Jakarta, Sawit Indonesia - Besarnya ketergantungan petani terhadap pupuk dan pestisida sintetis berdampak pada tingginya akumulasi bahan kimia anorganik dalam tanah yang berpengaruh pada mikrobioma tanah. Padahal, mikrobioma telah diakui memberikan dampak positif terhadap kesehatan tanah. Selain itu, perubahan iklim juga turut meningkatkan salinitas dan kekeringan pada tanah.
Mewakili Kepala Pusat Riset Mikrobiologi Terapan - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yeni Khairini menyebutkan, upaya eksplorasi terus dilakukan untuk menggali interkoneksi antara tumbuhan dan mikrobioma dalam meningkatkan produktivitas terutama bagi komoditas unggulan nasional. Hal tersebut disampaikannya saat membuka webinar series ke-41 bertema "Exploring the Effect of Frass-based Amendments on Shallot Yield and Rhizobiome: A Comparative Study" yang diselenggarakan Pusat Riset Mikrobiologi Terapan BRIN, Rabu (9/10).
“Tak hanya menjadi tantangan petani, dalam meningkatkan komoditas strategis, periset berperan penting dalam membantu mengembangkan pupuk dan pembenah tanah yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” imbuh Yeni.
Pada kesempatan yang sama, Maulana Malik Nashrulloh, Postdoctoral di Pusat Riset Mikrobiologi Terapan BRIN tampil sebagai narasumber untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman risetnya. Dalam paparannya Nashrulloh menjabarkan pengunaan pupuk kimia dan pestisida yang tinggi berdampak terhadap mikrobioma tanah yang bermanfaat seperti bakteri dan jamur.
Keberadaan mikrobioma sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanah. Penurunan kesuburan menyebabkan tanah menjadi padat. Bila penurunan aktivitas mikrobioma terus menerus berlangsung, imbasnya tak hanya menurunkan kesuburan tanah dan produksi hasil panen, namun juga mengancam keberlanjutan pertanian. Untuk pemulihannya tentu akan membutuhkan ongkos yang tinggi.
Lebih lanjut Nashrulloh menjelaskan keunggulan BSFL (black soldier fly) frass dalam menutrisi dan meningkatkan kesehatan tanaman. Frass merupakan limbah dari serangga yang dihasilkan oleh larva lalat tentara hitam (Hermetia illucens), yang terdiri dari kotoran, sisa makanan, dan eksuviae (kulit bekas ganti kulit serangga).
Penerapan BSFL frass menawarkan pilihan bagi pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan. Berbagai strategi yang dapat dilakukan antara lain dengan rekayasa mikrobioma, penambahan langsung suspensi bakteri ke tanah ataupun tanaman. Tak hanya menjadi sumber nutrisi dan mineral, frass memiliki mikroba yang berguna untuk meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanaman.
“Senyawa toksik ataupun kandungan logam berat akan mempengaruhi kualitas frass. Sehingga pakan yang digunakan harus memperhatikan kandungan senyawa berbahaya tersebut agar terhindar dari adanya kontaminasi bahan beracun,” jelas Nashrulloh.
Dalam konteks pertanian berkelanjutan, frass memiliki potensi besar sebagai pupuk organik karena kandungan nutrisinya yang kaya, termasuk nitrogen, fosfor, dan kalium, yang esensial bagi pertumbuhan tanaman.
Manfaat frass bagi pertanian berkelanjutan yakni untuk peningkatan kualitas tanah. Frass dapat memperbaiki struktur dan kualitas tanah dengan meningkatkan kandungan bahan organik dan ketersediaan nutrisi bagi tanaman. Hal ini kemudian dapat membantu meningkatkan kesehatan dan produktivitas tanaman dalam jangka panjang.
Dalam kaitannya mendukung mikrobioma tanah, frass kaya akan mikroorganisme yang bermanfaat, sehingga dapat mendukung keragaman dan aktivitas mikroba di tanah. Mikrobioma tanah yang sehat penting untuk siklus nutrisi dan kesehatan tanaman secara keseluruhan. Tak hanya itu, melimpahnya limbah organik dan kehadiran frass dapat menciptakan mekanisme sirkuler ekonomi.
Sumber: brin.go.id














