• Minggu, 27 September 2026
Seremoni

GAPKI Lanjutkan Komitmen Penanaman Mangrove di Kalteng

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) berkomitmen membantu pemerintah dalam penanaman mangrove untuk mendukung iklim dan lingkungan. Salah satunya melalui kegiatan penanamn mangrove di Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, yang telah berjalan semenjak tiga tahun belakangan.

Kerusakan garis pantai menjadi ancaman bagi keseimbangan alam di Kalimantan Tengah (Kalteng). Berdasarkan kajian resiko bencana nasional Kalimantan Tengah, gelombang ekstrem yang muncul akibat siklon tropis ini menimbulkan potensia brasi di Kalteng, salah satunya di Kotawaringin Barat (Kobar) yang disebut memiliki luasan abrasi tertinggi di Kalteng.

“Kabupaten Kobar sangat memerlukan berbagai upaya pencegahan. Hal ini mendesak untuk dilakukan oleh semua pihak,” tegas Pejabat Bupati Kotawaringin Barat, yang diwakili oleh Asisten II Setda Kobar, Kamaludin dalam acara penanaman bakau atau mangrove yang diselenggarakan oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), di Desa Sebuai, Kotawaringin Barat, pada pertengahan September 2024.

Kamaludin menyatakan bahwa Desa Sebuai sangat beruntung terpilih sebagai lokasi penanaman, mengingat keterbatasan anggaran pemerintah dalam penanganan abrasi pantai.

Kegiatan yang merupakan tahap ketiga ini diinisiasi oleh GAPKI bersama dengan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) dan melibatkan Kelompok Tani Talok di Desa Sebuai, Kobar ini dilakukan di atas lahan 20 Hektar dengan menggunakan 55 ribu bibit mangrove.

Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono mengungkapkan sebanyak 88 ribu pohon mangrove berhasil dikelola pada 30 hektar pesisir pantai dalam tiga tahun terakhir. “Keberhasilan pengelolaan mangrove ini ditunjukkan dari tingkat kelangsungan hidup mangrove yang mencapai 90 persen,” ucap Mukti.

Dengan adanya program rehabilitasi di 2024 ini, maka kegiatan yang telah berjalan sejak 2021 tersebut telah menanam lebih dari 140 ribu mangrove di atas 50 hektar lahan. “Kegiatan ini sebagai komitmen GAPKI dalam pelestarian lingkungan yang berkesinambungan,” tegas Mukti.

Lebih lanjut, Iaberharap, kegiatan ini dapat menggugah seluruh pihak akan pentingnya penanganan abrasi. Kepala Desa Sebuai, Tohari menyampaikan program rehabilitasi yang diinisiasi GAPKI bersama dengan Kemenko Marves memberikan dampak panjang yang luar biasa. Menurutnya, bukan hanya mampu menahan abrasi dengan sangat efektif, rehabilitasi mangrove juga menciptakan ekosistem baru bagi biota laut.

“Pergeseran abrasi pantai terus bertambah akibat perubahan iklim, rehabilitasi mangrove menjadi langkah nyata dalam penanganan abrasi. Investasi ini memberikan dampak langsung kepada seluruh lapisan masyarakat dan tentu saja untuk lingkungan, terutama sebagai sumber tumbuh kembangnya ekosistem laut” tegas Tohari.

Baginya, area konservasi mangrove tidak hanya menjaga ekosistem pantai secara berkelanjutan, namun mampu memberikan kehidupan baru bagi tumbuhan dan binatang yang memberikan manfaat dan mata pencaharian baru bagi masyarakat setempat di Desa Sebuai.

Mangrove, yang dikenal sebagai pelindung alami pantai dari abrasi, memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut dan menyediakan habitat bagi berbagai biota laut. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri sawit, dan masyarakat lokal dalam kegiatan ini patut diapresiasi. Hal ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bukanlah tanggungjawab satu pihak saja, melainkan tanggungjawab bersama. Diharapkan, kegiatan penanaman mangrove ini dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

Selain dapat mencegah abrasi, keberadaan hutan mangrove juga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat melalui pengembangan ekowisata dan budidaya kepiting serta ikan.

Sebagai informasi, GAPKI telah sukses menanam 33.000 mangrove di tahap pertama pada periode 2021-2022, bersama dengan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) serta Kelompok Mangrove Talok, Desa Sabuai kembali melanjutkan misi penanaman mangrove untuk periode kedua.

Penanaman 33.000 bibit mangrove itu dilakukan di lahan seluas 10 hektar dengan jarak tanam 1,00 meter, jarak antar jalur4,00 meter dan SPH 2.500 – 3.300 per Hektar. Jenis bibit yang ditanam meliputi buah bakau sebanyak 31.350 (95%) dan bibit semai sebanyak 1.650 (5%). Baca Juga : Waspada, Buaya Bermunculan di Muara Pendulangan Adapun pada tahap kedua dilakukan penanaman di area lebih luas, yakni sekitar 20 hektar yang berlokasi di sebelah lokasi tahap pertama dan akan dibagi kedalam 2 sesi tanam. Jadwal tanam sesi pertama dimulai pada Juli 2023, dengan pemeliharaan tanaman selama 3 bulan, mulai Juli hingga November 2023. Sebanyak 26.400 batang bibit mangrove telah disiapkan untuk penanaman pada sesi pertama tahap kedua ini, yang terdiri dari jenis api-api (Avicennia) sebanyak 2.640 batang, bakau (Rhizophora) sebanyak 21.120 batang dan perepatpedada (Sonneratia) sebanyak 2.640 batang. Selain itu, telah dibangun pula pondok pembibitan mangrove di lokasi program untuk mendukung keberhasilan penanaman.

Artikel Terkait