• Jumat, 2 Oktober 2026
Berita Terbaru

Di IPOC 2024, Wamen Sudaryono Ungkap Kontribusi Besar Sawit

Nusa Dua, SAWIT INDONESIA - Wakil Menteri (Wamen) Pertanian, Sudaryono ungkap fakta-fakta industri kelapa sawit yang berkontribusi besar terhadap energi terbarukan, produk makanan dan industri oleokimia. Hal tersebut disampaikan saat menyampaikan sambutan di acara pembukaan Indonesian Palm Oil Conference (IPOC), pada Kamis (7 November 2024), di Nusa Dua, Bali.

Secara rinci, Wamen Sudaryono, menjelaskan kelapa sawit Indonesia berkontribusi 25% terhadap produksi minyak nabati dunia, dan 59% dari produksi kelapa sawit dunia. Produksi kelapa sawit Indonesia tahun 2023 sebesar 47,08 juta ton, sejumlah 10,2 juta ton untuk keperluan pangan domestik, 2,3 juta ton untuk industri oleokimia, 10,6 juta ton untuk biodiesel dan 23,98 juta ton untuk ekspor.

“Industri kelapa sawit juga menyediakan 16 juta lapangan pekerjaan, termasuk petani skala kecil di daerah sentra-sentra sawit di Indonesia,” jelasnya.

Dilihat dari kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah terkait sektor perkebunan kelapa sawit di antaranya untuk pangan dan energi terbarukan. Kebijakan tersebut, fokus pada kemandirian, mengurangi ketergantungan impor dan menuju keberlanjutan untuk mendukung resiliensi ekonomi dan tujuan-tujuan lingkungan.

“Indonesia telah menerapkan mandat 35% biodiesel berbasis sawit untuk kendaraan dan industri, yang bertujuan untuk meningkatkan pemanfaatan kelapa sawit domestik, mengurangi impor bahan bakar fosil dan mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK),” kata Wamen Sudaryono.

Adaptasi B35 pada tahun 2023, menghasilkan penurunan ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil dan menghemat biaya lebih dari USD 7,9 miliar untuk impor bahan bakar fosil.

Ke depan Indonesia menargetkan B50 (biodiesel 50%). B50 menggambarkan perubahan kebijakan energi, bertujuan untuk mengurangi ketergantungan energi fosil, menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK), serta mendukung agrikultur lokal.

Wamen Sudaryono mengungkapkan untuk meningkatkan produksi kelapa sawit, ada beberapa strategi yang akan diimplementasikan.

Pertama, program penanaman kembali untuk petani kecil, yang harus diimplementasikan menggunakan varietas unggul melalui program peremajaan sawit rakyat (PSR). Ditargetkan 120 ribu hektar per tahun dengan dana hibah dari pemerintah Indonesia (Rp 60 juta/ha) yang telah dimulai sejak tahun 2017 dan dinikmati oleh 365 ribu ha lahan petani kecil,” ungkapnya.

Kedua, dukungan kepada perusahaan perkebunan untuk meningkatkan hasil, dengan mengimplementasikan praktik pertanian yang lebih baik dengan varietas unggul. Ketiga, industri kelapa sawit dikritisi karena menyebabkan deforestasi, hilangnya keanekaragaman hayati dan emisi GRK. Indonesia merespon dengan sistem sertifikasi ISPO dan kebijakan perubahan penggunaan lahan yang lebih ketat,” tambah Wamen Sudaryono.

Keempat, inisiatif peningkatan hasil dengan penekanan pada best practices pada manajemen agrikultur, material tanam unggul dan perbaikan teknik panen.

“Strategi terakhir adalah investasi pada riset dan pengembangan untuk menghasilkan bibit unggul, varietas yang kebal penyakit dan mengembangkan pupuk yang efisien dan ramah lingkungan,” jelas Wamen Sudaryono.

“Selain itu, untuk meningkatkan kualitas minyak kelapa sawit petani dengan menyediakan asistensi dan pelatihan untuk mendorong petani kecil mengadaptasi praktik keberlanjutan, metode tinggi produktivitas dan good agricultural and management,” lanjutnya.

Artikel Terkait