Jakarta, SAWIT INDONESIA – Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) menilai pemulihan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani masih berlangsung lambat meskipun harga crude palm oil (CPO) kembali memiliki acuan dan menunjukkan tren penguatan.
Ketua Umum APKASINDO, Dr. Gulat Medali Emas Manurung, mengatakan hasil pemantauan organisasi tersebut di 25 Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) APKASINDO menunjukkan kenaikan harga TBS sejak 29 Mei 2026 masih belum signifikan.
Menurut Gulat, anjloknya harga TBS dalam beberapa pekan terakhir telah berdampak luas terhadap perekonomian daerah penghasil sawit.
"Turunnya harga TBS membuat pemerintah daerah di 168 kabupaten dan kota penghasil sawit menghadapi tekanan karena masyarakatnya terdampak, mulai dari kategori sedang hingga berat. Kondisi ini menjadi catatan penting bagi para pengambil kebijakan dan pemangku kepentingan sawit bahwa ekonomi sawit sangat sensitif. Sebanyak 42 persen perkebunan sawit Indonesia dikelola oleh petani dengan melibatkan sekitar 17 juta petani dan pekerja sawit. Kondisinya berbeda dengan sektor pertambangan yang mayoritas dikelola korporasi," ujar Gulat, Kamis (4/6/2026).
Berdasarkan hasil pemantauan APKASINDO, kenaikan harga TBS di Sumatra hanya berkisar Rp100-Rp500 per kilogram (kg), Kalimantan Rp50-Rp400 per kg, Sulawesi Rp50-Rp200 per kg, dan Papua rata-rata sekitar Rp200 per kg.
"Kenaikan tersebut masih sangat jauh dibandingkan penurunan harga TBS yang sebelumnya mencapai Rp800 hingga Rp1.600 per kilogram sebelum 20 Mei 2026," katanya.
Gulat menegaskan petani sawit tidak menuntut harga TBS pada level tertentu, tetapi menginginkan harga yang mencerminkan kondisi pasar CPO yang sebenarnya.
"Kami tidak memaksa harga TBS harus berada pada angka tertentu. Yang kami minta adalah harga TBS petani, khususnya petani swadaya, disesuaikan dengan harga CPO yang berlaku. Apalagi harga CPO global saat ini sedang naik. Pada 29 Mei lalu, harga CPO di Bursa Rotterdam mencapai sekitar Rp25.560 per kilogram dan Bursa Malaysia sekitar Rp20.159 per kilogram. Namun harga CPO di Tender KPBN dan Bursa CPO ICDX hanya berada di kisaran Rp14.896-Rp15.445 per kilogram pada hari yang sama," ujarnya.
Menurut dia, dengan harga CPO sekitar Rp15.000 per kilogram, harga TBS petani swadaya seharusnya sudah berada di atas Rp3.250 per kilogram. Namun, secara umum harga TBS di lapangan masih berkisar Rp2.000-Rp2.500 per kilogram.
Meski demikian, Gulat mengapresiasi sejumlah daerah yang berhasil menjaga harga TBS petani. Salah satunya Kabupaten Siak, Riau, yang harga TBS petani swadayanya berada pada kisaran Rp3.500-Rp3.800 per kilogram.
"Itu berkat upaya keras pemerintah daerah dan kerja sama yang baik antara bupati dengan perusahaan-perusahaan sawit di wilayah tersebut. Kondisi seperti ini patut diapresiasi," katanya.
Gulat menjelaskan gejolak harga TBS mulai terjadi setelah pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai rencana pembentukan tata kelola ekspor CPO melalui satu pintu. Sehari setelah pidato tersebut, transaksi di Tender KPBN maupun Bursa CPO ICDX sempat tidak berjalan sehingga tidak tersedia rujukan harga CPO yang menjadi acuan pembentukan harga TBS.
Akibatnya, kata dia, sejumlah pabrik kelapa sawit (PKS) menetapkan harga pembelian TBS secara sepihak.
"Di satu sisi kami memahami alasan PKS yang menyebut tidak adanya rujukan harga CPO akibat penghentian sementara transaksi di KPBN. Namun bagi petani sawit, kondisi ini sangat merugikan karena harga TBS langsung jatuh dalam waktu singkat," ujarnya.
Dia menegaskan APKASINDO tidak mempermasalahkan rencana pemerintah membentuk perusahaan yang akan mengelola tata niaga ekspor CPO dan turunannya.
"Tidak ada yang salah dengan rencana pemerintah membentuk PT Daya Sawit Indonesia (DSI) untuk menata ekspor CPO dan produk turunannya. Yang menjadi pertanyaan kami adalah mengapa harga TBS petani langsung anjlok begitu tajam setelah wacana tersebut disampaikan," katanya.
Berdasarkan pengamatan APKASINDO, penurunan harga TBS yang paling tajam umumnya terjadi di PKS yang tidak tergabung dalam kelompok usaha besar.
Karena itu, Gulat berharap perusahaan sawit segera menyesuaikan harga pembelian TBS seiring kembalinya aktivitas perdagangan CPO di KPBN dan ICDX sejak 29 Mei 2026.
"Dengan beroperasinya kembali tender KPBN dan Bursa CPO ICDX, harga CPO sudah kembali terbentuk dan menjadi acuan harga TBS petani. Karena itu, tidak ada lagi alasan bagi PKS untuk membeli TBS petani dengan harga yang terlalu rendah," ujarnya.
Dia juga mengapresiasi langkah Kementerian Pertanian yang telah dua kali menggelar rapat koordinasi dengan para pemangku kepentingan sawit.
"Kementerian Pertanian sudah berada pada jalurnya sebagai rumah bagi seluruh pemangku kepentingan perkebunan. Dua kali rapat telah digelar dan seluruh pihak menyatakan komitmennya. Namun realisasi di lapangan masih jauh dari harapan. Karena itu kami meminta perlindungan harga TBS petani kepada Presiden Prabowo," katanya.
Menurut Gulat, Menteri Pertanian dijadwalkan kembali menggelar rapat bersama seluruh pemangku kepentingan sawit pada 8 Juni 2026 untuk membahas perkembangan harga TBS.
"Rapat ini sangat penting karena akan menentukan arah kebijakan terkait harga TBS petani ke depan. Apalagi Menteri Pertanian telah menyampaikan bahwa kerugian petani sawit akibat anjloknya harga TBS dalam kurun 14 hari mencapai sekitar Rp12 triliun," ujarnya.
APKASINDO berharap seluruh PKS dapat menyesuaikan harga pembelian TBS sebelum rapat tersebut berlangsung. Organisasi itu juga meminta peserta tender CPO di KPBN melakukan penawaran yang mencerminkan kondisi pasar global.
"Jika masih ada PKS yang membandel, kami serahkan kepada pemerintah untuk mengambil langkah yang diperlukan. Yang jelas, kami berharap harga TBS petani kembali mencerminkan harga CPO yang sebenarnya," kata Gulat.
Di sisi lain, dia menegaskan tidak semua perusahaan sawit membeli TBS dengan harga rendah. Menurutnya, masih terdapat sejumlah perusahaan yang membeli TBS petani pada kisaran Rp3.500-Rp3.800 per kilogram.
"Kami menyampaikan apresiasi kepada perusahaan-perusahaan yang tetap membeli TBS dengan harga yang wajar dan masih menunjukkan kepedulian kepada petani sawit," tandasnya.














