JAKARTA, SAWIT INDONESIA - Produksi minyak sawit menurun, ekspansi dibatasi, kini saatnya mengembangkan industrinya. Harga minyak kelapa sawit kian mahal lantaran produksi yang terus turun dan juga dorongan kuat biodiesel. Banyak pihak menilai sudah saatnya melakukan reindustrialisasi dengan hilirisasi sektor pertanian.
Sejak dulu, minyak kelapa sawit dikenal sebagai minyak nabati termurah di dunia. Minyak kelapa sawit menghasilkan lebih dari setengah pengiriman minyak sayur global dan sangat populer di pasar berkembang, terutama di India dan Indonesia sebagai produsen utamanya.
Sayangnya, era minyak sawit murah itu terancam. Dorab Mistry, Direktur India Godrej International, salah satu perusahaan barang konsumen terbesar di India, mengungkapkan, pada November 2022 minyak sawit dijual dengan diskon sebesar 782 dollar AS per ton, lalu turun pada 2024 menjadi 400 dollar AS per ton. Kini, diskon itu terancam hilang.
Ancaman itu kian nyata dengan komitmen Indonesia yang menggunakan minyak sawit lebih banyak untuk kebutuhan membuat biodiesel. ”Hari-hari diskon 400 dollar AS per ton sudah berakhir. Minyak kelapa sawit tidak akan semurah itu lagi selama Indonesia terus memprioritaskan biodiesel,” katanya, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (10/4/2025).
Komitmen biodiesel itu memang diwujudkan Indonesia dengan meningkatkan campuran wajib minyak kelapa sawit dalam biodiesel menjadi 40 persen tahun ini dan bakal meningkat lagi menjadi 50 persen pada tahun 2026, serta campuran 3 persen untuk bahan bakar jet tahun depan. Hal itu dilakukan Pemerintah Indonesia untuk membatasi impor bahan bakar.
Hal itu membuat India, pasar sawit terbesar RI, menaikkan bea masuk impor minyak nabati mentah serta produk turunannya. Pada September 2024, Pemerintah India menaikkan bea masuk dasar komoditas-komoditas tersebut sebesar 20 persen. India menggulirkan kebijakan itu guna melindungi para petani dan industri di dalam negeri. Apalagi negara tersebut telah memiliki peta jalan pengembangan minyak nabati nasional, yakni Misi Nasional Minyak Nabati-Kelapa Sawit (NMEO-OP) 2024-2031.
Melalui program itu, India akan memperluas lahan kelapa sawit dari 1 juta hektar menjadi 6,6 juta hektar. India juga menargetkan produksi CPO nasional meningkat dari 1,13 juta ton menjadi 2,8 juta ton. Dengan begitu, bea masuk CPO, minyak kedelai mentah, dan minyak biji bunga matahari mentah naik dari 5,5 persen menjadi 27,5 persen. Untuk produk turunan ketiga minyak nabati mentah itu, bea masuknya juga naik menjadi 35,75 persen.
Indonesia perlu mengarahkan perubahan kebijakan untuk memulihkan daya saing internasional dan mengurangi ketergantungan utang.
Melihat hal itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono memperkirakan, dorongan biodiesel akan mengurangi ekspor Indonesia menjadi hanya 20 juta metrik ton pada tahun 2030, turun sepertiga dari 29,5 juta pada tahun 2024. Apalagi selama ini produksi kelapa sawit di Indonesia juga lambat, bahkan cenderung menurun.
Di sisi lain, lanjut Eddy, kebutuhan minyak sawit untuk industri terus meningkat, terutama industri pangan. Ia mencontohkan produk margarin yang tidak bisa diganti minyak nabati lain karena bisa memengaruhi kesehatan. Di beberapa negara, seperti AS, terdapat larangan penggunaan nabati lain selain minyak sawit untuk produk makanan.
