• Selasa, 29 September 2026
Berita Terbaru

Energi Hijau Berbasis Sawit Kurangi Emisi Karbon

Jakarta, Sawit Indonesia - Indonesia merupakan negara kepulauan yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Buktinya, pada tahun 1981–2018, Indonesia mengalami tren peningkatan suhu sekitar 0,03 derajat celcius per tahun. Artinya, Indonesia mengalami kenaikan permukaan air laut sebesar 0,8 - 1,2 cm per tahun, sementara sekitar 65 persen penduduknya tinggal di wilayah pesisir.

Hal tersebut disampaikan Direktur Bioenergi Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kemen ESDM) Edi Wibowo, saat mengisi materi pada penyelenggaraan Indonesia Palm Oil Research & Innovation Conference and Expo (IPORICE), oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Gabungan Pengusaha Perkebunan Indonesia (GPPI). Sesinya ini berlangsung pada pelaksanaan hari pertama, Selasa (13/8) di Grand Ballroom Gedung Widya Graha, Kawasan Sains Sarwono Prawirohardjo, Jalan Gatot Subroto, Jakarta.

Dalam paparannya, Edi menjelaskan tentang daya dukung sawit berkelanjutan pada kebijakan bauran energi mendukung Nationally Determined Contribution (NDC).

Selanjutnya, ia menjelaskan dampak perubahan iklim yang mengakibatkan kelangkaan air, kerusakan ekosistem darat dan laut, serta menurunnya kualitas kesehatan maupun kelangkaan pangan.

”Ini dapat meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi yang saat ini menyumbang 80 persen dari total bencana di indonesia. Sementara, potensi kerugian yang dialami yaitu ekonomi Indonesia bisa mencapai 0,66 hingga 3,45 persen pada 2030,” ungkapnya.

Dia lantas menginformasikan berbagai target komitmen penurunan emisi yang dituangkan dalam Undang-Undang No 16 Tahun 2016, Paris Agreement, juga ratifikasi Perjanjian Paris untuk United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Komitmennya antara lain target pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 29 persen tanpa syarat, di bawah Business As Usual (BAU), dan 41,20 persen dengan syarat dan dukungan internasional yang memadai.

Menariknya, target emisi sektor energi pada 2060, yakni, 129 juta ton karbon dioksida berdasarkan perbaikan asumsi Produk Domesetik Bruto (PDB), serta peningkatan eletrifikasi di sisi demand dan penerapan carbon capture and storage sektor indutri.

Ia juga mengungkapkan, pihaknya menargetkan untuk tahun 2025 terkait kebijakan energi nasional. Target tersebut tertuang pada PP No 79 Tahun 2014. Antara lain, menurunkan intensitas energi final 1 persen per tahun, menurunkan konsumsi energi final 17 persen dari BAU dan bauran EBT 23 persen pada 2025.

Terkait pemanfaatan sawit untuk energi, dilakukan dengan memperhatikan kesetimbangan pemanfaatan CPO nasional, dengan mempertimbangkan bahwa sawit merupakan penghasil devisa tertinggi negara.

“Pungutan ekspor produk sawit dan turunannya mendukung insentif pemanfaatan CPO menjadi energi, juga pemenuhan terhadap aspek-aspek lindungan lingkungan dan keberlanjutan,” jelasnya.

Direktur PT Smart tbk Agus Purnomo memaparkan daya dukung industri dalam percepatan energi hijau berbasis sawit. Dia mengenalkan Sinarmas Agribusiness and Food, perusahaan yang menghasilkan makanan dan energi hijau.

“Artinya, untuk pasar internasional, kami beroperasi sebagai Golden Agri-Resources (GAR). Perusahaan kami melakukan produksi terintegrasi dari hulu ke hilir, mulai pemuliaan bibit, penelitian, pengelolaan kebun, transportasi, dan kilang dengan prinsip keberlanjutan,” ungkapnya.

Agus lalu menjelaskan perusahaannya tersebut mengelola sekitar 532.000 hektar kebun kelapa sawit di Indonesia. Perkebunan dengan parik minyak kelapa sawit ini berada di Kalimantan, Sumatera, dan Papua.

“Sejumlah 78 persen lahan perkebunan adalah milik perusahaan, 22 persen sisanya adalah kebun plasma yang dimiliki petani kecil, akan tetapi dikelola oleh PT. Smart,” imbuhnya.

Diungkapkannya, perusahaan ini telah melakukan penelitian dan pengembangan sains mendukung pengembangan tanaman dan produk akhir. Sepak terjangnya mengoperasikan tiga lembaga R&D, di antaranya Smart Biotechnologi Center. Yakni, mengelola benih dan bahan tanam yang lebih baik untuk meningkatkan ekstraksi minyak sawit dengan menggunakan lebih sedikit lahan.

Sedangkan Smart Research Institute (Smartri) meningkatkan praktik berkelanjutan, yaitu produktivitas kebun, perlindungan keanekaragaman hayati, pelestarian lingkungan, dan mengurangi emisi GRK. “Lalu ada Pusat R&D Marunda untuk pengembangkan dan meracik komposisi produk makanan yang dihasilkan untuk mendukung diet makanan yang lebih sehat dan berkelanjutan,” jelasnya.

Kepala Pusat Riset Teknologi Industri Proses dan Manufaktur BRIN Hens Saputra menyoroti peran teknologi industri proses dan manufaktur mendukung ekonomi sirkular berbasis sawit. Dia mengatakan, saat ini, Indonesia menghadapi berbagai tantangan jangka panjang yang sangat kompleks yang menjadikan perubahan yang luar biasa perubahan iklim. Yakni, hilangnya keanekaragaman hayati, ekosistem ideologis.

Untuk itu, jelasnya, negara-negara internasional dalam mitigasi perubahan iklim mengupayakan, salah satunya, dengan menyelenggarakan Conference of Parties (CoP) ke-1 di Rio, Brasil tahun 1992. “Semua negara bersepakat menstabilkan konsentrasi GRK, untuk memastikan tidak menimbulkan permasalahan berbahaya pada iklim,” ujarnya.

Selanjutnya, tujuan pembangunan berkelajutan (SDGs) pada riset dan inovasi di bidang energi dan manufaktur sangat berperan dalam mewujudkan ketahanan energi dan daya saing bangsa. Itu untuk menjamin akses energi yang terjangkau, andal berkelanjutan, dan modern untuk semua. Juga, meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, membangun infastruktur yang tangguh, dan mengambil tindakan cepat untuk mengatasi perubahan iklim dan dampaknya.

Sumber: brin.go.id

Artikel Terkait