• Minggu, 27 September 2026
Sajian Utama

CPOPC Dorong Kesetaraan Petani di IOPS Forum

Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) mendukung bergabungnya petani sawit dari berbagai negara dalam World Coalition of Oil Palm Smallholders atau Koalisi Petani Sawit Global. Soliditas antar petani sawit menjadi instrumen menghadapi tekanan terhadap sektor sawit baik di pasar global dalam bentuk kamapnye negatif dan hambatan perdagangan.

Masa depan industri kelapa sawit global tidak dapat dipisahkan dari keberadaan para petani kecil. Hal tersebut ditegaskan oleh Director of Sustainability and Smallholders CPOPC, Antonius Yudi Triantoro, M.A., saat memberikan sambutan dalam gelaran International Oil Palm Smallholders (IOPS) Forum 2026 yang berlangsung di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur..

Antonius menyoroti keberadaan petani kecil yang kerap hanya dipandang sebatas faktor produksi. Padahal, peran mereka sangat vital dalam menopang perekonomian negara produsen sawit.

"Kita lupa bahwa peran mereka sangat besar dalam menciptakan lapangan kerja di pedesaan, mengurangi kemiskinan, menggerakkan perekonomian, dan memperkuat ketahanan masyarakat pedesaan," tegas Antonius.

Meski berasal dari negara yang berbeda dengan regulasi bervariasi, petani kecil sawit global menghadapi masalah yang hampir serupa. Keterbatasan akses terhadap pembiayaan, teknologi, informasi, pasar, hingga kendala peningkatan produktivitas menjadi tantangan utama yang masih membayangi.

“Komunitas internasional pada saat ini harus bertanya, dukungan apa yang harus diberikan kepada petani kecil untuk memenuhi kebijakan atau aturan internasional,” katanya.

Sebagai organisasi yang menaungi negara-negara penghasil sawit, CPOPC menegaskan komitmennya untuk terus mengawal pemberdayaan petani. Saat ini, CPOPC beranggotakan lima negara—Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Honduras, dan Thailand—dengan Nigeria yang sedang dalam proses bergabung sebagai anggota keenam.

Antonius berharap IOPS Forum 2026 tidak berhenti sebagai acara seremoni semata, melainkan menjadi pijakan awal lahirnya kerja sama strategis dan resolusi bersama. Kolaborasi lintas negara ini diharapkan mampu menyuarakan aspirasi petani kecil agar semakin diperhitungkan dalam peta industri sawit dunia.

Ia mengatakan CPOPC menyambut baik inisiatif penyelenggaraan forum petani kecil internasional tersebut karena sejalan dengan fungsi organisasi. Selain melakukan kerja sama dan promosi kelapa sawit, CPOPC juga memiliki perhatian terhadap pemberdayaan petani kecil di negara-negara anggotanya.

“Salah satu fungsi utama CPOPC adalah melakukan kerja sama dan promosi kelapa sawit. Tetapi kita tidak boleh melupakan pemberdayaan petani kecil. Ini menjadi salah satu tugas utama dari CPOPC,” ujarnya.

Menurutnya, keberagaman negara produsen sawit yang terlibat dalam forum menjadi kekuatan untuk membangun perspektif bersama. Pengalaman masing-masing negara dapat menjadi bahan pembelajaran dalam menghadapi persoalan yang dihadapi petani kecil.

“Harapan kami dari forum ini akan muncul ide-ide yang semangat bagaimana melibatkan petani kecil dan merancang sejarah kebangkitan kita,” katanya.

Ia pun mengapresiasi DPP APKASINDO yang telah menginisiasi pertemuan petani kecil dari berbagai negara produsen kelapa sawit. Menurut Antonius, kolaborasi lintas negara diperlukan agar suara petani kecil semakin kuat dalam pembahasan industri sawit global.

Melalui IOPS Forum 2026, CPOPC berharap terbentuk gagasan dan resolusi bersama yang dapat memperkuat posisi petani kecil sekaligus memastikan keberlanjutan industri kelapa sawit di masa depan.

Artikel Terkait