• Sabtu, 17 Oktober 2026
Seremoni

Fieldtrip SIEXPO 2026, Asian Agri Perkenalkan Riset Bibit Sawit Tahan Ganoderma dan Produktivitas Tinggi

Pengembangan bibit kelapa sawit tahan Ganoderma dan berproduktivitas tinggi menjadi salah satu fokus riset Asian Agri Group melalui Oil Palm Research Station (OPRS) Topaz di PT Tunggal Yunus Estate, Desa Petapahan, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau.

Potensi riset dan pengembangan varietas tersebut diperkenalkan kepada 30 petani swadaya peserta Sawit Indonesia Expo and Conference (SIEXPO) 2026 dalam rangkaian fieldtrip ke OPRS Topaz. SIEXPO 2026 berlangsung pada 6–8 Agustus 2026 di SKA Coex, Pekanbaru, Riau.

Head Assistant Breeding OPRS Topaz Rizki Akbar mengatakan pengembangan varietas Topaz dilakukan melalui persilangan serta pemanfaatan sumber daya genetik dari berbagai wilayah.

“DxP yang disilangkan generasi pertama itu kami merilis varietas pada 2004. Pada 2006 kami mengembangkan dura, pisifera, tenera. Itu melalui kultur jaringan atau vegetatif, kemudian kami tanam pada 2010,” ujar Rizki di lokasi acara, Sabtu (8 Agustus 2026).

Asian Agri juga tergabung dalam konsorsium Indonesia untuk memperoleh sumber daya genetik baru. Menurut Rizki, sumber daya genetik dari Afrika diperoleh secara bertahap pada 2010, 2013, hingga 2020.

Pengembangan varietas tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan perkebunan, termasuk tantangan penyakit Ganoderma yang semakin banyak ditemukan di sejumlah wilayah perkebunan sawit.

“Dari sini kita lihat pasar. Sekarang ini jamur Ganoderma sangat banyak dampaknya, terutama Sumatera Utara ke atas. Ini sudah masuk sawit generasi ketiga,” ujarnya.

Untuk merespons tantangan tersebut, Asian Agri merilis varietas yang moderat tahan Ganoderma pada 2019. Selain ketahanan terhadap penyakit, produktivitas menjadi salah satu parameter dalam pengembangan varietas. Berdasarkan grafik yang dipaparkan kepada peserta fieldtrip, produksi tanaman disebut telah mencapai lebih dari 30 ton pada tahun keempat dan stabil di atas 40 ton pada tahun ke-10.

“Bisa dilihat, tahun keempat itu sudah di atas 30 ton. Sampai tahun ke-10 dia sudah stabil di atas 40 ton,” kata Rizki.

“Jadi dari segi material genetik, materinya sudah ada. Yang dijual itu generasi kedua,” lanjutnya.

Rizki menjelaskan setiap varietas Topaz memiliki karakter yang berbeda. Topaz 2, misalnya, dikembangkan dengan karakter pelepah pendek dan berondolan berukuran besar.“Topaz 2 ciri-cirinya pelepah pendek, berondolan besar-besar,” katanya.

Sementara itu, Topaz 3 memiliki jumlah tandan lebih banyak, pertambahan tinggi yang lebih lambat, serta kandungan minyak yang tinggi. “Kalau Topaz 3, jumlah tandannya banyak, pertambahan tingginya lambat, kandungan minyaknya tinggi,” ujarnya.

Rizki menyarankan pekebun mengombinasikan Topaz 1, Topaz 2, dan Topaz 3 untuk mendukung proses penyerbukan.

Topaz Benih Sawit Unggul

Pemimpin Redaksi Majalah SAWIT INDONESIA, Qayuum Amri, mengatakan bahwa kunjungan lapangan merupakan bagian penting dari upaya memperkuat transfer pengetahuan kepada pekebun. Pemahaman mengenai benih unggul harus dibangun melalui pengalaman langsung agar pekebun semakin memahami pentingnya penggunaan benih berkualitas sejak awal budidaya.

"Kami ingin menghadirkan pengalaman belajar yang lebih utuh bagi pekebun. Tidak hanya mendengarkan paparan dari narasumber, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana benih unggul diproduksi dan dikelola. Dengan begitu, peserta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai pentingnya penggunaan benih bersertifikat dalam meningkatkan produktivitas kebun," ujar Qayuum Amri.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kualitas benih merupakan faktor awal yang sangat menentukan keberhasilan usaha perkebunan. Kesalahan dalam memilih benih dapat berdampak pada rendahnya produktivitas tanaman selama puluhan tahun masa produksi.

Sebab itu, kata Qayuum, SAWIT INDONESIA memandang kunjungan ke fasilitas benih sebagai sarana edukasi yang relevan bagi pekebun, khususnya di tengah dorongan peningkatan produktivitas sawit rakyat tanpa harus membuka lahan baru.

