Jakarta, SAWIT INDONESIA - Perjalanan panjang Indonesia dalam merintis kemandirian energi berbasis sawit kini berada di ambang babak baru. Implementasi program mandatori biodiesel hingga tahap B50 dinilai menjadi fondasi krusial sekaligus modal besar bagi pembangunan ekosistem transisi energi nasional dalam menekan laju perubahan iklim.
Anggota Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, mengungkapkan bahwa esensi utama dari transisi energi adalah komitmen nyata dalam mereduksi emisi dan jejak karbon. Hal tersebut disampaikannya dalam peluncuran buku Transisi Energi di Kampus Universitas Sahid, Jakarta, Jumat (4/9/2026).
"Ketika kita berbicara tentang transisi energi, ternyata ada lagi ruang lingkup dan spektrum yang harus kita perhatikan, yaitu perubahan iklim. Semangat daripada transisi energi ini adalah bagaimana kita ingin mengurangi emisi dan karbon," ujar Bambang.
Ia juga menyoroti cepatnya dinamika kebijakan energi di Tanah Air. Saat naskah buku tersebut mulai disusun, Indonesia masih mengandalkan mandatori B40, sebelum akhirnya pemerintah secara progresif meluncurkan program B50 pada Juli 2026.
Kebakaran semangat hilirisasi ini merupakan kelanjutan dari evolusi biodiesel nasional yang dirintis secara konsisten sejak 2008 melalui berbagai fase, mulai dari B20, B30, B35, hingga B40. Pada level B50 saat ini, bahan bakar nabati tersebut memadukan komposisi 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit dengan 50 persen solar.
Dongkrak Devisa dan Tekan Emisi Masif
Pemerintah memproyeksikan program strategis B50 mampu mendatangkan multiplier effect yang luar biasa bagi perekonomian dan lingkungan. Implementasi penuh ini dihitung dapat menghemat devisa negara hingga Rp170 triliun, menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja baru, serta mereduksi emisi karbon dioksida hingga 44,46 juta ton.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat progres positif di lapangan. Hingga akhir Agustus 2026, realisasi penyaluran B50 secara nasional telah menembus kisaran 75 hingga 80 persen.
Pertamina Pastikan Infrastruktur Aman Tanpa Kendala
Dari sisi kesiapan operasional, PT Pertamina (Persero) memastikan seluruh jaringan infrastruktur distribusi telah siap sepenuhnya menyambut era baru energi hijau ini. Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyatakan bahwa cakupan kesiapan penyaluran nasional bahkan telah melampaui 90 persen pada awal September 2026.
“Untuk B50 kami dari Pertamina secara infrastruktur siap untuk menyalurkannya. Hingga akhir Agustus 2026 untuk penyaluran secara nasional telah mencapai sekitar 80 persen,” jelas Baron.
Dengan progres yang masif ini, Kementerian ESDM bersama Pertamina optimistis distribusi B50 akan mencapai 100 persen di seluruh stasiun pengisian bahan bakar secara nasional pada 1 Oktober 2026. Langkah tegas ini sekaligus memperkokoh posisi Indonesia sebagai salah satu pelopor global dalam pemanfaatan energi terbarukan berbasis komoditas domestik yang berkelanjutan.
Sumber: esgnow.republika.co.id














