YOGYAKARTA – Sawit, kakao, dan kelapa tidak hanya menjadi komoditas perkebunan, tetapi juga sumber ide bisnis yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah hingga startup.
Semangat tersebut menjadi fokus Workshop Startup Produk UMKM Berbahan Sawit, Kakao, dan Kelapa yang digelar Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Politeknik LPP di Kaliurang, Yogyakarta, 5 Agustus 2026.
Kegiatan yang merupakan rangkaian Youthpreneurship Planters Bootcamp (YPB) ini diikuti 50 peserta dari delapan perguruan tinggi di wilayah LLDIKTI V. Peserta dibekali pemahaman tentang kewirausahaan sekaligus diajak mengenali potensi produk berbasis limbah dan produk sampingan perkebunan, membaca peluang pasar, menyusun model bisnis, hingga mempresentasikan gagasan usaha.
Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, mengatakan YPB menjadi bagian dari komitmen BPDP sebagai BLU Kementerian Keuangan dalam mendorong kewirausahaan generasi muda berbasis komoditas perkebunan.
Menurutnya, sawit, kakao, dan kelapa memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi beragam produk bernilai tambah.
“Ada potensi-potensi di kelapa sawit, kakao dan kelapa yang bisa diusahakan sebagai ajang untuk membangun kewirausahaan mahasiswa,” kata Helmi melalui sambungan virtual.
Ia berharap mahasiswa dapat menjadi pencipta usaha baru berbasis komoditas perkebunan dan membangun UKMK yang berkelanjutan.
Dari Ide hingga Eksekusi
Workshop dikemas interaktif melalui diskusi, permainan, kerja kelompok, dan praktik. Diaz Fahmi melalui sesi Outbound Team Building dan Character Building melatih peserta membangun komunikasi, kepemimpinan, kepercayaan, pemecahan masalah, dan kekompakan tim.
“Startup yang kuat lahir dari tim yang saling percaya, mampu berkomunikasi dengan baik, memiliki karakter tangguh, serta mampu bangkit ketika menghadapi tantangan,” jelas Diaz.
Selanjutnya, Venny Triana melalui materi Building Entrepreneurial Mindset mengajak peserta melihat peluang, memahami kebutuhan pasar, dan berani memulai usaha.
“Mindset seorang entrepreneur adalah selalu melihat peluang di balik setiap tantangan,” ungkapnya.
Peserta kemudian mempelajari identifikasi usaha, segmentasi pasar, dan analisis SWOT bersama Hengky Setiawan. Materi ini membantu peserta menilai potensi pasar sekaligus menyusun strategi usaha yang lebih realistis.
Sementara Yudi Mustarifin membekali peserta dengan Business Plan dan Execution Strategy, mulai dari model bisnis, pemasaran, operasional hingga perencanaan keuangan.
“Ide bisnis hanya akan menjadi konsep apabila tidak diikuti dengan aksi nyata,” kata Yudi.
Diuji Lewat Business Pitch
Rangkaian kegiatan ditutup dengan business pitch. Setiap kelompok mempresentasikan gagasan usaha berbasis sawit, kakao, dan kelapa, kemudian mendapat masukan mengenai produk, target pasar, model bisnis, strategi pemasaran, serta peluang pengembangan menjadi startup.
Sesi tersebut sekaligus melatih kemampuan peserta dalam berkomunikasi, berpikir kritis, dan meyakinkan calon mitra maupun investor.
Salah seorang peserta mengapresiasi metode pembelajaran yang memadukan teori dan praktik.
“Kami mendapatkan banyak wawasan baru tentang bagaimana membangun startup sejak dari ide hingga strategi bisnis,” ujarnya.
Melalui workshop ini, BPDP dan Politeknik LPP berharap gagasan yang lahir tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi berkembang menjadi usaha nyata berbasis sawit, kakao, dan kelapa.
Pengembangan tersebut diharapkan menciptakan nilai tambah komoditas, membuka peluang usaha dan lapangan kerja, serta memperkuat daya saing produk UMKM perkebunan. Nilai ekonomi komoditas pun tidak hanya berasal dari bahan baku, tetapi juga dari kreativitas dalam mengolah, mengemas, dan memasarkannya menjadi produk yang dibutuhkan konsumen.