"Produktivitas sawit dimulai dari benih. Melalui kunjungan ini kami berharap pekebun semakin memahami mengapa investasi pada benih unggul menjadi keputusan yang sangat penting untuk keberlanjutan usaha tani mereka," katanya.

Benih Topaz merupakan benih kelapa sawit unggul yang dikembangkan Asian Agri melalui riset dan program pemuliaan tanaman secara berkelanjutan. Benih ini dirancang untuk mendukung produktivitas kebun yang tinggi, memiliki potensi rendemen minyak yang baik, serta tersedia dalam varian yang lebih toleran terhadap penyakit Ganoderma.

Melalui kunjungan ini, peserta akan memperoleh gambaran langsung mengenai proses pengembangan benih unggul dan memahami bagaimana kualitas benih menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung produktivitas perkebunan kelapa sawit secara berkelanjutan.

Sementara itu, Head of Research & Development Asian Agri, Edy Suprianto, mengatakan bahwa melalui pengembangan Benih Topaz, Asian Agri terus mendorong peningkatan produktivitas kebun masyarakat sebagai bagian dari komitmen perusahaan untuk menempatkan kemitraan dengan pekebun sebagai prioritas. Melalui semangat kemitraan tersebut, Asian Agri ingin terus tumbuh bersama pekebun dalam mewujudkan perkebunan kelapa sawit yang lebih produktif dan berkelanjutan.

"Produktivitas kebun ditentukan sejak awal, yaitu saat memilih benih. Karena itu, kami berharap kunjungan ini dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada pekebun mengenai pentingnya penggunaan benih unggul sebagai investasi jangka panjang untuk membangun kebun yang produktif, efisien, dan berkelanjutan. Kami percaya ketika perusahaan dan pekebun tumbuh bersama, produktivitas dan keberlanjutan industri sawit Indonesia juga akan semakin kuat," ujar Edy.

Petani Apresiasi Benih Topaz

Kegiatan fieldtrip tidak hanya mencakup pemaparan mengenai varietas, tetapi juga kunjungan ke fasilitas pembibitan dan produksi kecambah.

Salah satu petani sawit yang ikut fieldtrip, Khamim Tohari, mengatakan peserta melihat sejumlah tahapan pengembangan material tanaman, mulai dari seleksi pohon induk hingga proses produksi kecambah.

“Fasilitas utamanya meliputi seleksi pohon induk, bagaimana pengujian indukan. Kemudian kami diajak melihat proses perkecambahan, mulai dari pengupasan, pencucian, perendaman, ruang inkubator hingga packing,” kata Khamim.

Peserta juga melihat proses persilangan antara pohon induk jantan atau pisifera dengan dura. Menurut Khamim, kunjungan tersebut memberikan gambaran mengenai proses pengembangan material genetik hingga menghasilkan benih yang digunakan petani.

“Ini kami lihat sangat adaptif, baik di lahan gambut, berbukit, maupun daratan dengan benihnya,” ujar pria yang tinggal di Kabupaten Sarolangun, Jambi, ini.

Khamim mengatakan Topaz 3 menjadi salah satu varietas yang menarik perhatian petani karena dinilai memiliki karakter cepat berbuah.

“Yang saat ini paling digemari tentu Topaz 3 karena cepat berbuah dan tidak ada buah orangenya,” katanya.

Dia menilai produktivitas menjadi salah satu pertimbangan petani dalam memilih material tanaman. Berdasarkan informasi yang diperoleh selama kunjungan, produktivitas Topaz disebut dapat mencapai sekitar 40 ton per tahun, bergantung pada kondisi lahan dan pemupukan.

Khamim juga menyebut tanaman dapat mulai berbuah pada sekitar usia 18 bulan, dengan berat janjang rata-rata (BJR) yang disebut dapat mencapai lebih dari 5 kilogram.

“Topaz adaptasinya bagus dan minyaknya sangat tinggi. Ini yang kami tahu dari Topaz ini. Batangnya besar, jadi petani puas,” ujarnya.

Khamim mengapresiasi kesempatan yang diberikan kepada petani untuk melihat langsung proses pengembangan benih.

“Terima kasih Asian Agri yang memfasilitasi kami sehingga kami tahu proses dari awal indukan belum unggul menjadi benih unggul sawit tenera,” katanya.

Dia berharap kegiatan serupa dapat dilakukan secara berkala agar lebih banyak petani memperoleh informasi mengenai varietas dan proses produksi benih.

“Kami sangat berharap Topaz menyelenggarakan kegiatan sosialisasi seperti kegiatan fieldtrip ini, jadi petani tahu ada benih yang bagus dari Topaz,” ujar Khamim.

Artikel Terkait