Jakarta, SAWIT INDONESIA - Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil / CPO) bergerak menguat pada perdagangan Jumat (4/9/2026), didorong oleh sentimen kenaikan harga minyak kedelai di bursa Dalian serta lonjakan harga minyak mentah global akibat memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Berdasarkan data perdagangan, kontrak acuan CPO untuk pengiriman November di Bursa Malaysia Derivatives Exchange tercatat naik 0,2 persen menjadi 4.914 ringgit Malaysia per ton hingga jeda siang. Secara kumulatif, kontrak tersebut berada di jalur positif dengan kenaikan mingguan sebesar 0,35 persen.
Trader proprietary Iceberg X Sdn Bhd asal Kuala Lumpur, David Ng, mengungkapkan bahwa pergerakan CPO sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar minyak nabati global. "Kami melihat level support di 4.900 ringgit dan resistance di 5.080 ringgit," ujar David, sebagaimana dikutip dari Reuters.
Di bursa komoditas internasional, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian terpantau naik 0,07 persen, sementara kontrak minyak sawit turun tipis 0,17 persen dan minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) melemah 0,31 persen. Pergerakan harga CPO sendiri kerap mengekor komoditas substitusinya karena persaingan ketat dalam memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.
Sentimen Minjek Mentah dan Prospek Industri
Selain faktor minyak nabati, penguatan harga minyak mentah dunia—yang tengah mencatatkan kenaikan mingguan terbesar sejak pertengahan Juli akibat eskalasi ketegangan AS-Iran dan risiko gangguan pasokan Timur Tengah—turut memberikan katalis positif. Lonjakan harga energi fosil ini membuat CPO semakin kompetitif dan menarik sebagai bahan baku alternatif untuk industri biodiesel.
Di tengah dinamika pasar tersebut, survei Reuters juga memproyeksikan bahwa stok minyak sawit Malaysia pada Agustus berpotensi menyentuh level tertinggi dalam tujuh bulan terakhir. Lonjakan cadangan ini dipicu oleh produksi bulanan yang mencapai level tertinggi dalam sembilan bulan, di tengah tren ekspor yang mengalami pelambatan.
Sementara itu, dari dalam negeri, perusahaan perkebunan sawit milik negara, Agrinas Palma Nusantara, membidik target produksi minyak sawit mencapai 1,5 juta ton pada tahun depan, sebagaimana disampaikan oleh Direktur Utama Agrinas, Mohammad Abdul Ghani. Di sisi lain, langkah ambisius Indonesia memperkuat kendali harga komoditas SDA melalui pembentukan bursa komoditas baru diprediksi masih harus menghadapi tantangan ketat dalam bersaing dengan bursa regional yang lebih mapan, serta risiko pasar jika partisipasi diwajibkan.
Sumber: idxchannel.com














