• Jumat, 9 Oktober 2026
Kinerja

Industri Sawit Siapkan Strategi Mitigasi Hadapi Kemarau Panjang

Musim kemarau diprediksi datang lebih awal dan bersifat panjang. Strategi mitigasi perlu dilakukan sejak kuartal pertama agar tanaman lebih siap dan mencegah terjadinya potensi kebakaran di kebun.

Sekjen GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia), Hadi Sugeng, mewanti-wanti perusahaan sawit agar menyiapkan langkah mitigas untuk menghadapi kemarau panjang. Sebagaimana terjadi di tahun-tahun sebelumnya, musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih berat dan berkepanjangan sehingga mengganggu produksi sawit.

“Jujur kami khawatir produksi sawit tahun 2026 paling bagus naik lima persen, bahkan bisa satu sampai dua persen saja,” ujar Hadi dalam kegiatan GAPKI pada pertengahan Maret 2026.

Merujuk data GAPKI, Produksi tahun 2025 mengalami pertumbuhan 7,2% menjadi 56,5 juta ton dibandingkan yoy tahun 2024 yang sebesar 52 juta ton.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prediksi iklim kemarau di tahun 2026 yang menunjukkan sinyal kuat terjadinya musim kemarau lebih awal dan lebih kering di provinsi sentra sawit di Indonesia.

“Fenomena El Niño kategori lemah hingga moderat diprediksi akan muncul pada semester kedua tahun 2026, yang berpotensi memberikan dampak risiko bagi perkebunan di wilayah strategis,” ujar Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Dr. Ardhasena Sopaheluwakan dalam Ngobrol Bareng GAPKI yang bertemakan “Prediksi Kemarau 2026 dan Dampaknya Bagi Industri Sawit”, pada pertengahan April 2026.

Ardhasena mengatakan sekitar 46,5% wilayah Zona Musim (ZOM) Indonesia akan memasuki musim kemarau lebih awal dari normalnya yang dimulai pada periode April-Mei 2026.

“Sebanyak 57,2% wilayah diprediksi akan mengalami durasi kemarau yang lebih panjang, dengan puncak musim kering diperkirakan jatuh pada bulan Agustus mendatang,” ungkapnya mengutip laporan tersebut.

Adanya potensi kemarau lebih panjang menjadi tantangan serius bagi produktivitas sawit yang bergantung pada stabilitas curah hujan. Dalam presentasinya, Ardhasena mengutip Laporan BMKG yang menyoroti dampak kemarau panjang di wilayah sentra sawit.

Di wilayah Sumatera (Riau, Jambi, Sumsel, Aceh) di mana kemarau akan datang lebih awal di Mei-Juni. Dominasi lahan gambut di wilayah ini menjadikannya sangat rawan terhadap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

Sedangkan, Kalimantan (Kalteng, Kalbar, Kaltim, Kalsel) akan terjadi puncak kering pada Juli-September. BMKG memperingatkan potensi risiko karhutla ekstrem dan penyusutan sungai yang dapat menghambat transportasi logistik TBS dan CPO. Kalteng dan Kalbar rentan terhadap resiko tinggi iklim kering karena lahannya mayoritas gambut.

Ardhasena mengatakan dengan iklim yang “Terlalu Kering” (curah hujan < 150 mm/bulan) akan berdampak terhadap tanaman sawit seperti gangguan fotosintesis, aborsi bunga, dan penurunan hasil panen apabila setelah defisit air memuncak

Selanjutnya, ada 5 langkah mitigasi yang dapat dijalankan pelaku industri sawit. Pertama, penguatan tata kelola air melalui pembangunan embung dan sistem drainase terkontrol untuk menjaga kelembaban tanah, terutama di lahan gambut.

Kedua, pemanfaatan teknologi dengan mengadopsi teknologi prediksi cuaca mikro-klimat untuk menyesuaikan jadwal pemupukan dan panen.

Ketiga, melakukan efisiensi pupuk melalui optimalisasi penggunaan pupuk organik dari limbah sawit (tandan kosong dan POME).

Keempat, membangun sinergi lintas sektor dengan penguatankerjasama antar lembaga dalam mitigasi bencana iklim.

Kelima, Implementasi Climate Smart Agriculture Perkebunan Sawit karena kunci kesuksesan di masa depan terletak pada kemampuan untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada ekstensifikasi lahan dan fokus sepenuhnya pada peningkatan produktivitas yang cerdas iklim (climate-smart agriculture).

