ACEH TIMUR, SAWIT INDONESIA – Upaya peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) perkebunan kelapa sawit di Provinsi Aceh terus dilakukan. Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Best Planter Indonesia (BPI) mengajak 145 peserta Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit untuk melakukan kunjungan lapangan (field visit) ke Koperasi Produsen Perkebunan Berkat Bunga Damai yang berlokasi di Kecamatan Cot Girek, Kabupaten Aceh Utara pada hari sabtu tanggal 3 Oktober 2026.
Kunjungan ini menjadi salah satu agenda Pelatihan yang berlangsung tanggal 28 September – 3 Oktober 2026 secara paralel di Hotel Ayani dan Hotel Amel. Pelatihan ini menjadi bentuk kerjasama positif dan sinergi para pihak, yaitu BPDP sebagai penyandang dana, Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) sebagai pembina teknis, Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi Aceh, Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kabupaten Aceh Timur sebagai pelaksana daerah, dan BPI sebagai provider pelatihan.
Direktur Operasional BPI (Friyandito, S.P., M.M) menjelaskan bahwa pemilihan Koperasi Berkat Bunga Damai bukan tanpa alasan. Koperasi ini dinilai berhasil menjadi role model di provinsi Aceh dalam transformasi kebun sawit rakyat menjadi kebun yang mampu memenuhi standar keberlanjutan global melalui sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Selama pelatihan di kelas, peserta sudah dibekali materi dari para narasumber BPI. Di kunjungan lapang, peserta melihat langsung bukti kebun yang sudah mendapatkan sertifikat RSPO dan menikmati harga premium.
Stigma bahwa sertifikasi RSPO hanya milik perusahaan besar harus dihapus. Menurut Bapak Abu Bakar AR selaku ketua koperasi Berkat Bunga Daman, kunci keberhasilan koperasi terletak pada tiga hal utama. Pertama, penerapan Good Agricultural Practices (GAP) secara disiplin. Kedua, pencatatan administrasi kebun (logbook) yang rapi mulai dari aplikasi pupuk, penyemprotan, hingga rotasi panen. Ketiga, tata kelola kelembagaan koperasi yang transparan dan kuat.
Para peserta pekebun dari Kabupaten Aceh Timur tampak antusias mengikuti setiap sesi dilapangan. Mereka berdiskusi langsung dengan pengurus koperasi dan petani anggota mengenai tantangan awal proses sertifikasi, mulai dari proses pemetaan partisipatif kebun, komitmen tanpa bakar (zero burning), perlindungan Kawasan Nilai Konservasi Tinggi (NKT), hingga manfaat ekonomi yang dirasakan setelah bersertifikat.
Ketua Koperasi menyampaikan bahwa sebelum mendapatkan sertifikasi, produktivitas kebun anggota relatif rendah dan harga jual Tandan Buah Segar (TBS) juga relatif murah. Setelah mendapatkan pembinaan dan menerapkan Good Agriculutral Practices (GAP) sesuai standar RSPO, produktivitas kini meningkat dengan rendemen minyak yang lebih tinggi. “Manfaatnya bukan hanya harga yang lebih baik karena ada premi RSPO, tapi juga biaya operasional lebih efisien. Anggota kami sekarang lebih sejahtera,” jelasnya.
Melalui program Pengembangan SDM Perkebunan BPDP, diharapkan 145 alumni pelatihan ini menjadi agent of change dan motor penggerak di desanya masing-masing. Mereka dibekali tidak hanya ilmu, tetapi juga jaringan dan pendampingan lanjutan oleh Tim BPI melalui program Safari Sawit.














