• Rabu, 30 September 2026
Berita Terbaru

Inilah Lembaga Riset Sawit yang Pertama Gunakan Drought Factor Index untuk Pengembangan Benih

Sanur, SAWIT INDONESIA – SMART Research Institute menjadi lembaga riset sawit yang pertama kali menggunakan metode Drought Factor Index dalam pengembangan material bahan tanaman toleran iklim kering. Riset ini sangat bermanfaat untuk mencegah dampak buruk kekeringan terhadap produksi sawit nasional.

Berdasarkan data dari SMART Research Institute, defisit air yang tinggi dapat menyebabkan penurunan produksi sawit hingga 8-10% per tahun. Jika kondisi ini terus berlanjut, total potensi kerugian bagi industri bisa mencapai 4,6 miliar dolar AS per tahun.

“Perubahan iklim semakin sulit diprediksi, dan dampaknya terhadap sektor perkebunan sangat besar. Oleh karena itu, kami mengembangkan solusi berbasis genetik untuk menciptakan bibit sawit yang lebih tahan terhadap kekeringan,” ujar Reni Subawati, peneliti dari SMART Research Institute.

SMART Research Institute memanfaatkan metode seleksi tanaman berbasis Drought Factor Index (DFI) bekerjasama dengan CIRAD. Metode ini dipakai untuk menentukan apakah bahan tanaman itu toleran atau sensitif terhadap iklim kering.

"Pengembangan metode banyak belajar dari CIRAD semenjak 2012. Belajar fisiologi lalu metabolisme dalam tanaman. Selanjutnya kami kembangkan metode lebih lanjut untuk screening planting material tahan kekeringan. Screening itu berdasarkan aspek fisiologi Chlorophyll Fluorescence," urainya di sela-sela ICOPE 2025, Kamis (13 Februari 2025).

Selanjutnya, dikatakan Reni, teknik Chlorophyll Fluorescence menjadi alat untuk penghitungan Drought Factor Index yang dapat menentukan tanaman toleran atau sensitif terhadap kekeringan.

SMARTRI sangat konsisten dalam mencari metode yang tepat untuk mendapatkan material bahan tanaman yang toleran terhadap kekeringan.

"Basic awalnya fotosintesis lalu kami gunakan lagi parameter lain. Tetapi kemudian parameter tadi relatif lama untuk dipakai men-screening material tanaman dalam jumlah banyak. Karena itulah, kami pakai Drought Factor Index tadi," ujarnya.

Reni menjelaskan implementasi dari metode DFI ini mulai berjalan semenjak 2019. Metodei ini telah menseleksi 1.400 progeni dari 113 famili bibit sawit. Dari hasil penelitian tersebut, ditemukan 14 kandidat varietas toleran, dengan dua varietas unggulan yakni SD14 dan SD63.

Hasil uji lapangan di Kalimantan Selatan menunjukkan bahwa kedua varietas ini mampu menjaga tingkat produksi lebih baik dibandingkan varietas konvensional. Pada kondisi kekeringan ekstrem seperti yang terjadi pada 2014 dan 2015, SD14 mampu meningkatkan hasil produksi 14-22%, sementara SD63 meningkatkan hasil panen 13-27% dibandingkan tanaman sawit yang lebih sensitif terhadap kekeringan.

Meski demikian, varietas ini tidak sepenuhnya tahan terhadap kekeringan. Reni menjelaskan bahwa SD14 dan SD63 dikategorikan sebagai varietas dengan toleransi sedang (intermediate tolerant), yang berarti bahwa meskipun tetap mengalami penurunan produksi saat kekeringan, angkanya jauh lebih rendah dibandingkan varietas biasa.

“Kami tidak bisa menjanjikan varietas yang 100% tahan kekeringan. Namun, dengan menggunakan varietas ini, penurunan hasil produksi akibat kekeringan dapat ditekan secara signifikan,” jelasnya.

Saat ini, SD14 telah menjalani sidang pelepasan varietas dan mendapat rekomendasi dari Tim Penilai Pelepasan Varietas (TPPV). Proses administrasi final masih berlangsung, dan diharapkan varietas ini segera mendapat persetujuan resmi dalam waktu dekat.

Selain memberikan solusi bagi perkebunan sawit yang terdampak kekeringan, penelitian ini juga menjadi langkah penting dalam menjaga stabilitas ekonomi industri kelapa sawit nasional. Dengan penurunan hasil panen yang lebih terkendali, potensi kehilangan pendapatan akibat kekeringan dapat ditekan secara signifikan.

“Ke depan, kami berharap lebih banyak pihak yang dapat mengadopsi teknologi ini agar dampak kekeringan terhadap industri sawit dapat diminimalkan. Dengan inovasi berbasis sains, kita bisa menghadapi tantangan perubahan iklim dengan lebih baik,” beber Reni.

Artikel Terkait