SANGATTA, SAWIT INDONESIA - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur, Kalimantan Timur, memperkuat arah pembangunan sektor perkebunan berkelanjutan melalui akselerasi penerapan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
Langkah ini diambil untuk memastikan pengelolaan kebun sawit di wilayah Kutai Timur tidak hanya berorientasi pada peningkatkan volume produksi, melainkan juga menjaga kelestarian ekosistem dan kesejahteraan petani swadaya.
Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, meresmikan langsung kelanjutan komitmen tersebut melalui peluncuran program Sustainable Landscape Initiative in Kutai Timur (Sustain Kutim) Tahap II periode 2026–2030 di Sangatta.
"Pembangunan perkebunan harus berjalan berimbang antara kepentingan ekonomi masyarakat dan kelestarian lingkungan. Sedangkan sertifikasi ISPO menjadi instrumen penting untuk memastikan komoditas sawit diakui secara nasional maupun internasional," ujar Bupati Ardiansyah Sulaiman.
Poin-poin utama capaian Sustain Kutim Tahap I, 5 pilar prioritas Tahap II, serta target investasi hilirisasi KEK Maloy meliputi:
Capaian Sertifikasi 1.200 Petani Swadaya (Tahap I 2023–2026):
- Pada fase pertama, program ini berhasil menyerahkan sertifikat ISPO dan RSPO kepada sembilan koperasi pekebun swadaya di Kecamatan Bengalon dan Rantau Pulung.
- Sertifikasi tersebut menaungi lebih dari 1.200 petani, memperkuat posisi tawar koperasi dalam rantai pasok global, serta membuka akses pasar yang lebih luas dengan harga jual panen yang bersaing.
Lima Bidang Prioritas Sustain Kutim Tahap II (2026–2030):
- Tata Kelola Multipihak: Penguatan kelembagaan melalui Forum Masyarakat dan Pemerintah Kutim (Formika).
- Perlindungan Ekosistem: Pemulihan dan konservasi kawasan bernilai konservasi tinggi.
- Pertanian Regeneratif: Penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dan metode ramah lingkungan.
- Pengembangan Usaha Alternatif: Diversifikasi ekonomi bagi masyarakat sekitar kebun.
- Integrasi Anggaran: Penyelarasan dana publik dengan investasi swasta hijau, didukung lembaga internasional seperti GIZ dan Proforest.
Target Hilirisasi Rp3 Triliun dan KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan:
- Pemkab Kutai Timur membidik nilai investasi hilirisasi sawit sebesar Rp3 triliun dengan mengoptimalkan hamparan 500 ribu hektare kebun sawit dan 38 pabrik CPO yang beroperasi di wilayahnya.
- Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan disiapkan sebagai pusat pertumbuhan (hub) pengolahan turunan sawit bernilai tambah tinggi di Kalimantan Timur.
Melalui sinergi antara sertifikasi rantai pasok hulu dan kesiapan infrastruktur hilir, Kutai Timur optimistis dapat menghadirkan tata kelola kelapa sawit yang adil, berkelanjutan, serta berdaya saing tinggi di pasar internasional.
Sumber: kaltim.antaranews.com
