”Saya meyakini kebutuhan di AS dan negara lain tetap besar. Oleh karena itu, walaupun ekspor turun, seharusnya tidak terlalu besar atau kemungkinan akan stagnan, tetapi tetap kita harus berbuat sesuatu agar pasar kita tidak hilang,” ungkap Eddy.
Reindustrialisasi
Upaya mencegah pasar global tidak hilang, hilirisasi dan pengembangan sektor pertanian itu juga dibahas dalam perayaan ulang tahun ke-80 Bungaran Saragih yang menggelar diskusi publik bertajuk ”Revisit Pemikiran Agribisnis sebagai Dasar Strategi Re-Industrialisasi” di IPB International Convention, Bogor, Jawa Barat, Kamis (17/4/2025).
Salah satu pembicaranya adalah Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti. Menurut dia, pada 2023, permintaan global dan domestik terhadap kelapa sawit mencapai 15,5 miliar dollar AS dan diperkirakan meningkat menjadi 18,8 miliar dollar AS pada 2029. Dibandingkan tambang, kebutuhan investasi perkebunan kelapa sawit jauh lebih kecil, hanya 0,42 miliar dollar AS.
”Untuk itu, Indonesia perlu mengarahkan perubahan kebijakan untuk memulihkan daya saing internasional dan mengurangi ketergantungan utang,” ungkap Esther.
Untuk mengurangi ketergantungan, Indonesia perlu berkonsentrasi pada diversifikasi industri sehingga tidak melulu bergantung pada tambang seperti yang dilakukan selama ini. Sektor pertanian atau agribisnis pun tidak bisa dipandang sebelah mata.
”Nilai tambah sektor pertanian pada 2023 mencapai Rp 1.468 triliun dan seharusnya dapat menghasilkan setidaknya Rp 4.000 triliun ke depan, artinya peluang industrialisasi pertanian masih sangat besar,” ungkap Esther.
Hal serupa juga disampaikan Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung. Menurut dia, selama ini sektor pertanian menjadi penyelamat ekonomi nasional dan juga penyelamat masyarakat. Untuk itu, pendekatan agribisnis dalam re-industrialisasi sangat penting.
”Pemerintah saat ini sedang mengejar pertumbuhan ekonomi 8 persen, swasembada pangan dan energi, jadi ada kebutuhan. Lalu kenapa agribisnis, karena itu yang kita punya. Jadi penopang ekonomi dan penyelamat itu, ya, agribisnis. Jadi perlu dipacu dan diarahkan,” kata Tungkot.
Tungkot mengungkapkan, upaya memacu sektor agribisnis bisa dilakukan dengan industrialisasi di hulu sampai hilir, terutama sawit. Saat ini, pasar di Eropa juga mulai memahami bahwa sawit jauh lebih baik dari segi ekologi, ekonomi, dan sosial dibandingkan minyak nabati lain. ”Sawit produktivitasnya lebih tinggi, penyerapan karbon juga lebih banyak,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Bungaran mengungkapkan, keinginan pemerintah saat ini untuk hilirisasi bisa diwujudkan dengan pendekatan sistem agribisnis, sawit salah satunya. Sayangnya, angan hilirisasi pertanian yang sudah berlangsung lama itu secara agregat masih terlalu dangkal.
”Hilirisasi pertanian masih terlalu dangkal, sawit juga perlu diperdalam lagi. Jika bisa dilakukan, dari sawit saja, kita bisa memperoleh nilai tambah 3-10 kali lipat dibanding sektor lainnya, termasuk tambang,” ungkap Menteri Pertanian Periode 2000-2004 tersebut.
Akhir kata, lanjut Bungaran, reindustrialisasi sektor pertanian merupakan mimpi lama yang kini bisa diwujudkan jika melihat komitmen Presiden Prabowo saat ini. Walakin, ada begitu banyak catatan dan tantangan yang menghadang dan perlu dihadapi.
Sumber: gapki.id