BMKG menegaskan bahwa kunci kesuksesan industri sawit di masa depan tidak lagi terletak pada perluasan lahan, melainkan pada peningkatan produktivitas yang cerdas iklim (climate-smart agriculture) guna meminimalkan kerugian akibat anomali cuaca.

Sementara itu, Plt Direktur Jenderal Perkebunan Kementan Abdul Roni Angkat menilai pengelolaan kebun yang adaptif menjadi kunci utama.

“Konservasi tanah dan air serta pemanfaatan informasi iklim menjadi kunci agar perkebunan tetap produktif di tengah kemarau,” ujar Abdul. Dia menyampaikan pemerintah mengembangkan demplot mitigasi dan adaptasi iklim, berupa kebun percontohan untuk melatih pekebun menerapkan teknik hemat air, pengelolaan kebun saat kemarau, hingga pemanfaatan limbah menjadi pupuk organik. Di samping itu, sambung dia, penguatan tata kelola air juga dilakukan, termasuk di lahan gambut melalui pembangunan sekat kanal untuk menjaga kelembapan tanah.

Selain itu, program Pembukaan Lahan Tanpa Membakar (PLTB) terus digencarkan untuk mencegah kebakaran lahan saat musim kemarau. Abdul menambahkan, kesiapsiagaan di lapangan diperkuat melalui pembentukan Brigade Pengendalian Kebakaran Lahan dan Kebun (Karlabun) serta Kelompok Tani Peduli Api.

Di tingkat pekebun, Kementan mengimbau agar pekebun melakukan langkah adaptif, seperti penggunaan pupuk organik, efisiensi pemupukan, pemantauan tanaman rutin, hingga teknologi konservasi air seperti rorak dan biopori untuk menyimpan cadangan air.

Strategi Mitigasi Kemarau

Pakar iklim dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Dr. Nuzul Hijri Darlan, memperingatkan adanya ancaman kemarau panjang yang diprediksi akan menekan produktivitas nasional secara signifikan. Dampak El Niño yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya telah terbukti menurunkan produksi antara 6% hingga 60%. Untuk proyeksi jangka panjang tahun 2025-2026, penurunan produksi diperkirakan berada di angka 5-10% akibat cekaman kekeringan yang berkelanjutan.

“Tanaman akan mengalami cekaman kekeringan hebat jika hari tanpa hujan (dry spell) melebihi 20 hari atau terjadi defisit air lebih dari 200 mm per tahun,” jelas Dr. Nuzul. Kondisi ini memicu gangguan fisiologis pada pohon, seperti aborsi bunga betina dan peningkatan bunga jantan, yang secara langsung mengurangi jumlah tandan yang bisa dipanen.

Dalam presentasinya, Nurul Hijri memberikan strategi mitigasi untuk benar-benar siap menghadapi kemarau panjang. Pertama, langkah preventif sebelum kemarau melalui penerapan konservasi tanah dan air dengan pembangunan rorak untuk menjaga kelembapan tanah lebih lama.

Kedua, penerapan manajemen limbah dengan penyusunan serasah dan bekas tunasan pelepah di rorak atau area tegak lurus kontur sebagai penahan erosi dan sumber hara. Ketiga, melakukan percepatan pemupukan dengan menyelesaikan jadwal pemupukan di semester pertama sebelum kemarau tiba, khususnya pupuk Kalium (MOP), agar tanaman lebih toleran terhadap kekurangan air.

Kendati demikian, dijelaskan Nurul, bahwa musim kemarau juga dapat dimanfaatkaan bagi pelaksanaan kegiatan lain untuk perawatan kebun. Pertama, melakukan perawatan infrastruktur bagi perbaikan jalan dan jembatan

Kedua, melakukan pembersihan saluran drainase di lahan gambut untuk memperbaiki sirkulasi air dan mencuci asam organic. Ketiga, peluang untuk pengendalian hama dan penyakit karena tingginya kondisi suhu dan kelembapan rendah yang secara alami mengurangi populasi hama.Keempat, menerapkan penyederhanaan kegiatan kultur teknis selama musim kemarau, sebaiknya tidak dilakukan penunasan, pemupukan, penyiangan penutup tanah, sehingga penggunaan tenaga kerja lebih efisien.

Artikel Terkait