Dorongan hilirisasi kelapa sawit untuk memenuhi kebutuhan pangan dan energi menghadapi satu persoalan mendasar: ketersediaan bahan baku yang kompetitif. Saat ini, tantangannya bagaimana meningkatkan produktivitas kebun yang sudah ada.
Direktur Pusat Sains Kelapa Sawit INSTIPER Dr. Ir. Purwadi melihat tantangan industri sawit dari perspektif yang lebih panjang. Indonesia memang masih menjadi pemain utama dunia.
“Harus diketahui, Indonesia adalah juara dunia, baik area maupun produksi,” ujar Purwadi yang hadir secara daring.
Namun, status tersebut tidak otomatis menjamin daya saing sawit Indonesia pada masa mendatang.“Tapi sampai kapan kejayaan ini berlangsung?” katanya.
Menurut Purwadi, keberlanjutan industri sawit pada akhirnya bergantung pada daya saing. Industri berbasis biomassa selama ini berkembang karena ditopang sumber daya yang relatif murah dan melimpah.
“Kalau melihat sejarah, industri berbasis biomassa selalu dibangun oleh kelimpahan sumber daya murah di lahan, tenaga kerja, dan agroprimernya,” ujar Purwadi.
Kondisi tersebut, menurut dia, mulai berubah.
“Dulu lahan murah, sekarang mahal. Regulasi mahal. Tenaga kerja dulu melimpah, sekarang lebih susah. Lalu perubahan iklim memengaruhi ke depan,” katanya.
Karena itu, industri sawit perlu mulai berpikir bahwa kelimpahan sumber daya murah tidak akan berlangsung selamanya.
“Kita memasuki keterbatasan sumber daya murah, lahan, tenaga kerja, dan barangkali agroprimer,” ujar Purwadi.
Sebagai gantinya, industri perlu memanfaatkan kelimpahan baru berupa teknologi dan SDM.
“Kita harus menggeser kurva kita. Kita sekarang ada kelimpahan teknologi. Teknologi berubah cepat dan harganya lebih murah tersedia. Kelimpahan juga tersedia di SDM,” katanya.
Menurut Purwadi, otomatisasi, mekanisasi, digitalisasi, dan kecerdasan buatan harus mulai menjadi bagian dari sistem produksi perkebunan.
Namun, penerapan teknologi tidak boleh hanya berorientasi pada pengurangan tenaga kerja.
“Kita masih sering melihat mekanisasi itu adalah substitusi SDM. Kalau mekanisasi sebagai substitusi SDM, pasti akan gagal,” kata Purwadi.
Ia menekankan bahwa teknologi seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan efektivitas proses produksi.
Menurut Purwadi, perusahaan perlu menyiapkan SDM dan budaya kerja sebelum teknologi diterapkan secara luas.
“Tanpa itu beberapa perusahaan gagal, termasuk membangun mekanisasi di kebun. Apakah sudah baik SDM kita, lalu budaya? Sebagian besar dari kita baru mencoba-coba, wait and see,” katanya.
PalmCo Mampu Kompetitif
Direktur Sumber Daya Manusia dan Teknologi Informasi PTPN IV PalmCo Suhendri mengatakan, perusahaan masih memiliki pekerjaan besar di sektor hulu. PalmCo saat ini mengelola sekitar 572.000 hektar areal sawit yang tersebar dari Aceh hingga Sulawesi.
“PalmCo seluas 572 ribu hektare mengelola tanaman sawit. PTPN IV sendiri mengelola areal lebih dari 600 ribu hektare secara keseluruhan, termasuk tanaman lainnya. Memang cukup besar,” ujar Suhendri dalam diskusi bertema “Strategi Hilirisasi untuk Ketahanan Pangan dan Energi” dalam Sawit Indonesia Expo and Conference (SIEXPO) 2026 di Pekanbaru, Riau, Kamis (6 Agustus 2026).
Dari areal sawit tersebut, PalmCo menghasilkan sekitar 2,7 juta ton CPO per tahun. Produktivitas rata-ratanya sekitar 4,71 ton CPO per hektar. Namun, angka tersebut menyembunyikan kesenjangan produktivitas antarkebun.
“Ada yang 5,5 ton, ada yang 3,5 ton. Itulah disparitas di kami dan itu menjadi pekerjaan rumah kami,” kata Suhendri.
Persoalan produktivitas tersebut berkaitan pula dengan struktur umur tanaman. Rata-rata umur tanaman PalmCo saat ini
sekitar 15 tahun, sedangkan umur ideal tanaman berada pada kisaran 13-14 tahun.
Komposisi tanaman PalmCo terdiri atas tanaman muda 14 persen, tanaman remaja 19 persen, tanaman dewasa 45 persen, tanaman tua 18 persen, dan tanaman renta sekitar 1,9 persen.“Ini merupakan PR besar buat kami,” ujar Suhendri.
PalmCo berdiri pada akhir 2023 sebagai bagian dari restrukturisasi entitas perkebunan PTPN. Saat ini, perusahaan memiliki total aset sekitar Rp76 triliun dan membukukan laba lebih dari Rp7 triliun, dengan tingkat pengembalian atau return sekitar 9,2 persen.
