• Kamis, 1 Oktober 2026
Berita Terbaru

Daya Santosa Rekayasa Tawarkan Teknologi Smart Farming

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Indonesia berada di ambang peluang besar dalam sektor pertanian, namun tantangan teknologi juga tak bisa dihindari.

Direktur PT Daya Santosa Rekayasa, Petrus Andianto menyatakan bahwa dalam waktu dekat, gelombang besar investasi global akan mengarah ke sektor pertanian. Oleh karena itu, Indonesia harus segera membenahi kesiapan teknologinya agar tidak tertinggal di era smart farming.

"Miliarder dunia akan bergeser ke pertanian. Mau tidak mau Indonesia akan jadi sangat seksi karena pertanian kita masih belum maju. Kita harus siap agar tidak tergilas teknologi luar," kata Petrus dalam sebuah diskusing daring, Kamis (3/7/2025).

Petrus menyoroti pentingnya penerapan teknologi canggih di sektor pertanian demi mendongkrak produktivitas, efisiensi, dan daya saing petani lokal. Menurutnya, definisi smart farming tidak sekadar penggunaan alat modern melainkan ekosistem berbasis data dan konektivitas tinggi yang memungkinkan pengambilan keputusan lebih akurat dan real-time.

Petrus memaparkan lima pilar utama dalam membangun sistem pertanian cerdas: Monitoring berbasis sensor untuk mengumpulkan data tanah, iklim, dan air. Kedua, konektivitas online sebagai fondasi sistem pintar dan real-time. Ketiga, prediksi berbasis AI seperti analisis fisiologi tanaman melalui kamera dan satelit. Ketiga, manajemen budidaya digital, seperti irigasi dan pemupukan otomatis. Keempat analisis dan evaluasi historis untuk menghasilkan keputusan pertanian berbasis data jangka panjang.

"Kalau kita tidak berkomunikasi dengan AI, kita akan tertinggal. AI di pertanian umurnya sudah 10 tahun. Sistem harus selalu di-update dengan data dari petani," jelasnya.

Perusahaan yang berbasis di Malang ini telah mengembangkan berbagai inovasi, mulai dari sistem monitoring berbasis drone di lahan terbuka dan greenhouse, hingga integrasi 22 band narrow spectrometer untuk membaca kondisi tanaman secara presisi.

"Kalau kita tahu tanaman menguning, kita harus bisa jawab: karena air atau klorofilnya? Dan itu harus bisa diputuskan secara cepat. Saat ini belum ada alat lokal yang bisa mendeteksi dengan akurat," ungkapnya.

Di luar negeri seperti Belanda, teknologi ini sudah lazim digunakan secara komersial, termasuk drone yang menghitung survival rate tanaman hingga sistem spray otomatis yang bisa bekerja sebelum hujan tiba—berkat prediksi akurat dari ground weather sensors.

Petrus juga menyampaikan bahwa teknologi smart farming seperti Automated Plant Scanner (APS) kini digunakan perusahaan-perusahaan global di Indonesia. Selain mendeteksi kematangan buah dan penyakit tanaman, APS juga bisa menjadi “pisau bermata dua” karena berpotensi menggeser peran petani tradisional jika tidak diimbangi adaptasi teknologi dari dalam negeri.

Selain itu, penggunaan satelit monitoring system kini sudah mulai diterapkan pada tanaman tebu dan sawit, termasuk smart drip system dan center pivot untuk irigasi presisi di tingkat petani pemula.

“Kalau dikembangkan, cuannya besar. Tapi tanpa kesiapan teknologi, kita bisa cuma jadi penonton,” tutup Petrus.

Artikel Terkait