Kuala Lumpur, SAWIT INDONESIA — Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) mendapatkan undangan untuk menjadi narasumber dalam Agri Malaysia (AGMY) 2026 yang digelar pada 10–12 September 2026 di Malaysia International Trade and Exhibition Centre (MITEC), Kuala Lumpur.
Di event bergengsi ini, APKASINDO mendapat kesempatan menyampaikan pandangan mengenai potensi dan peluang petani kelapa sawit Indonesia di forum internasional.
Ketua Departemen Bidang Hubungan Internasional dan Diplomasi Sawit DPP APKASINDO, Dr. (cn) Djono A. Burhan, S.Kom., MMgt (Int. Bus), CC, CL, mendapat penugasan khusus untuk hadir sebagai pembicara mewakili Ketua Umum DPP APKASINDO Dr. Ir. Gulat Medali Emas Manurung, MP., C.IMA., C.APO.
Menurut Djono, undangan tersebut memiliki arti strategis bagi petani sawit Indonesia sekaligus melihat secara langsung strategi petani sawit Malaysia dalam industri hulu-hilir sawit Malaysia.
“Apalagi baru dilaksanakan pertemuan petaninsawit dunia di IKN dan menghasilkan komitmen bersama yang dikenal dengan W’COP Smallholder’s” ujar Djono yang merupakan Kandidat Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Riau.
Kami mengucapkan terimakasih kepada Agri Malaysia atas undangan khususnya ini dan tentu suatu kehormatan bahi APKASINDO, kata Djono.
Djono dijadwalkan berbicara dalam sesi “Palm Oil Smallholders in Indonesia and Opportunities” pada 10 September 2026 pukul 16.30–17.30 waktu setempat. Forum tersebut menjadi ruang bagi APKASINDO memperkenalkan potensi serta peluang pengembangan petani kelapa sawit Indonesia dimasa pemerintahan Presiden Prabowo. Banyak hal program untuk petani sawit, dari mulai SDM, SARPRAS sampai ke Koperasi Sawit Merah Putih yang sudah masuk ke sektor hilir, lanjut Djono.
“Pak Ketum menitip pesan supaya dalam pemaparan APKASINDO nanti menguraikan sinergisitas Program dari Kementerian BAPPENAS melalui Program PSN Sawit Rakyat dengan Asta Cita Presiden Prabowo karena hal ini sangat perlu diketahui oleh dunia”, kata Djono.
Selain menjadi pembicara, APKASINDO juga memperoleh dukungan dari Agri Malaysia untuk mengisi satu booth. Stan tersebut akan digunakan untuk menampilkan berbagai produk yang dihasilkan petani kelapa sawit Indonesia sehingga dapat diperkenalkan kepada pengunjung dan peserta AGMY 2026.
Djono mengatakan kesempatan tersebut penting karena diplomasi petani tidak hanya dilakukan melalui forum diskusi, tetapi juga dengan memperkenalkan kemampuan petani menghasilkan produk dan mengembangkan usaha berbasis kelapa sawit. Terlebih setelah APKASINDO melakukan penandatanganan Joint Statement World Coalition of Oil Palm Smallholders (WCOPS) bersama sejumlah organisasi petani kelapa sawit dari berbagai negara di agenda International Oil Palm Smallholders (IOPS) Forum 2026 di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, Agustus lalu.
“Sesuai arahan Bapak Ketua Umum DPP APKASINDO, petani kelapa sawit harus bersatu dan membangun ekosistem yang berkelanjutan. Salah satunya dengan mendorong pemanfaatan teknologi tepat guna,” ujar Djono.
Menurut dia, kolaborasi lintas negara diperlukan agar petani tidak hanya menjadi penerima kebijakan, tetapi ikut terlibat dalam pembentukan ekosistem sawit yang berkelanjutan. Teknologi, jejaring internasional, serta penguatan kapasitas petani dinilai menjadi bagian penting untuk meningkatkan daya saing perkebunan rakyat.
Bagi APKASINDO, kehadiran di AGMY 2026 sekaligus menjadi kelanjutan dari diplomasi petani yang dibangun di berbagai forum internasional. Petani sawit Indonesia tidak hanya ingin dikenal sebagai pemasok bahan baku, tetapi juga sebagai bagian penting dari rantai nilai industri sawit global.














