• Rabu, 30 September 2026
Sajian Utama

Dr. Bedjo Santoso Terima Penghargaan Penulis Teraktif di 4th Sawit Indonesia Award 2025

Dr. Bedjo Santoso dianugerahi penghargaan Penulis Teraktif Majalah Sawit Indonesia di ajang 4th Sawit Indonesia Award 2025. Hampir selama satu tahun, Doktor Lulusan IPB ini mewarnai polemik hutan tanaman sawit dengan menawarkan solusi cerdas yang dapat diterima semua pihak .

Majalah Sawit Indonesia menganugerahi Dr. Bedjo Santoso sebagai Penulis Teraktif 2025 dalam ajang Penghargaan 4th Sawit Indonesia Award 2025 di Jakarta pada 16 Desember 2025.

“Kami mengapresiasi penghargaan yang diberikan Majalah Sawit Indonesia untuk gagasan dan pemikiran yang telah disumbangkan melalui artikel sepanjang tahun 2025,” ujar Dr. Bedjo.

Dr. Bedjo Santoso mengatakan penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi terhadap tulisan buah pikiran yang penting bagi masyarakat perkelapasawitan.

⁠”Artikel ini memang saya maksudkan untuk ikut memajukan subsektor perkebunan khususnya dan pertanian pada umumnya,” kata Bedjo.

Dr. Bedjo Santoso mengatakan permasalahan sawit dalam kawasan sebagai dampak manfaat sawit yang dapat meningkatkan kesejahteraan sampai tingkat rumah tangga. Meskipun keberadaan sawit tersebut sebagian belum berijin maka tugas pemerintah untuk memberikan ijin.

“Adapun agar sawit bisa berfungsi ekosistem lingkungan yang baik maka perlu dibangun ekosistem buatan sebagaimana fungsi yang diharapkan,” urainya.

Dr. Bedjo Santoso berpandangan bahwa tanaman kelapa sawit dalam kawasan hutan yang belum berijin tersebut sering menjadi kambing hitam persoalan nasional seperti kegiatan illegal, penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan, pelanggaran hak azasi dan sebagainya.

Padahal keberadaan penanaman kelapa sawit sudah jelas lokasinya, siapa pelakunya, kenapa tidak ditindak, kenapa penegak hukum tidak mampu menertibkan. Jawabanya tentu karena itu urusan kesejahteraan masyarakat banyak (petani sawit), sudah menjadi budaya dan kearifan lokal, dan dilapangan tidak terpengaruh issue lingkungan. Sehingga jawaban tersebut sebagai sesuatu “fakta kebenaran” yang sulit diterapkan hukum represif semata.

Menurutnya,pembangunan perkebunan sawit pada dasarnya sama seperti pembangunan eksosistem hutan tanaman biasa. Kegiatannya dimulai dari persiapan dan pengolahan lahan secara intensif dengan tujuan untuk mendapatkan kondisi lahan yang subur yaitu menciptakan airasi tanah, memperlancar drainase, peningkatkan kesuburan dan lain sebagainya. Apalagi jika jika lahan awalnya tanah marjinal, kurang produktif, dan miskin hara artinya pemupukan dasar tetap diwajibkan.

Ekosistem tanaman sawit, dikatakan Bedjo, pada dasarnya ekosistem yang bagus setelah umur 5 tahun. Lingkungan fisik biotik sudah berupa hamparan lahan dengan tanaman utama kelapa sawit tanaman berkayu dan tutupan daunya atau tajuknya lebih 70%. Gulma ini bisa menjadi sumber pakan ternak, tetapi juga perlu dikendalikan untuk menjaga produktivitas perkebunan. Beberapa jenis tumbuhan yang umum ditemukan di bawah tegakan kelapa sawit antara lain Asystasia coromendeliana, Cyperus rotundus, Elaeis guenensis, Ottochloa nodosa, dan Ageratum conysoides. Dengan banyaknya tumbuhan tersebut dibawah tegakan kelapa sawit juga sebagai habitat rusa, ular, tikus, babi hutan dan sebagainya. Bahkan dibeberapa wilayah seperti Lampung, Bengkulu telah dikembangkan agroforestry dengan mencampurkan berbagai tanaman pangan, ternak sapi dan domba.

Ketua Pelaksana 4th Sawit Indonesia Award 2025 sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah Sawit Indonesia, Qayuum Amri mengapresiasi gagasan dan artikel yang rutin dibuat oleh Dr. Bedjo Santoso sebagai upaya menguraikan permasalahan kawasan hutan yang menjadi tantangan bagi sektor perkebunan sawit.

“Harapan kami, Dr. Bedjo aktif menyampaikan pemikirannya yang sangat konstruktif serta ideal agar industri sawit lebih berkelanjutan dan memberikan kesejahteran kepada masyarakat,” harap Qayuum.

Artikel Terkait