• Kamis, 1 Oktober 2026
Berita Terbaru

Field Trip Perkuat Pemahaman Petani Sawit Wajo, AKPY: Melihat Langsung Agar Ilmu Tidak Mudah Lupa

Keera, SAWIT INDONESIA – Kunjungan lapangan (field trip) ke kebun PTPN IV Regional 2 di Keera menjadi bagian penting dalam rangkaian Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 yang diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan BPDP dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun). Melalui kegiatan ini, sebanyak 150 peserta (pekebun sawit, penyuluh dan pendamping) asal Kabupaten Wajo diajak melihat secara langsung penerapan praktik budidaya yang telah dipelajari selama enam hari pelatihan di Makassar.

Perwakilan AKPY (Praktisi Kebun), Ir. Hartono, M.Si, menegaskan bahwa field trip merupakan tahapan penting agar materi yang telah diterima peserta tidak berhenti pada teori di dalam kelas, tetapi benar-benar dipahami melalui praktik di lapangan.

"Orang bijak mengatakan, dengan mendengar kita mudah lupa, tetapi dengan melihat kita menjadi mengerti. Karena itu, meskipun membutuhkan biaya dan waktu, kami mengajak bapak dan ibu datang langsung ke kebun agar apa yang dipelajari selama pelatihan bisa dilihat penerapannya," kata Hartono saat membuka kunjungan lapangan di Kebun PTPN IV Regional Keera, pada Kamis (30 Juli 2026).

Ia menjelaskan, sebelum turun ke lapangan seluruh peserta telah dibekali materi teknis budidaya secara lengkap, mulai dari persiapan lahan, pembibitan, penanaman, pemeliharaan tanaman belum menghasilkan (TBM), hingga prinsip dasar panen yang menghasilkan tandan buah segar (TBS) berkualitas.

Menurut Hartono, para peserta sudah memahami bagaimana mempersiapkan lahan yang benar, menentukan titik tanam, mengatur rumpukan, hingga memilih jarak tanam yang ideal agar produktivitas kebun dapat dimaksimalkan.

"Petani sudah belajar menentukan jarak tanam yang tepat, menghitung kebutuhan bibit, memahami pembibitan single stage maupun double stage beserta titik kritis keberhasilannya. Hari ini tinggal dibuktikan di lapangan sehingga semakin yakin saat menerapkannya di kebun masing-masing," ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya penggunaan pola tanam segitiga sama sisi atau mata lima. Dengan sistem tersebut, jumlah populasi tanaman dapat mencapai sekitar 143 pokok per hektare, lebih banyak dibanding pola persegi yang hanya sekitar 123 pokok per hektare, tanpa mengurangi ruang bagi tanaman untuk memperoleh sinar matahari secara optimal.

Selain itu, peserta juga dibekali teknik pemeliharaan tanaman sejak TBM 1 hingga TBM 3, termasuk kegiatan kastrasi menjelang tanaman memasuki masa menghasilkan.

Hartono berharap seluruh pengetahuan tersebut mampu meningkatkan produktivitas kebun rakyat di Kabupaten Wajo. Ia bahkan menargetkan petani mampu mencapai produktivitas sekitar 24 ton TBS per hektare per tahun, sehingga pendapatan kebun dapat meningkat secara signifikan.

"Kalau produktivitas mencapai 24 ton per hektare per tahun dengan biaya pemeliharaan yang efisien, maka pendapatan petani juga akan meningkat. Potensi itu sebenarnya ada, tinggal bagaimana dibangun melalui penerapan budidaya yang benar," katanya.

Pada kesempatan itu, Hartono juga mengajak peserta memanfaatkan kunjungan lapangan untuk menguji pemahaman mereka, mulai dari mengenali bibit sawit yang memenuhi standar hingga mengamati penerapan pengelolaan kebun yang dilakukan PTPN IV Regional Keera.

Ia menjelaskan bahwa bibit siap tanam harus memenuhi sejumlah persyaratan, antara lain berumur sekitar 12 bulan, memiliki tinggi sekitar 126 sentimeter, sedikitnya 18 pelepah, diameter bonggol di atas enam sentimeter, serta daun yang telah membuka sempurna.

"Kalau melihat langsung seperti ini, bapak dan ibu akan lebih mudah membedakan mana bibit yang memenuhi standar dan mana yang belum layak tanam. Inilah tujuan field trip, supaya ilmu yang diperoleh benar-benar dipahami dan bisa diterapkan di lapangan," ujarnya.

Hartono juga menyampaikan apresiasi kepada manajemen PTPN IV Regional Keera yang telah menerima rombongan peserta dengan baik dan membuka kesempatan bagi petani untuk belajar langsung dari praktik pengelolaan kebun perusahaan.

Menurutnya, sinergi antara lembaga pelatihan, perusahaan perkebunan, pemerintah, dan pekebun merupakan kunci dalam mencetak sumber daya manusia sawit yang kompeten, sehingga produktivitas kebun rakyat dapat terus meningkat secara berkelanjutan.

Artikel Terkait