• Rabu, 30 September 2026
Berita Terbaru

Harga CPO Melesat Tiga Hari Beruntud Tembus 5.015 Ringgit, Dipicu Isu Cuaca Ekstrem hingga Lonjakan Minyak Kedelai

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil / CPO) kembali mencatatkan tren penguatan untuk hari ketiga berturut-turut pada perdagangan Selasa (8/9/2026). Lonjakan harga ini ditopang oleh kombinasi sentimen kekhawatiran terhadap ancaman cuaca yang berpotensi menekan produksi, serta kenaikan harga pada komoditas substitusinya di pasar global.

Berdasarkan data perdagangan di Bursa Malaysia Derivatives Exchange, kontrak CPO paling aktif untuk pengiriman November tercatat naik 0,74% menjadi 5.015 ringgit Malaysia per ton pada pukul 14.58 WIB.

"Pasar bergerak menguat karena kekhawatiran cuaca akibat El Nino yang terus berlanjut, ditambah penguatan harga minyak kedelai," ujar trader proprietary di perusahaan perdagangan berbasis di Kuala Lumpur, Iceberg X Sdn Bhd, David Ng, seperti dikutip Reuters.

Lebih lanjut, ia memetakan level support harga CPO saat ini berada di kisaran 4.900 ringgit, dengan posisi resistance terdekat di level 5.080 ringgit.

Sentimen Minyak Kedelai, Konflik Global, hingga Lonjakan Impor India

Kenaikan harga CPO turut terseret oleh dinamika pasar minyak nabati global. Di Chicago Board of Trade, harga minyak kedelai terpantau meningkat sebesar 0,88%. Sebagai kompetitor utama di pasar global, pergerakan harga minyak kedelai kerap menjadi acuan bagi komoditas sawit.

Selain itu, sentimen positif turut datang dari pasar energi internasional. Harga minyak mentah dunia kembali melanjutkan penguatan seiring meningkatnya eskalasi risiko konflik di Timur Tengah. Ancaman Iran untuk membalas setiap serangan baru Amerika Serikat (AS) memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan rantai pasok energi global. Kenaikan harga minyak mentah berjangka ini secara langsung membuat CPO semakin kompetitif dan menarik sebagai bahan baku alternatif biodiesel.

Dari pergerakan mata uang, ringgit Malaysia yang menjadi instrumen transaksi CPO melemah 0,19% terhadap dolar AS. Depresiasi ringgit ini memberikan keuntungan tersendiri karena membuat harga CPO menjadi sedikit lebih terjangkau bagi pembeli internasional yang memegang mata uang asing.

Kendati demikian, dinamika logistik global turut diwarnai kendala di negara importir besar. Pembelian minyak nabati secara agresif oleh India dilaporkan memicu kemacetan parah di sejumlah pelabuhan utamanya. Berdasarkan keterangan sejumlah pejabat industri kepada Reuters, proses bongkar muat kapal mengalami penundaan hingga 10 hari akibat kapasitas tangki penyimpanan di darat yang mulai penuh, membuat perusahaan pengolah harus bekerja ekstra keras menyerap pasokan yang masuk.

Sumber: idxchannel.com

Artikel Terkait