JAKARTA, SAWIT INDONESIA - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) terus memperkuat diplomasi ekonomi secara agresif di kawasan Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf) serta Amerika dan Eropa (Amerop) guna memperluas penetrasi pasar ekspor komoditas unggulan Indonesia. Minyak sawit, produk makanan dan minuman (mamin), hingga manufaktur menjadi komoditas utama yang dibidik untuk mengisi ceruk pasar global yang kian berkembang.
Staf Ahli Bidang Diplomasi Ekonomi Kemlu, Zelda Wulan Kartika, menyampaikan bahwa kawasan Aspasaf memiliki arti penting dengan mencakup 114 negara dan populasi sekitar 5,8 miliar jiwa. Kawasan ini menjadi pusat perdagangan utama Indonesia karena menaungi mitra dagang raksasa seperti Tiongkok, Jepang, India, Malaysia, dan Singapura.
"Kawasan ini merupakan sumber investasi dan energi, tempat asal investasi strategis serta mitra pemenuhan rantai pasok industri dan energi. Kawasan Pasifik pun merupakan halaman depan strategis," ungkap Zelda dalam konferensi pers Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di ICE BSD, Tangerang, Rabu (30/9/2026).
Poin-poin kunci strategi diplomasi ekonomi dan pemetaan pasar global oleh Kemlu meliputi:
- Ekspansi Nontradisional di Afrika: Afrika menjadi pasar non-tradisional yang sangat potensial dengan populasi 1,4 miliar jiwa. Berbekal ikatan historis sejak Konferensi Asia Afrika (KAA), Kemlu memfokuskan penetrasi minyak kelapa sawit, produk makanan-minuman, dan manufaktur ke wilayah ini.
- Penguatan Pasar Amerop (83 Negara, 1,8 Miliar Jiwa): Kawasan Amerika Serikat dan Eropa Barat tetap diposisikan sebagai tujuan utama ekspor komoditas bernilai tinggi, seperti minyak sawit, tekstil, alas kaki, serta produk elektronik, sekaligus menjadi sumber investasi asing strategis.
- Akselerasi Ekspor UMKM via TEI 2026: Kendati UMKM menyumbang 61% terhadap PDB dan menyerap 97% tenaga kerja nasional, porsi UMKM yang berhasil melakukan ekspor baru mencapai 15,7%. Guna mengikis ketimpangan ini, Kemlu bersama Kementerian Perdagangan memfasilitasi temu bisnis (business matching) antara buyer terkurasi dari berbagai negara dengan pelaku usaha nasional pada ajang Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 yang digelar pada 14–18 Oktober 2026 di ICE BSD.
Melalui optimalisasi perwakilan RI di luar negeri dan pendampingan yang tepat sasaran, Kemlu optimistis diplomasi ekonomi nasional mampu menjembatani diversifikasi pasar bagi komoditas kelapa sawit dan produk UMKM, sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok Indonesia di tingkat global.
Sumber: ekonomi.bisnis.com














