain memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk pembelajaran. kami juga membangun sistem kendali (kontrol) untuk mengendalikan pembelajaran online. Jadi, jaringan internet dan kapasitas sistem informasi dan komunikasi dalam pembelajaran benar-benar diuji saat pandemi Covid-19,” jelas Dr. Harsa.
“Sejalan dengan project pengembangan teknologi informasi dan komunikasi yang ada di INSTIPER, kami juga mempersiapkan SDM-nya. Saat ini kurang lebih ada 30 orang tenaga ahli IT di INSTIPER Yogyakarta,” imbuhnya.
Selanjutnya, Dr. Harsawardana mengungkapkan sebelum pandemi Covid-19, dunia sudah mulai berubah dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi. Termasuk di sektor perkebunan, terjadi kelangkaan Sumberdaya Alam (SDA) dan menurunnya minat orang mau bekerja di sektor perkebunan.
“Tetapi, di satu sisi ada kelimpahan teknologi, yang dapat dimanfaatkan untuk budidaya dan lainnya di sektor perkebunan kelapa sawit. Ini yang sebenarnya telah dipersiapkan INSTIPER, sehingga sarana dan prasarana sudah sangat siap. Makanya, kami sedang mempersiapkan Institut Pertanian Siber Stiper. Jadi, ke depan teknologi informasi dan komunikasi menjadi kunci dalam penerapan teknologi 4.0,” ungkapnya.
Periode Kedua Dr. Harsawardana
Pada 3 Juli 2023, Dr. Ir. Harsawardana, M.Eng kembali dilantik sebagai Rektor INSTIPER Yogyakarta untuk periode 2023-2027, Menurutnya, sejak periode pertama 2019-2023 dirinya bersama manajemen INSTIPER sangat konsen pada pengembangan teknologi untuk mendukung pembelajaran. Dan, sudah dibuktikan di masa pandemi Covid-19 pembelajaran tetap berjalan dengan cara online. Seiring dengan adanya kebutuhan di sektor industri, teknologi informasi dan komunikasi terus dikembangkan.
Dr. Harsawardana mengutarakan sejak beberapa tahun lalu, pihaknya sudah membangun INSTIPER Akademi. Awalnya INSTIPER Akademi adalah untuk menampung hobi mahasiswa, kemudian berkembang menjadi Co-Kulikuler.
“Didirikan sebagai pendamping dalam rangka menumbuh kembangkan kompetensi mahasiswa menyambut teknologi 4.0, Artificial Intelligence (AI), Smart Green House, Mecanikal Electrical Technology, Robotic, IT dan ada beberapa kegiatan pendukung Enterpreuner berbasis teknologi. Seperti tekno preunersip dan bakery Academy yang terus ditambahkan,” ucapnya.
“Co-Kurikuler ini memperkuat kompetensi mahasiswa, misalnya ada matakuliah geospasial maka akan diperkuat di Drone Akademi. Kalau pertemuan kuliah setiap semester hanya 14 kali, tetapi kalau di Drone Akademi (INSTIPER), mahasiswa memiliki kesempatan untuk belajar dari awal masuk hingga akhir mendekati kelulusan. Dan, akan mendapatkan sertifikat, baik mandiri maupun sebagai sertifikat pendamping ijazah. Ini yang menjadi perhatian kita untuk terus dikembangkan,” tambah Dr. Harsawardana.
(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 141)














