• Selasa, 29 September 2026
Berita Terbaru

Ekspor CPO Melonjak 32,9%, Neraca Perdagangan RI Tetap Perkasa

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor Indonesia masih solid sepanjang tujuh bulan pertama 2025. Dua komoditas unggulan, yakni minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) dan turunannya serta besi dan baja, menjadi penopang utama pertumbuhan ekspor nonmigas di tengah penurunan ekspor batu bara.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan ekspor CPO dan turunannya tumbuh signifikan baik dari sisi nilai, volume, maupun harga rata-rata global. “Nilai ekspor besi dan baja naik 10,29% secara kumulatif, sedangkan nilai ekspor batu bara turun 21,74%. Sementara itu, nilai ekspor CPO dan turunannya naik 32,92% sepanjang Januari—Juli 2025,” ujarnya dalam rilis resmi, Senin (1/9/2025).

Data BPS menunjukkan, nilai ekspor CPO dan turunannya meningkat dari US,55 miliar pada Januari—Juli 2024 menjadi US,02 miliar pada periode yang sama 2025. Volume ekspor juga naik 10,95% menjadi 13,64 juta ton. Kenaikan ini ditopang harga rata-rata global CPO yang naik 20,68% menjadi US.042,72 per ton.

Di sisi lain, ekspor besi dan baja tumbuh 10,29% menjadi US,09 miliar, dengan volume meningkat 10,23% menjadi 13,16 juta ton meski harga rata-rata turun tipis 0,14%. Sebaliknya, batu bara justru mengalami penurunan nilai ekspor sebesar 21,74% menjadi US,82 miliar.

Neraca Perdagangan Tetap Perkasa

Kinerja ekspor yang ditopang CPO dan besi-baja membuat neraca perdagangan Indonesia tetap positif. Per Juli 2025, BPS mencatat surplus sebesar US,17 miliar. Surplus ini menjadikan neraca perdagangan RI tetap konsisten positif selama 63 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Pada Juli 2025, nilai ekspor mencapai US,75 miliar atau naik 9,86% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sementara impor turun 5,86% menjadi US,57 miliar. Surplus terbesar tercatat dari komoditas nonmigas, terutama lemak dan minyak nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Secara kumulatif, neraca perdagangan Januari—Juli 2025 surplus US,65 miliar, ditopang surplus nonmigas sebesar US,06 miliar. Namun, komoditas migas masih membukukan defisit US,41 miliar.

“Surplus perdagangan ini terutama didorong oleh komoditas unggulan nonmigas, yang menjadi penopang daya tahan ekspor Indonesia,” jelas Pudji.

Artikel Terkait