Bengkulu, SAWIT INDONESIA — Sebanyak 115 pekebun asal Kabupaten Bengkulu Selatan mengikuti field trip ke kebun PT Bumi Rafflesia Indah (BRI), Kamis (9/9/2026). Kunjungan lapangan ini menjadi bagian dari Pelatihan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 kelas teknis panen dan pascapanen.
Kegiatan tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada peserta dalam melihat dan memahami praktik panen yang tepat di lapangan. Peserta tidak hanya mendapatkan materi secara teori di ruang kelas, tetapi juga mengamati secara langsung bagaimana menentukan buah yang siap dipanen, melakukan pemotongan tandan, hingga menangani hasil panen.
Mewakili Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), Hartono, SP, M.Si selaku Praktisi Kebun dari AKPY, mengatakan field trip menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran karena peserta dapat membandingkan materi yang telah diterima di kelas dengan praktik di kebun.
“Belajar tentang kelapa sawit tidak cukup hanya di ruang kelas atau dari buku. Kita perlu melihat langsung bagaimana panen dilakukan dan bagaimana standar kerja diterapkan,” ujar Hartono saat memberikan sambutan.
Menurutnya, praktik lapangan membantu pekebun memahami bahwa ketepatan panen sangat menentukan kualitas tandan buah segar (TBS). Kesalahan menentukan tingkat kematangan maupun teknik panen dapat memengaruhi kualitas hasil yang diterima pabrik.
Maka, selama kunjungan peserta diarahkan untuk memperhatikan tahapan panen secara langsung, mulai dari mengenali kriteria matang panen, teknik memotong tandan, hingga memastikan brondolan yang dihasilkan tidak tertinggal di lapangan.
“Kalau hanya mendengar, gampang lupa. Kita ajak melihat langsung di sini. Dengan melihat, kita akan lebih mengerti. Harapannya, ilmu yang diperoleh bisa langsung dipraktikkan di kebun masing-masing,” katanya.
Hartono menjelaskan, kunjungan ke PT BRI secara khusus difokuskan pada penguatan materi panen dan pascapanen yang sebelumnya telah diberikan dalam pelatihan.
Peserta juga mendapat kesempatan berdiskusi mengenai praktik kerja di lapangan, termasuk berbagai persoalan yang kerap dihadapi pekebun saat menentukan waktu panen dan menangani TBS setelah dipotong.
“Petani Bengkulu Selatan sengaja berkunjung ke sini karena banyak hal yang perlu didiskusikan di lapangan berkaitan dengan materi yang sudah kita berikan di kelas. Hari ini kita fokus pada panen dan pascapanen,” jelasnya.
Pembelajaran lapangan juga membuka ruang bagi peserta untuk melihat keterkaitan antara perawatan tanaman, kondisi kebun, dan keberhasilan panen. Menurut Hartono, praktik panen yang baik tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari pengelolaan kebun secara keseluruhan.
Ia mengapresiasi manajemen PT Bumi Rafflesia Indah yang telah memberikan kesempatan kepada peserta untuk belajar secara langsung di areal kebun.
“Atas nama AKPY, kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada manajemen PT Bumi Rafflesia Indah yang telah menerima kunjungan kami dan memberikan kesempatan kepada para petani untuk belajar langsung di lapangan,” katanya.
Hartono menilai lokasi kebun yang relatif dekat dengan tempat pelatihan juga menjadi keuntungan bagi peserta. Waktu perjalanan sekitar satu jam membuat waktu untuk praktik dan diskusi di lapangan dapat dimanfaatkan secara optimal.
Melalui field trip ini, peserta diharapkan tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi mampu membawa pengalaman praktik ke kebun masing-masing. Penerapan teknik panen yang tepat diharapkan dapat membantu pekebun menjaga kualitas TBS, menekan kehilangan hasil, serta meningkatkan nilai ekonomi produksi.
“Kalau ilmu sudah bertambah, jangan disimpan. Segera praktikkan ke lapangan,” tegas Hartono.














