• Senin, 28 September 2026
Berita Terbaru

Dari Ikan Lokal Jadi Produk Bernilai, Srikandi Tanjung Rangas Langsung Kebanjiran Pesanan

SERUYAN, SAWIT INDONESIA – Ikan lais, toman, sanggang, dan haruan yang selama ini menjadi potensi perikanan lokal di Desa Tanjung Rangas, Kabupaten Seruyan, mulai naik kelas. Di tangan Kelompok Srikandi Tanjung, komoditas tersebut diolah menjadi aneka produk bernilai tambah dan langsung mendapat respons pasar.

Sebanyak 31 perempuan anggota Kelompok Srikandi Tanjung mengikuti pelatihan dan mentoring kewirausahaan pengolahan ikan yang digelar PT Sarana Titian Permata (STP), bagian dari Wilmar Group, melalui program CSR pilar perekonomian pada 24–27 Juli 2026.

Selama empat hari, para peserta tidak hanya belajar mengolah ikan, tetapi juga mendapatkan pendampingan dari tim UMKM Berkat Uhat Kayu Palangkaraya yang didatangkan perusahaan. Materi mencakup pengolahan, pengemasan, hingga pemasaran produk.

Hasilnya, kelompok usaha perikanan pertama di Desa Tanjung Rangas ini berhasil mengembangkan 12 jenis produk olahan ikan. Di antaranya abon, amplang, kerupuk, steak ikan, ikan kering berbumbu, ikan kering premium, nugget, sempol ikan, pentol, dan ikan marinasi dengan cita rasa khas lokal.

Yang menarik, hasil pelatihan tersebut tidak berhenti menjadi produk uji coba. Pesanan mulai berdatangan.

Ketua Kelompok Srikandi Tanjung, Emilda Rosihani, mengatakan kelompoknya kini telah menerima 140 bungkus pesanan.

“Saat ini kami sudah menerima 140 bungkus pesanan,” ujarnya.

Produk Srikandi Tanjung juga langsung diuji di pasar melalui keikutsertaan dalam stand pameran UMKM Kecamatan Seruyan Hilir pada rangkaian MTQ Kabupaten Seruyan. Respons konsumen cukup tinggi. Produk UMKM asal Tanjung Rangas tersebut dilaporkan ludes terjual.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat mulai menghasilkan aktivitas ekonomi yang nyata. Kelompok tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga mulai membangun produk dan pasar.

Tak Berhenti pada Bantuan Alat

Untuk memastikan usaha dapat berjalan berkelanjutan, PT STP tidak hanya memberikan pelatihan. Perusahaan juga mendukung sarana dan prasarana produksi berupa rumah jemur ikan berukuran 3x4 meter, freezer box berkapasitas 300 liter, spinner peniris minyak, vacuum sealer, blender, alat pemotong kerupuk, serta berbagai peralatan pengolahan lainnya.

Dukungan juga diperluas ke aspek legalitas. PT STP membantu memfasilitasi pengurusan legalitas usaha dan izin edar produk melalui PIRT serta sertifikasi halal.

Dengan demikian, produk yang dihasilkan kelompok tidak hanya memiliki nilai tambah, tetapi juga dipersiapkan untuk dapat dipasarkan kepada konsumen yang lebih luas.

Sekretaris Desa Tanjung Rangas, Amalia Ridha, SE, mengapresiasi dukungan tersebut. Menurutnya, kegiatan ini memberikan keterampilan baru bagi perempuan desa sekaligus membuka peluang peningkatan ekonomi keluarga.

“Kegiatan ini sangat membantu para ibu atau perempuan di desa kami untuk memiliki keterampilan baru dalam mengolah hasil perikanan menjadi produk yang memiliki nilai jual. Kami berharap ke depan kelompok bisa mandiri, memiliki produk unggulan desa serta mampu meningkatkan ekonomi keluarga,” ujarnya.

Apresiasi juga disampaikan Kepala Bidang Pengolahan Dinas Perikanan Kabupaten Seruyan, M. Fahruraji. Ia menilai program pemberdayaan tersebut turut mendukung pengembangan sektor perikanan melalui peningkatan nilai tambah hasil perikanan lokal.

“Semoga sinergi dan kolaborasi yang telah terjalin antara PT. STP dengan masyarakat Desa Tanjung Rangas dapat terus berlanjut demi mewujudkan sektor perikanan yang maju, mandiri dan berkelanjutan di Kabupaten Seruyan,” ungkapnya.

CSR Manager PT STP, Widiyanto, mengatakan dukungan perusahaan diarahkan agar kelompok mampu mengolah potensi perikanan lokal menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dan daya saing.

“Melalui dukungan pelatihan ini kami ingin membantu kelompok mampu mengolah hasil perikanan agar memiliki nilai tambah dan daya saing di pasar,” katanya.

Bagi Srikandi Tanjung, pelatihan empat hari tersebut menjadi titik awal. Dari ikan yang sebelumnya dijual sebagai komoditas segar, kini muncul beragam produk olahan, peralatan produksi yang lebih memadai, legalitas usaha, hingga pesanan dari konsumen.

Pemberdayaan pun mulai menunjukkan hasil: bukan hanya keterampilan yang bertambah, tetapi juga produk yang terjual dan pasar yang mulai terbentuk.

Artikel Terkait