• Jumat, 2 Oktober 2026
Berita Terbaru

GAPKI Usulkan Kolaborasi Stakeholders Dalam Pengendalian Ganoderma

Bogor, SAWIT INDONESIA – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mewaspadai serangan Ganoderma Boninense yang dapat menjadi salah satu penyebab laju penurunan produktivitas sawit. Berdasarkan data Kementerian Pertanian RI, produktivitas sawit nasional pada tahun 2023 diperkirakan sekitar 3,69 ton CPO/ha/tahun. Angka ini turun dari tahun 2021 yang mencapai 3,75 ton CPO/ha/tahun.

“Memang belum ada laporan pasti apa penyebab utama penurunan produktivitas tersebut, namun adanya serangan Ganoderma bisa menjadi salah satu penyebab dari penurunan produktifitas,” urai Hadi Sugeng, Sekjen GAPKI saat memberikan sambutan dalam Pertemuan Teknis ke-2 Roundtable Ganoderma Management di Bogor, Selasa (5 Februari 2024).

Hadi menjelaskan bahwa serangan ganoderma boninense yang menyebabkan penyakit busuk pangkal batang pada tanaman kelapa sawit selama ini diyakini bersifat mematikan. Karena apabila terlihat gejalanya pada suatu tanaman, maka tanaman tersebut sudah terlambat untuk disembuhkan dan harus segera dieradikasi untuk menghindari penularan pada tanaman lainnya. Serangan yang menyebar/ ekstrim dan harus dieradikasi, menyebabkan jumlah tegakan tanaman per hektar berkurang, sehingga produktivitas per hektare juga berkurang dan bisa menyebabkan secara komersial perkebunan tersebut tidak layak lagi diusahakan.

Realitas di lapangan, dikatakan Hadi, serangan Ganoderma boninense tidak hanya ditemukan pada tanaman kelapa sawit yang telah direplanting (generasi kedua, ketiga dan seterusnya), melainkan juga ditemukan pada tanaman generasi pertama yang belum pernah replanting.

Saat ini, serangan Ganoderma telah meluas tidak hanya ditemukan di wilayah Sumatera, tetapi juga di Sulawesi dan Kalimantan.

Dari beberapa sumber informasi menyatakan bahwa Ganoderma boninense ini mudah berubah sesuai dengan kondisi lingkungannya, sehingga galur Ganoderma boninense bersifat spesifik lokasi. Hal ini menyebabkan upaya mitigasi yang berhasil di suatu lokasi, belum tentu dapat diimplementasi di lokasi lain yang berbeda kondisi lingkungannya.

Hadi mengatakan di sisi yang lain, Ganoderma boninense juga mahluk ciptaan Tuhan yang di baliknya pasti ada gunanya bagi kehidupan manusia.

“Jadi dalam hal ini saya berpendapat, mind set kita tidaklah untuk memusnahkan spesies Ganoderma boninense ini dari muka bumi, tetapi bagaimana agar Ganoderma boninense tidak merusak atau mematikan tanaman kelapa sawit,” tambah Hadi.

Diakui Hadi, Banyak upaya sudah dilakukan untuk memitigasi penyakit ini mulai dari sanitasi tanah, menggunakan musuh alami, mendeteksi dini infeksi pada tanaman dan merekayasa tanaman yang tahan terhadap ganoderma.

“Namun hasilnya belum memuaskan, sehingga GAPKI mengharapkan pada Pertemuan Tehnis ke-2 “Rountable Ganoderma Meeting” ini muncul pemikiran-pemikiran out of the box dapat menghasilkan rumusan yang komprehensif untuk penanggulangannya,” jelas Hadi.

Dalam upaya menghasilkan rumusan riset yang komprehensif ganoderna, dikatakan Hadi, GAPKI memandang perlunya kolaborasi dengan stakeholder, khususnya peneliti/ akademisi, Lembaga/ perguruan tinggi, pelaku usaha, dan pemerintah menuju industri sawit nasional yang produktif dan berkelanjutan.

Artikel Terkait