Ungaran, SAWIT INDONESIA - Direktur AKPY ‘STIPER’, Dr. Sri Gunawan, SP, MP, IPU menjabarkan kegiatan Learning Factory atau praktik kerja lapangan (PKL) yang diikuti mahasiswanya. Sebagai kegiatan yang mempertemukan teori dan praktik langsung di lapangan untuk memperkuat kompetensi sebelum terjun di dunia kerja dunia usaha (industri sawit).
Hal itu diungkapkannya di hadapan Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma (SALMA), Ditjen Perkebunan – Kementerian Pertanian, Ir. Baginda Siagian, M.Si, saat mengunjungi kegiatan Learning Factory AKPY ‘STIPER’ 2026, pada Jum’at (30 Januari 2026), di KP2 SEAT (Stiper Edu Agro Tourism) Ungaran, Jawa Tengah.
Dikatakan Dr. Sri Gunawan, pihaknya menerapkan pembelajaran untuk mahasiswa dengan cara belajar sambil mengerjakan atau learning by doing yang diimplementasikan pada kegiatan Learning Factory.
“Selain itu, pembelajaran di kelas tidak hanya teori, misalnya dua jam pembelajaran (50% teori dan 50% diskusi), lalu dipraktikkan di lapangan. Dan itu terus diulang agar mudah diingat,” katanya.
“Pembelajaran tersebut mengacu pada teori Taksonomi Bloom yaitu mengingat, memahami, dan menerapkan (menyampaikan kembali ke teman-temannya). Itu terus diulang. Dalam praktiknya, di lapangan, masing-masing mahasiswa-mahasiswi menjadi Mandor dengan membawahi anak buah (teman-temannya), dan terus dirotasi sehingga semua praktik menjadi Mandor dan anak buah,” sambung Direktur AKPY ‘STIPER’.
Selanjutnya, ia menegaskan bahwa kegiatan Learning Factory diberikan untuk meng-gembleng mahasiswa dengan latar belakang yang sangat bervariasi. Untuk menyamakan persepsi bidang yang dipelajari sebagai bekal kerja di industri sawit.
“Meski hanya program studi (prodi) dengan jenjang Diploma I, tetapi pembelajaran di AKPY ‘STIPER’ cukup padat. Tidak hanya belajar sesuai dengan prodi (pembibitan dan pemeliharaan), melainkan mempelajari teknis pembukaan lahan, persiapan bibit, penamanan, perawatan hingga panen, jadi semua dipelajari,” tegas Dr. Sri Gunawan.
Bisa di sebut pembelajaran jenjang Diploma 1 dan II di AKPY ‘STIPER’ setara pembelajaran Diploma III, dengan materi yang diberikan secara komprehensif yang didesain dengan kurikulum Blok.
Sebagai informasi, pembelajaran Blok I (persiapan lahan dan pembibitan), Blok II (perawatan), dan Blok III (panen). Semua, kami berikan secara berjenjang, pembelajaran Blok IV (materi tambahan yaitu ISPO dan regulasi). “Inilah yang dibutuhkan perusahaan perkebunan sawit, sehingga lulus sudah siap kerja,” ungkap Dr. Sri Gunawan.
“Kami mendapatkan amanah dari BPDP dan Ditjenbun, untuk itu terus berupaya menyiapkan SDM sawit yang kompeten. Maka, kami selaku Ketua ALPENBUN mengajak semua kampus sawit mitra BPDP untuk meluluskan SDM sawit yang kompeten, mau dan mampu bekerja di industri sawit,” tambahnya.
“Kami juga ingin menularkan “resep” atau kurikulum sebagai acuan pembelajaran di kampus sawit. Terutama kampus-kampus sawit baru yang menyelenggarakan pendidikan Beasiswa SDM Sawit supaya merencanakan dan mengikuti kurikulum sawit berbasis SKKNI. Sehingga, pihak Ditjen Perkebunan yang memberikan rekomendasi peserta mahasiswa dan BPDP yang menyediakan fasilitas Beasiswa SDM Sawit merasa puas karena lulusannya dapat terserap, mau dan mampu bekerja di industri sawit,” pinta pria lulusan Doktor dari Universitas ternama.
Kegiatan Learning Factory sebagai bekal program Magang di industri sawit yang dijadwalkan pada Mei mendatang.
“Kami juga berharap kepada para mahasiswa yang mengikuti program magang dan on job training, bisa langsung gas pool tunjukkan kinerja yang terbaik, hingga wisuda di lokasi magang masing-masing. Harapan berikutnya, setelah kerja dua tahun bisa diangkat menjadi Mandor 1 atau Asisten Kebun. Sudah banyak lulusan Diploma I (prodi pemeliharaan dan pembibitan kelapa sawit) yang mampu bersaing hingga diangkat menjadi Mandor 1 dan Asisten Kebun di perusahaan sawit,” pungkas Dr. Sri Gunawan.














