• Kamis, 1 Oktober 2026
Sajian Utama

Dwi Asmono Raih Sawit Indonesia Award 2024 Kategori Dedikasi dan Komitmen Terhadap Pemuliaan Benih Sawit

Majalah Sawit Indonesia menyerahkan penghargaan kepada Dr. Dwi Asmono, Director of Sustainability, Research & Development PT Sampoerna Agro Tbk untuk kategori Dedikasi dan Komitmen Terhadap Pemuliaan Benih Sawit di ajang Sawit Indonesia Award 2024 di Jakarta, Kamis (12 Desember 2024).

Terima kasih kepada Majalah Sawit Indonesia yang memberi penghargaan kategori Dedikasi dan Komitmen terhadap Pemuliaan Benih Sawit. Penghargaan ini mengingatkan saya pada pesan Guru Besar Pemuliaan dan Genetika di Iowa State University (ISU)- USA, Prof Emeritus Michael Lee, saat saya lulus PhD di ISU tahun 1998, 27 tahun lalu, agar tetap konsisten di jalur keilmuan plant breeding untuk Indonesia. Walaupun saat ini memegang posisi di level Manajemen,” ujar Dr. Dwi Asmono.

“Alhamdulillah, setelah berjalan lebih dari 25 tahun, saya dapat menjadi bagian dari kisah pembangunan industri benih sawit Indonesia yang tangguh, berbasis ilmu pemuliaan dan teknologi perbenihan. Dari sisi saya pribadi, capaian ini juga tidak terlepas dari passion, konsistensi, tim yang tangguh, dan semangat kolaborasi,” tambahnya.

Menurut Dwi Asmono, dalam sepuluh tahun terakhir sektor pemuliaan benih sawit sangat berkembang pesat. Pertama dari segi jumlah produsen benih. Kalau di era 1990-an, hanya terdapat tiga produsen antara lain PPKS, PT Lonsum Tbk dan Socfindo. Lalu memasuki era 2000-an 5, jumlah produsen bertambah 4 perusahaan yaitu PT Bina Sawit Makmur, PT Tunggal Yunus Estate, dan PT Tania Selatan.

“Sekarang, jumlah produsen benih sawit telah mencapai 20 perusahaan. Ini merupakan pencapaian luar biasa karena Indonesia dapat memenuhi kebutuhan benih sawit dari dalam negeri,” ujar ayah tiga anak ini.

Kedua, Begitupula dari jumlah varietas benih sawit telah mencapai 78 varietas terdiri dari 73 varietas DxP, 4 varietas klon, dan 1 varietas semi klon.”Material genetiknya juga bervariasi sehingga dapat memenuhi kebutuhan stakeholder dan disesuaikan kondisi lahan serta iklim Indonesia,” jelasnya.

Faktor ketiga, dijelaskan Dwi, pesatnya perkembangan juga terjadi di tingkat sumber daya manusia. Kini mulai bermunculan anak-anak muda yang memiliki passion kuat sebagai pemulia benih sawit.

”Mereka belajar dari universtas yang kredibel. Regenerasi pemulia benih sawit telah berjalan baik dalam 10-15 tahun terakhir. Human Resources & People Development menurut saya sangat vital untuk menjaga daya saing industri. Lalu pemuliaan benih adalah never ending program, butuh SDM berdedikasi, dan meletakkan hatinya untuk menuju sukses.,” ujar lulusan S-3 Iowa University ini.

Faktor keempat, kemudahan akses jejaring internasional untuk bekerjasama dalam bidang pemuliaan benih sawit. Menurutnya, banyak lembaga internasional yang menawarkan kerjasama dan kolaborasi berkaitan riset benih sawit.

Di usianya yang memasuki 60 tahun, Dwi Asmono masih menyimpan menyimpan banyak rencana dan keinginan. Pertama, sebagai profesional, saya tetap komit untuk memimpin agenda R&D pemuliaan Sampoerna Agro melalui PT Binasawit Makmur secara terintegrasi: berbasis ilmu pemuliaan klasis dan integrasi molecular technology, melibatkan bidang keilmuan lain dan juga membangun team yang kuat, berdedikasi.

“Sebagai bagian dari pelaku Industri Sawit Indonesia, saya akan tetap memberikan perhatian tinggi terhadap Inovasi Pekebunan. Dari sisi penguatan industri pemuliaan dan perbenihan, menjadi keharusan bagi kita untuk terus memperkuat sektor paling hulu diantaranya ketahanan Plasma Nutfah, memastikan teknologi terkiniseperti molecular breeding diimplementasikan,” paparnya. Terakhir, Dwi Asmono ingin menjadi tenaga pendidik seperti dosen.”Saya ingin berbagi pengetahuan dalam hal pemuliaan benih sawit, best management practices di perkebunan baik sawit, sagu, dan karet. Saya ini sebenarnya ingin menjadi dosen, tapi kebetulan transit dulu di perusahaan,” pungkas Dwi Asmono menutup obrolan sambil tersenyum.

Artikel Terkait