Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memproyeksikan produksi sawit Indonesia mencapai 53,6 juta ton pada 2025. Pertumbuhan produksi dikhawatirkan tidak mampu mengimbangi tingginya konsumsi domestik dan ekspor.
“Produksi minyak sawit nasional cenderung stagnan karena usia tanam dengan tingkat produktivitas menurun,” urai Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono dalam konferensi pers di Jakarta, pada 6 Maret 2025.
Eddy Martono mengakui upaya peningkatan produksi menghadapi tantangan luar biasa sebagai contoh kegiatan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Peningkatan capaian PSR terbilang sulit karena persoalan legalitas seperti tumpang tindih dengan kawasan hutan.
Dikatakan Eddy, dengan mempertimbangkan kecenderungan produksi dan konsumsi dalam negeri khususnya kebijakan penggunaan biodiesel serta mempertimbangkan kecenderungan harga serta suplai dan demand minyak nabati dunia.
“Produksi minyak sawit Indonesia diperkirakan mencapai 53,6 juta ton, konsumsi diperkirakan mencapai 26,1 juta ton termasuk untuk biodiesel B40 sebesar 13,6 juta ton. Dengan perkiraan tersebut ekspor diperkirakan akan turun menjadi 27,5 juta ton, lebih rendah dari ekspor tahun 2024 sebesar 29,5 juta ton,”katanya
Sekjen GAPKI Hadi Sugeng menambahkan tren produksi sawit memang lesu karena pengaruh dua faktor. Pertama, produksi sawit mengalami minus 3,8% yoy yang banyak dipengaruhi oleh El Nino tahun lalu yang berdampak terhadap produksi. Faktor kedua adalah tanaman berusia tua yang ikut berkontribusi terhadap penurunan produksi.
“Tantangan berat dihadapi peremajaan sawit di perkebunan rakyat. Kendati demikian, replanting tetap dijalankan di sejumlah perusahaan. Itu sebabnya, produksi tahun ini hanya naik sedikit 1,7 persen. Sedangkan, konsumsi domestik diperkirakan melonjak 18,7%,” ujar Hadi.
Hadi menuturkan ekspor minyak sawit kemungkinan akan kehilangan pasar karena tidak cukupnya pasokan ekspor dan dikhawatirkan akan berlanjut dalam jangka panjang. Perlu dirumuskan strategi peningkatan produksi untuk pemenuhan pangan dan biofuel serta penyelamatan pasar ekspor.
“Ekspor sawit tahun ini diperkirakan minus 6,9% menjadi 27,4 juta ton, dibandingkan tahun 2024 sebanyak 29,5 juta ton,” ungkap Hadi.
Hal tersebut juga didasarkan pada kinerja industri sawit mulai dari produksi, konsumsi hingga ekspor Desember 2024.Tercatat, dari sisi produksi crude palm oil (CPO) bulan Desember 2024 mencapai 3,876 juta ton, lebih rendah 10,55% dibandingkan dengan produksi bulan November 2024 yang mencapai 4.333 ribu ton.
Sedangkan, produksi palm kernel oil (PKO) juga mengalami penurunan yaitu menjadi 361 ribu ton dari 412 ribu ton pada bulan November 2024. Dengan demikian, produksi CPO tahun 2024 mencapai 48.164 ribu ton sedangkan PKO sebesar 4.598 ribu ton. Secara total produksi CPO dan PKO tahun 2024 mencapai 52.762 ribu ton lebih rendah 3,80% dari produksi tahun sebelumnya sebesar 54.844 ribu ton.
Dari sisi konsumsi CPO dan PKO bulan Desember 2024 mencapai 2,187 juta ton, lebih tinggi dari konsumsi bulan November yang mencapai 2.030 ribu ton. Kenaikan konsumsi terjadi untuk pangan, biodiesel dan oleokimia.
Secara total tahun 2024, konsumsi untuk pangan mencapai 10.205 ribu ton, lebih rendah 0,90% dari konsumsi tahun 2023 sebesar 10.298 ribu ton, konsumsi oleokimia 2.207 ribu ton, lebih rendah 2,69% dari 2.268 ribu ton pada tahun 2023. Sedangkan konsumsi untuk biodiesel 11.447 ribu ton, lebih tinggi 7,51% dari 10.647 ribu ton pada 2023, sehingga secara total konsumsi tahun 2024 sebesar 23.859 ributon yang 2,78% lebih tinggi dari konsumsi tahun 2023 sebesar 23.213 ribu ton.
(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 161)














