• Selasa, 29 September 2026
Berita Terbaru

GAPKI Riau Dukung Perkebunan Sawit Bertransformasi ke Solar System

Pekanbaru, SAWIT INDONESIA - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Riau mendorong pemanfaatan energi terbarukan seperti energi tenaga surya (solar system) di sektor perkebunan sawit untuk menekan biaya operasional sekaligus memperkuat komitmen industri terhadap keberlanjutan.

Ketua GAPKI Cabang Riau Lichwan Hartono mengatakan kebutuhan terhadap sumber energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan semakin mendesak, terutama bagi perkebunan yang beroperasi di wilayah terpencil dan masih mengandalkan energi berbasis diesel.

Hal tersebut disampaikan Lichwan dalam sambutannya pada acara The Plantation Workshop: Future Energy for Sustainable Plantation yang digelar di The ZHM Premiere Hotel & Convention Pekanbaru, Rabu (19 Agustus 2026).

Menurut Lichwan, ketergantungan perkebunan terhadap diesel tidak hanya membuat biaya operasional menjadi tinggi, tetapi juga menghadirkan persoalan dari sisi keandalan pasokan energi dan pencapaian target pengurangan emisi.

"Kita semua memahami bahwa operasional perkebunan, khususnya di wilayah terpencil, masih sangat bergantung pada energi berbasis diesel," kata Lichwan.

Dia menjelaskan, terdapat sejumlah konsekuensi dari ketergantungan tersebut, mulai dari biaya operasional yang tinggi dan tidak stabil, pasokan energi yang belum selalu andal, hingga meningkatnya tekanan terhadap komitmen keberlanjutan dan pengurangan emisi.

Di sisi lain, industri kelapa sawit nasional juga menghadapi tuntutan yang semakin tinggi dari penerapan prinsip environmental, social, and governance (ESG), Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), hingga persyaratan pasar global.
Karena itu, menurut Lichwan, keberlanjutan industri sawit ke depan tidak cukup hanya dilihat dari sisi produksi. Pelaku usaha juga perlu memastikan proses produksi berlangsung secara efisien, bersih, dan berkelanjutan.

"Ke depan kita tidak hanya bicara produksi, tetapi juga bagaimana produksi itu dilakukan secara efisien, bersih, dan berkelanjutan," ujarnya.

Lichwan menilai solusi berbasis energi terbarukan seperti sistem tenaga surya dan microgrid memiliki relevansi yang semakin besar untuk diterapkan di lingkungan perkebunan.

Namun, dia mengingatkan bahwa penggunaan teknologi baru tidak boleh hanya mengikuti tren. Teknologi yang diadopsi harus mampu memberikan manfaat nyata bagi perusahaan perkebunan, baik dari sisi keekonomian maupun operasional.

Menurutnya, terdapat setidaknya tiga pertanyaan yang harus dijawab sebelum perusahaan mengadopsi teknologi energi baru.
Pertama, apakah investasi tersebut layak secara finansial. Kedua, apakah teknologi dapat bekerja secara andal di lapangan. Ketiga, apakah implementasinya mudah dikembangkan atau scalable.

"Adopsi teknologi bukan sekadar tren, tetapi harus memberikan nilai nyata—baik dari sisi keekonomian maupun operasional," tegas Lichwan.

Dia menilai workshop tersebut dapat menjadi ruang untuk mempertemukan kebutuhan riil perusahaan perkebunan dengan perkembangan teknologi energi yang ditawarkan penyedia solusi.

Lichwan berharap forum tersebut tidak berhenti pada diskusi mengenai teknologi, tetapi menghasilkan solusi yang dapat diterapkan langsung di lapangan.

Menurutnya, ada tiga hasil yang diharapkan muncul dari kegiatan tersebut, yakni wawasan yang aplikatif, model implementasi yang realistis, serta peluang untuk menjalankan proyek percontohan atau pilot project.

"Workshop ini menjadi momentum penting untuk menjembatani gap antara teknologi dan kebutuhan lapangan, memberikan data dan studi kasus nyata, serta membuka ruang diskusi yang konstruktif antara pelaku usaha dan penyedia solusi," jelasnya.

Lebih lanjut, Lichwan mengatakan GAPKI terbuka terhadap berbagai inovasi yang dapat memberikan dampak langsung terhadap industri sawit.

Dia menyebut terdapat tiga manfaat utama yang diharapkan dari penerapan inovasi teknologi di perkebunan, yakni meningkatkan efisiensi industri, menurunkan biaya produksi, dan memperkuat daya saing sawit Indonesia di pasar global.

"Sebagai anggota GAPKI, kami sangat terbuka terhadap inovasi yang dapat meningkatkan efisiensi industri, menurunkan biaya produksi, dan memperkuat daya saing sawit Indonesia secara global," katanya.

Narasumber dan Peserta Workshop Fusionsolar 2026 di Pekanbaru, 19 Agustus 2026

Meski demikian, dia menilai penerapan teknologi membutuhkan dukungan ekosistem yang memadai.

Dukungan tersebut tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan teknologi, tetapi juga pembiayaan dan kebijakan yang mendukung.

Menurut Lichwan, sinergi antara pelaku usaha, penyedia teknologi, dan pemangku kebijakan diperlukan agar transformasi energi di sektor perkebunan dapat berlangsung secara realistis dan memberikan manfaat ekonomi.

"Namun tentu, kami juga berharap adanya dukungan ekosistem baik dari sisi teknologi, pembiayaan, maupun kebijakan," pungkasnya.

Artikel Terkait