Jakarta, SAWIT INDONESIA – Industri minyak sawit Indonesia mencatatkan kinerja gemilang sepanjang Januari-April 2026. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) melaporkan adanya lonjakan signifikan pada volume maupun nilai ekspor produk sawit nasional dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono, mengungkapkan secara akumulatif, nilai ekspor sawit dari Januari hingga April 2026 telah menyumbang US$ 13,04 miliar (Rp220,63 triliun) bagi devisa negara. Angka ini melampaui capaian tahun lalu sebesar US$ 10,82 miliar (Rp177,97 triliun).
Peningkatan nilai ekspor ini tidak hanya dipicu oleh volume yang menebal, tetapi juga didukung oleh harga rata-rata CIF Rotterdam (Januari–April 2026) yang bertengger di angka US$ 1.408 per ton, jauh lebih tinggi dibanding rata-rata periode sama tahun lalu sebesar US$ 1.211 per ton.
Selain dari segi nilai, performa kumulatif dari Januari hingga April 2026, volume ekspor produk sawit Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan yang sangat sehat secara Year-on-Year (YoY). Total ekspor empat bulan pertama tahun 2026 mencapai 11,32 juta ton, atau lebih tinggi 20,26% dibanding periode yang sama tahun 2025 (9,41 juta ton).
Pertumbuhan ekspor ini juga ditopang produksi sawit yang mencapai 20,4 juta ton sampai April 2026. Capaian ini lebih tinggi dibandingkan periode Januari-April 2025 yang mencapai 18,03 juta ton.
Kinerja April 2026
bahwa total ekspor produk sawit pada April 2026 melesat menjadi 2,77 juta ton. Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 28,09% dibandingkan capaian Maret 2026 yang berada di angka 2,16 juta ton.
"Kenaikan volume ekspor serta ditopang oleh harga rata-rata global yang kokoh berhasil mendongkrak nilai ekspor sawit kita menjadi US$ 3,38 miliar (atau sekitar Rp 57,92 triliun) pada bulan April, naik 29,50% dari bulan Maret," ujar Mukti dalam siaran pers resminya.
Dari sisi negara tujuan, China memimpin peningkatan permintaan dengan menambah serapan sebesar 118 ribu ton pada bulan April dibandingkan bulan sebelumnya. Posisi berikutnya diikuti oleh kawasan Afrika (+97 ribu ton), Amerika Serikat (+62 ribu ton), dan India (+53 ribu ton). Sebaliknya, penurunan pasar hanya terjadi ke negara Rusia (-17 ribu ton) dan Malaysia (-9 ribu ton).
Secara keseluruhan, meroketnya aktivitas ekspor dan konsumsi dalam negeri yang kuat pada bulan April ini turut berimbas pada menyusutnya stok akhir sawit Indonesia menjadi 2,55 juta ton, turun tipis dari stok akhir Maret sebesar 2,56 juta ton.














