• Kamis, 24 September 2026
Berita Terbaru

Field Trip ke Kebun BGA, Pekebun Barito Utara Bedah Praktik Budidaya Sawit

Kotawaringin Timur, SAWIT INDONESIA – Sebanyak 171 peserta pelatihan (pekebun dan enam ASN dinas terkait) dari Kabupaten Barito Utara, mendapat kesempatan melihat langsung praktik pengelolaan perkebunan kelapa sawit di PT Bumitama Gunajaya Agro (BGA) Region 3 Pundu, Kamis (13 Agustus 2026).

Kegiatan field trip tersebut merupakan rangkaian dari Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun).

Tidak sekadar kunjungan lapangan, peserta diajak membedah praktik budidaya sawit secara utuh, mulai dari pembibitan (nursery), tanaman belum menghasilkan (TBM), replanting, hingga tanaman menghasilkan (TM). Pembelajaran ini menjadi kesempatan bagi peserta untuk menghubungkan materi yang diperoleh selama pelatihan dengan kondisi nyata di perkebunan skala besar.

Region Head 3 Pundu PT BGA, Lavin Dwi Saputra, mengatakan field trip menjadi ruang pertukaran pengetahuan antara industri perkebunan, lembaga pelatihan, dan pekebun.

“Perjalanan Bapak Ibu dari Palangka ke sini bukanlah perjalanan yang sia-sia. Ini adalah perjalanan ilmu. Kita sama-sama belajar, kami sharing, kemudian kami juga menerima feedback dari para petani,” ujarnya, pada Kamis (13 Agustus 2026).

Salah satu hal yang menarik perhatian peserta adalah pengelolaan tanaman menghasilkan awal atau TM 1. Lavin menyampaikan, BGA memproyeksikan produktivitas tanaman tersebut dapat mencapai 24 ton TBS per hektare pada usia tiga tahun.

“TM 1 itu proyeksi kami bisa yield-nya 24 ton per hektare usia tiga tahun atau TM 1,” katanya.

Pernyataan tersebut menjadi pemantik diskusi peserta untuk menggali faktor di balik pencapaian produktivitas tersebut, mulai dari kualitas bahan tanam, pemeliharaan, pemupukan, hingga tata kelola kebun.

Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, mengatakan BGA dipilih sebagai lokasi field trip karena memiliki rangkaian pembelajaran yang relatif lengkap.

“BGA itu kebun yang komplit. Kebun yang komplit dan tim jajarannya juga selalu siap memberikan yang terbaik untuk mendapatkan ilmu yang lebih,” ujarnya.

Menurut Idum, peserta sebelumnya telah mendapatkan materi teknis dalam pelatihan. Karena itu, kunjungan ke BGA menjadi momentum untuk menguji dan memperkaya pemahaman tersebut melalui praktik di lapangan.
“Yang disampaikan kemarin di kuliah umum pasti akan ditagih oleh para peserta. Seperti apa pelaksanaan teknis budidaya yang ada di PT BGA. Apalagi tadi sudah diiming-imingi bahwa di usia yang masih tiga tahun ternyata yield-nya sudah 24. Resepnya apa, tata kelolanya seperti apa,” jelasnya.
Ia menegaskan, tujuan field trip bukan sekadar melihat kebun perusahaan, tetapi mempelajari bagaimana praktik budidaya diterapkan dalam skala besar dan kemudian mengambil hal-hal yang relevan untuk diterapkan di kebun pekebun.

“Hari ini kita studi banding untuk melihat skala besar, skala makro, apa saja yang sudah dilakukan oleh kebun dan bagaimana supaya peserta ini bisa membawa ilmu itu untuk diterapkan di kebunnya masing-masing,” ujarnya.

Idum juga mendorong peserta aktif berdiskusi dengan praktisi selama berada di lapangan.

“Silakan bertanya banyak. Mumpung ketemu, silakan menimba ilmu sebanyak-banyaknya,” katanya.

Dari kebun BGA ke kebun masyarakat

Lavin menilai kolaborasi antara industri, lembaga pendidikan atau pelatihan, dan pekebun swadaya penting untuk memperkuat keberlanjutan industri sawit.

“Ketiga unsur ini kalau bersinergi dengan baik akan menghasilkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada jika berjalan sendiri-sendiri,” ujarnya.

Bagi pekebun Barito Utara, pembelajaran di BGA menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana prinsip-prinsip budidaya yang dipelajari di kelas diterapkan dalam pengelolaan perkebunan.

Pembelajaran juga menunjukkan bahwa produktivitas tidak berdiri sendiri. Pencapaian yield merupakan hasil dari rangkaian tata kelola yang dimulai sejak pembibitan, pemeliharaan TBM, replanting, hingga tanaman memasuki fase menghasilkan.

Pengetahuan tersebut diharapkan tidak berhenti di kebun BGA. Setelah kembali ke Barito Utara, para pekebun dapat menjadikan pengalaman dan praktik yang diperoleh selama field trip sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan pengelolaan kebun masing-masing.

Artikel Terkait