• Rabu, 30 September 2026
Berita Terbaru

Indonesia Perkuat kerjasama Dagang dengan Kenya dan Uganda

Jakarta, Sawit Indonesia - Indonesia terus berupaya untuk memperkuat kerja sama perdagangan dengan Kenya, Uganda, dan Somalia. Saat ini, sektor perdagangan Indonesia baik dan stabil untuk meningkatkan kerja sama perdagangan dengan ketiga negara dari Afrika Timur tersebut.Hal ini disampaikan Direktur Pengembangan Pasar dan Informasi Ekspor (PPIE) Arief Wibisono dalam Forum Bisnis Indonesia – Nairobi yang diselenggarakan di Indonesia Convention Exhibiton (ICE), Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang, Banten pada Jumat, (11/10).

Forum ini diselenggarakan di sela - sela gelaran Trade Expo Indonesia (TEI) ke-39 dengan dihadiri 50 peserta yang terdiri dari buyer dan ekshibitor. Turut hadir Duta Besar RI untuk Nairobi M. Hery Saripudin, Atase Perdagangan Kedutaan Besar Kenya di Jakarta Maurine Abungu, Konsul Kehormatan RI di Uganda Paresh Shukla, Insinyur Senior Kementerian Pertanian, Peternakan, dan Perikanan Uganda Ochan Jolly Joe, dan Direktur Jenderal Badan Promosi Ekspor Nasional (National Agency for Exports Promotion/ANAPEX) Mike Tambwe Lubemba.

“Sektor perdagangan Indonesia baik dan stabil untuk memperkuat kerja sama perdagangan dengan Kenya, Uganda, dan Somalia. Data yang kami miliki pun mencatat, Indonesia mampu mempertahankan surplus neraca perdagangan sebesar USD 546 juta dengan ketiga negara tersebut. Surplus ini menunjukkan keunggulan Indonesia di sektor-sektor ekspor utamanya,” ujar Arief.

Lebih lanjut, Arief menyatakan, hubungan perdagangan antara Indonesia dengan Kenya, Uganda, dan Somalia menunjukkan tren positif selama lima tahun terakhir. Hal itu dibuktikan dengan peningkatan transaksi perdagangan antara Indonesia dengan negara - negara tersebut sebesar 13,5 persen. Dengan begitu, kerja sama perdagangan antar negara mengalami peningkatan dan memiliki potensi berkelanjutan.

Arief menambahkan, seluruh perdagangan yang dijalankan antara Indonesia dengan Kenya, Uganda, dan Somalia berasal dari sektor nonmigas dan nongas alam. Hal ini menunjukkan perdagangan bilateral antara Indonesia dengan ketiga negara tersebut berfokus pada produk - produk manufaktur, pertanian, dan komoditas nonenergi lainnya. Dengan demikian, seluruh negara mitra Indonesia ini diharapkan dapat melanjutkan kerja sama serta meningkatkan hubungan dagang dan investasi dengan Indonesia.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, ekspor Indonesia ke Kenya, Uganda, dan Somalia pada 2023 mengalami penurunan sebesar 2,11 persen dibandingkan pada tahun sebelumnya. “Penurunan ini dipengaruhi faktor ekonomi global, gangguan rantai pasokan, dan pergeseran permintaan,” ungkap Arief.

Sementara itu, impor dari Kenya, Uganda, dan Somalia ke Indonesia pada 2023 mengalami penurunan sebesar 15,22 persen dibandingkan pada 2022. Meskipun mengalami fluktuasi, neraca perdagangan antara Indonesia dan ketiga negara ini masih menguntungkan bagi Indonesia.

Arief menyatakan, produk ekspor utama Indonesia ke Kenya, Uganda, dan Somalia meliputi minyak sawit, minyak asam, kain, dan sabun batangan. Di sisi lain, produk impor utama negara - negara tersebut ke Indonesia adalah biji kakao, kacang hijau, teh hitam, poliester, katun, dan reptil.

Selanjutnya, Arief mengutarakan, Kenya tengah menjajaki peluang untuk berkolaborasi dalam inisiatif energi terbarukan dengan Indonesia. Sektor ini memiliki potensi investasi yang besar. Hal itu didukung dengan dorongan global menuju keberlanjutan dan pengurangan jejak karbon. Kolaborasi tersebut dapat melibatkan bidang - bidang seperti tenaga surya, energi angin, dan proyek panas bumi dengan memanfaatkan sumber daya alam (SDA) Kenya dan keahlian teknologi Indonesia.

“Indonesia--Kenya juga sedang berupaya untuk membentuk Perjanjian Perdagangan Preferensial (Preferential Trade Agreement/PTA). Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi tarif dan hambatan perdagangan pada barang dan jasa tertentu sehingga memudahkan bisnis untuk beroperasi lintas batas.Perjanjian ini akan memperkuat hubungan perdagangan, mendorong investasi, dan membuka peluang baru bagi bisnis di kedua negara,” terang Arief.

Sumber: kemendag.go.id

Artikel Terkait