Yogyakarta, SAWIT INDONESIA — Memasuki usia ke-9, Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY-STIPER) menegaskan komitmennya memperkuat pendidikan vokasi untuk melahirkan sumber daya manusia (SDM) perkebunan yang kompeten dan siap memasuki dunia industri.
Direktur AKPY-STIPER, Dr. Sri Gunawan, S.P., M.P., mengatakan meningkatnya kepercayaan pemerintah dan industri menjadi amanah sekaligus tantangan bagi lembaga pendidikan vokasi tersebut.
Hal itu disampaikan Dr.Sri Gunawan dalam Syukuran Dies Natalis ke-9 AKPY-STIPER, Sabtu (5/9/2026).
Menurutnya, kepercayaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) harus dijawab dengan peningkatan kualitas pendidikan, profesionalisme, serta lulusan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
“Yang perlu kita jaga adalah profesionalisme kita,” tegasnya.
AKPY secara resmi berdiri pada 21 Agustus 2017, setelah proses pembentukannya dimulai sejak 2015. Dalam perjalanannya, jumlah mahasiswa dan program pendidikan maupun pelatihan terus berkembang.
Dr. Sri Gunawan menilai keberhasilan pendidikan vokasi tidak cukup hanya diukur dari jumlah mahasiswa yang diterima atau diluluskan. Ukuran penting lainnya adalah seberapa besar lulusan mampu terserap industri dan memenuhi kebutuhan pengguna tenaga kerja.
Oleh karena itu, AKPY-STIPER akan melakukan evaluasi terhadap serapan alumni dan kepuasan pengguna lulusan mulai September 2026 hingga Februari 2027. Evaluasi tersebut diharapkan menjadi dasar untuk memperbaiki kualitas pendidikan.
“Kita harus membangun alumni-alumni kita itu menjadi lebih baik,” ujarnya.
Tiga Fondasi Lulusan
Untuk menjawab kebutuhan industri, AKPY-STIPER menanamkan tiga fondasi utama kepada mahasiswa, yakni excellent character, excellent skill, dan industry-ready.
Dr. Sri Gunawan menjelaskan, mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai keterampilan teknis perkebunan, tetapi juga memiliki karakter kerja, disiplin, komunikasi, tanggung jawab, serta kemampuan beradaptasi.
“Excellent character, excellent skill, dan industry-ready itu yang perlu kita kembangkan, perlu kita tanamkan kepada mahasiswa supaya betul-betul karakternya kemudian skill-nya itu bisa diterima di industri,” jelasnya.
Tantangan pendidikan vokasi juga berpotensi semakin besar seiring peluang peningkatan kuota beasiswa SDM perkebunan kelapa sawit. Dari sekitar 5.000 penerima, terdapat wacana peningkatan kuota hingga 20.000 mahasiswa.
Jika terealisasi, peningkatan tersebut menuntut perguruan tinggi mitra memperkuat kapasitas pendidikan, pendampingan mahasiswa, hingga memastikan kesiapan lulusan memasuki dunia kerja.
“Artinya kita semuanya harus siap menerima amanah ini dan membuat program ini menjadi lebih baik dan lebih sempurna,” katanya.
Selain kelapa sawit, AKPY-STIPER juga mulai membuka peluang pengembangan pelatihan untuk komoditas perkebunan lain, seperti kakao dan kelapa. Permintaan pelatihan untuk kedua komoditas tersebut bahkan disebut berpotensi menjangkau sekitar 3.000 peserta.
Perluasan ini menunjukkan arah AKPY-STIPER untuk berkembang sebagai lembaga pendidikan vokasi yang mendukung kebutuhan SDM perkebunan secara lebih luas.
Memasuki satu dekade perjalanan, AKPY-STIPER kini menghadapi tantangan untuk membuktikan bahwa pertumbuhan lembaga harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas lulusan.
Bukan sekadar mencetak lulusan, tetapi menyiapkan SDM perkebunan yang berkarakter unggul, memiliki keterampilan unggul, dan benar-benar siap bekerja di industri.














