Jakarta, SAWIT INDONESIA - Struktur ekspor Indonesia pada kuartal I/2026 masih didominasi oleh komoditas berbasis sumber daya alam. Meski demikian, pergeseran ke produk bernilai tambah disebut Kementerian Perdagangan mulai terlihat.
Kemendag mencatat bahwa tiga komoditas utama penopang ekspor nonmigas mencakup lemak dan minyak hewan/nabati (HS 15), batu bara (HS 27), serta besi dan baja (HS 72). Ketiganya menyumbang total US,68 miliar atau sekitar 35,66% dari total ekspor nonmigas selama Januari sampai Maret 2026.
Pada level yang lebih rinci (HS 8 digit), ekspor terbesar berasal dari batu bara jenis tertentu (HS 27011900) dengan nilai US,18 miliar, diikuti ferro-nickel (HS 72026000) sebesar US,73 miliar, serta produk turunan kelapa sawit berupa refined palm oil (HS 15119037) sebesar US,84 miliar.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Perdagangan Ni Made Kusuma Dewi menilai komposisi tersebut menunjukkan tren positif dari kebijakan hilirisasi yang mulai membuahkan hasil.
“Kinerja ekspor pada komoditas tersebut mencerminkan adanya keberhasilan kebijakan hilirisasi yang mulai mendorong peningkatan nilai tambah komoditas Indonesia di pasar global,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip Rabu (6/5/2026).
Meski demikian, dominasi komoditas berbasis SDA menunjukkan bahwa transformasi struktur ekspor masih berlangsung dan belum sepenuhnya bergeser ke produk manufaktur berteknologi tinggi.
Adapun kinerja ekspor Indonesia pada Januari–Maret 2026 tercatat hanya tumbuh tipis 0,34% di tengah penurunan tajam sektor migas dan kontraksi pada sejumlah komoditas primer.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total nilai ekspor Januari–Maret 2026 mencapai US,85 miliar, naik tipis dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US,62 miliar. Kenaikan ini terutama ditopang oleh ekspor nonmigas yang tumbuh 0,98% menjadi US,60 miliar.
Sebaliknya, ekspor migas justru mengalami kontraksi sebesar 10,58% dari US,64 miliar menjadi US,25 miliar. Penurunan ini menjadi penekan utama yang menahan laju pertumbuhan ekspor secara keseluruhan.
Dari sisi sektoral, industri pengolahan menjadi motor utama pertumbuhan dengan kenaikan 3,96% menjadi US,98 miliar. Kontribusi sektor ini menjadi penopang utama di tengah pelemahan sektor lain.
Sumber:ekonomi.bisnis.com