Namun, menurut Suhendri, capaian tersebut harus diikuti dengan pembenahan produktivitas. Sebab, agenda hilirisasi akan membutuhkan pasokan bahan baku yang semakin besar dan konsisten.
“Kita melihat kita punya PR. Di hilirnya ingin membagi porsi untuk energi, untuk B50, dan ingin mengekspor untuk menciptakan nilai tambah. Tapi di hulu meningkatkan produktivitas CPO,” katanya.
Suhendri mengatakan PalmCo tidak bisa hanya mengandalkan penambahan areal untuk meningkatkan produksi. Potensi peningkatan produktivitas dari kebun yang sudah dimiliki masih cukup besar.
Untuk mengejar potensi tersebut, PalmCo melakukan sejumlah pendekatan, mulai dari peningkatan kompetensi SDM, penggunaan bibit unggul, pemupukan, hingga mekanisasi.
“Kami lagi mengusahakan disparitas itu. Ada pendidikan SDM, bibit unggul, pupuk, dan mekanisasi,” kata Suhendri.
Perbedaan kondisi kebun menjadi tantangan tersendiri. Menurut dia, tidak semua kebun PTPN memiliki kondisi yang sama sehingga strategi peningkatan produktivitas harus disesuaikan dengan karakter masing-masing kebun.
Suhendri mengatakan terdapat tiga PTPN yang menyumbang sekitar 75 persen dari total aset dan menunjukkan kinerja terbaik.
“Itu kinerjanya best of three. Itu bisa lebih baik dibanding perusahaan-perusahaan Malaysia,” katanya.
Persoalan lainnya adalah meningkatnya biaya input. Harga pupuk, bahan bakar minyak, dan upah tenaga kerja menjadi bagian dari biaya yang menentukan harga pokok produksi.
“Kondisi bisnis sawit itu berat juga. Bahan baku pupuk, bahan bakar minyak juga meningkat dan harga upah meningkat. Itu harga input yang membentuk HPP penjualan kita,” ujar Suhendri.
Karena itu, menurut dia, peningkatan produksi harus tetap memperhatikan margin bisnis.
“Kalau ingin meningkatkan produksi, bagaimana menciptakan bisnis kita membuat margin? Supaya ada semangat meningkatkan,” katanya.
Penguatan sektor hulu tersebut berjalan bersamaan dengan agenda hilirisasi. PalmCo menargetkan produksi olein dengan kapasitas sekitar satu juta ton per tahun.
“Kita menargetkan dalam waktu dekat bisa menghasilkan olein dengan kapasitas satu juta ton per tahun,” kata Suhendri.
PalmCo saat ini memiliki dua pabrik minyak goreng. Fasilitas tersebut belum beroperasi secara maksimal, tetapi memiliki kapasitas yang dapat mendukung target produksi olein.
“Sebenarnya sudah ada dua pabrik minyak goreng, tetapi belum beroperasi maksimal. Sebenarnya bisa mencukupi satu juta olein per tahun,” ujarnya.
PalmCo juga memiliki kapasitas produksi FAME sekitar 400.000 ton per tahun dan refined glycerin sekitar 40.000 ton per tahun.
“FAME kita punya kapasitas produksi 400 ribu ton per tahun, refined glycerin 40 ribu ton per tahun,” kata Suhendri.
Pengembangan produk turunan lainnya juga disiapkan. PalmCo tengah mengkaji produksi shortening atau bahan pengembang berbasis CPO serta cocoa butter substitute yang dapat digunakan sebagai bahan baku alternatif dalam industri cokelat.
“Kita juga bisa menghasilkan cocoa butter substitute, jadi cokelat bisa diganti dengan CPO,” ujarnya.
PalmCo menargetkan pembangunan fasilitas cocoa butter substitute dengan kapasitas sekitar 21.000 ton per tahun. Saat ini, proyek tersebut masih berada pada tahap finalisasi.
“Kita berharap punya pabrik yang bisa menghasilkan 21 ribu ton per tahun. Saat ini masih tahap finalisasi,” kata Suhendri.
Untuk produk shortening, pengembangan juga masih berada dalam tahap kajian dan finalisasi bersama Danantara. Produk tersebut diharapkan mulai dikembangkan pada 2028.
“Ini masih tahap finalisasi, kajian Danantara, dan diharap mulai 2028,” ujarnya.
PalmCo membagi tahapan pengembangan hilirisasi dalam beberapa periode. Pada 2026-2027, perusahaan akan berfokus
pada optimalisasi fasilitas yang sudah ada. Pada 2028-2029, produk hilir ditargetkan masuk tahap komersialisasi, kemudian dilakukan peningkatan skala produksi pada 2030.
“Di 2026-2027 PalmCo menargetkan optimalisasi hilirisasi sawit. Di 2028-2029 komersialisasi hilirisasi sawit. 2030 bisa scale up produk hilir sawit,” kata Suhendri.
Salah satu pusat pengembangan hilirisasi berada di Sei Mangkei, Sumatera Utara. PalmCo memiliki refinery dan pabrik minyak goreng di kawasan tersebut dengan kapasitas sekitar 1,2 juta ton.














