JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Untuk menambah wawasan dan memberikan pemahaman tata kelola kebun sawit yang lestari sesuai standard yang ditetapkan pemerintah, calon Mandor/Krani dan Operator Mill (mahasiswa Program Diploma 1 AKPY-Stiper) mendapatkan Kuliah Umum pada Sabtu (26 Maret 2022).

Peserta kuliah umum adalah mahasiswa AKPY-Stiper penerima beasiswa dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) – Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerrian Pertanian dan beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP-Kuliah).

Kuliah Umum bertemakan “Mandor : Ujung Tombak/Pemimpin Terdepan di Perkebunan” dengan narasumber Dr. Ir. Haryadi, M.S dari University IPB.

Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY-Stiper), Dr. Ir, Sri Gunawan, M.P, IPU mengutarakan pihaknya ingin lulusan AKPY-Stiper menjadi pemimpin yang menguasai kultur teknis dan tata kelola yang standar sesuai aturan yaitu Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) atau tata kelola kebun sawit yang lestari.

“Nantinya, alumni AKPY-Stiper, harus bisa mengawasi dan mengarahkan karyawan (pekerja) di kebun sesuai standar tata kelola kebun sawit. Sehingga perkebunan yang dikelola tidak terlepas dari People, Profit dan Planet sesuai prinsip dan kriteria ISPO,” imbuh Sri Gunawan, pada Sabtu (26 Maret 2022).

ISPO merupakan standar nasional minyak sawit pertama bagi suatu negara, dan negara lain kini mencoba mempertimbangkan untuk mengimplementasikan standar serupa di antara produsen minyak sawit.

Sesuai dengan Permentan No 38 tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Sertifikasi Perkebunan Sawit Berkelanjutan Indonesia, memiliki tujuan untuk memastikan bahwa prinsip keberlanjutan yang diatur dalam regulasi/kebijakan terkait dapat diterapkan, mendukung pencapaian komitmen iklim Indonesia, serta meningkatkan daya saing sawit Indonesia baik di pasar domestik maupun pasar internasional. 

Ada 7 prinsip yang ditetapkan yakni kepatuhan terhadap peraturan dan perundangan, penerapan praktek perkebunan yang baik, pengelolaan lingkungan hidup, sumber daya alam dan keanekaragaman hayati, tanggung jawab terhadap pekerja, tanggung jawab sosial dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, penerapan transparansi hingga peningkatan usaha berkelanjutan.

Prinsip tersebut diuraikan dalam kriteria dan berbagai indikator. Untuk perusahaan kelapa sawit dari 7 prinsip tersebut terdapat 37 kriteria dan 173 indikator, sementara untuk pekebun ada 21 kriteria dan 33 indikator.

Dr. Ir, Haryadi, M.S, mengatakan pada kesempatan itu, ada dua poin penting yang disampaikan. Pertama, pemahaman ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil), pentingnya pengelolaan perkebunan kelapa sawit yg lestari berkelanjutan dengan memperhatikan beberapa hal seperti Legalitas (lahan dan usaha) harus clear and clean, Bahan tanam (bibit) unggul dan bermutu (bersertifikat), Lokasi sesuai berdasar iklim dan tanah, Pengelolaan ramah lingkungan, pengelolaan dan pemanfaatan limbah, serta Menguntungkan.

Kedua adalah pengenalan Prinsip dan Kriteria ISPO bagi perusahaan dan pekebun (plasma/swadaya).

Selanjutnya, ia menambah respon dan keingintahuan mahasiswa sangat antusias dengan berbagai pertanyaan yang disampaikan.

“Selain itu, kami juga sampaikan bahwa sawit itu anugerah bagi Indonesia yang harus kita syukuri dan lestarikan dengan pengelolaan yang baik dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Share.