Jakarta, SAWIT INDONESIA – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) telah membuat estimasi produksi sawit pada 2027 sebagai langkah antisipasi terhadap dampak El Nino yang terjadi di perkebunan tahun ini.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono memperkirakan dampak El Niño terhadap produksi belum terlalu terasa pada tahun ini. Namun, efeknya diperkirakan mulai lebih nyata pada 2027.
“Untuk tahun ini belum terlalu terdampak, tetapi baru tahun depan (2027) produksi bisa turun 4-5 juta ton,” ujar Eddy kepada Majalah Sawit Indonesia, Jumat (28 Agustus 2026).
Dalam presentasinya di ASPEBINDO Bioenergy Business Summit 2026, Eddy Martono menguraikan tren penurunan produksi sawit akibat El Nino sebesar 8,7% menjadi 53,69 juta ton pada 2027, daripada tahun 2026 yang sebesar 58,8 juta ton.
“Selama 24 jam kami terus memantau El Nino karena akan berdampak kepada produksi sawit. Namun apabila produksi tidak terdampak El Nino dapat mencapai 59,5 juta ton pada 2027,” jelasnya.
Dampak El Niño tentu tidak akan merata di seluruh sentra sawit. Wilayah dengan periode tanpa hujan yang panjang dan kondisi kekeringan paling ekstrem akan menjadi kawasan yang paling rentan mengalami penurunan produksi.
Eddy mengatakan tingkat dampak sangat bergantung pada kondisi cuaca di masing-masing sentra produksi.
“Yang paling terdampak adalah daerah yang paling kering, artinya tidak ada hujan sama sekali dan panjang,” katanya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sebagian perkebunan sawit nasional berada di wilayah yang memiliki karakteristik iklim dan tingkat ketersediaan air berbeda-beda.














