Dewan Negara Produsen Minyak Nabati (Council of Palm Oil Producing Countries/CPOPC) menyerukan kerjasama dan kolaborasi produsen minyak nabati untuk memenuhi kebutuhan pangan serta energi dunia.
Berada di wilayah selatan Belanda, nama Rotterdam tidaklah asing bagi pengusaha dan petani sawit di Indonesia. Semenjak ratusan tahun lalu, Rotterdam menjadi pintu gerbang perdagangan komoditas dunia termasuk Indonesia untuk masuk ke pasar Eropa.Itu sebabnya, CPOPC memilih kota seluas 325,79 km2 ini untuk mengundang stakeholder minyak nabati di 3rd Sustainable Vegetable Oil Conferencedi Rotterdam Ahoy, Belanda,10 September 2024.
“Melalui konferensi tahun ini, kami ingin membangun kesadaran bahwa dunia itu tidak bisa dipenuhi oleh any single vegetable oil termasuk sawit. Jangan lagi ada pandangan mengalahkan satu dengan yang lain tetapi menjadi common challenge. Kita harus pikirkan bagaimana kebutuhan dunia dalam 20-30 tahun mendatang,” urai Sekretaris Jenderal CPOPC, Dr Rizal Affandi Lukman kepada Majalah Sawit Indonesia di Rotterdam.
Karena itulah, dikatakan Rizal Affandi, forum SVOC ke-3 memberikan wawasan tentang penelitian mutakhir dan kemajuan teknologi yang berguna untuk meningkatkan keberlanjutan berbagai tanaman minyak, dari minyak kelapa sawit hingga minyak bunga matahari, minyak rapeseed, hingga minyak kedelai.
3rd SVOC diselenggarakan Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) bersama The Netherlands Oils and Fats Industry (MVO) yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).
Konferensi tahun ini menyajikan 4 topik yang menghadirkan narasumber dari asosiasi minyak nabati non sawit, kelompok usaha sawit, dan Organisasi dunia antara lain Komisi Uni Eropa, Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization, FAO), Badan Energi Terbarukan Internasional (International Renewable Energy Agency, IRENA), Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Perdagangan dan Pembangunan (United Nations for Trade and Conference, UNCTAD), dan Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization, WTO).
Chief Executive Officer of ISTA Mielke GmbH (OilWorld) Thomas Mielke, yang menjadi pembicara menguraikan permintaan minyak dan lemak (oil and fats) terus menguat dalam 30 tahun terakhir yang digunakan bagi pangan, energi, dan oleokimia. Dalam presentasinya, data Oil World menunjukkan pertumbuhan konsumsi minyak dan lemak sebesar 4,1 juta ton periode 2003/2004, lalu periode 2013/2014 sebesar 7,1 juta ton, dan 5,9 juta ton pada 2023/2024.
Minyak kelapa sawit, yang digunakan dalam berbagai produk mulai dari lipstik sampai minyak goreng, telah kehilangan dinamika pertumbuhannya karena berbagai tantangan seperti kurangnya penanaman kembali, kurangnya pasokan bibit, masalah keberlanjutan dan sertifikasi, meningkatnya biaya produksi, dan perlambatan penanaman baru.
“Produktivitas minyak kelapa sawit telah turun jauh di bawah tren sejak tahun 2019. Telah terjadi penurunan produktivitas yang mengkhawatirkan sehingga meningkatkan ketergantungan global terhadap minyak kedelai, biji matahari dan rapeseed,” kata Mielke.
Sekretaris Jenderal Kementerian Perkebunan dan Komoditas Malaysia Dato' Yusran Shah bin Mohd Yusof, menekankan bahwa Malaysia sepenuhnya memahami bahwa meskipun peningkatan produksi sangat penting bagi ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi, hal tersebut harus dicapai dengan cara yang menjaga lingkungan, melestarikan keanekaragaman hayati, dan menghormati hak dan mata pencaharian masyarakat setempat.
Saat ini, kebutuhan minyak nabati dari sektor energi diproyeksikan juga akan meningkat. Permintaan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF) telah menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana biodiesel dan hydrotreated vegetable oil (HVO) akan terpengaruh permintaan ini.
Mielke menjelaskan bahwa pasokan bahan baku yang dapat diandalkan dan berkelanjutan - mulai dari minyak goreng dan minyak nabati hingga sampah kota, limbah gas, dan residu pertanian - sangat penting untuk produksi SAF.
Data IATA (The International Air Transport Association/Asosiasi Maskapai Udara Internasional) menguraikan proyeksi kebutuhan SAF dunia yang mencapai 30 miliar – 35 miliarliter pada 2030 (7%-10% mixed fuel) dan 300 miliar – 450 miliarliter pada 2050 (65% mixed fuel).
Mielke mengkhawatirkan pertumbuhan yang tidak mencukupi dalam pasokan global minyak goreng bekas, lemak/gemuk dan bahan baku non-pangan lainnya di tahun-tahun mendatangakan mempertahankan ketergantungan yang tinggi pada minyak kelapa sawit, minyak kedelai, dan minyak rapeseed sebagai bahan baku untuk produksi bahan bakar nabati.
Sementara itu, negara produsen sawit dari Amerika Latin, Wakil Menteri Pertanian dan Peternakan Honduras, Lid Roy Lazo Rodríguez, menegaskan kembali bahwa transisi menuju produksi minyak nabati berkelanjutan merupakan tantangan yang harus ditangani dengan keseriusan, keyakinan, dan visi jangka panjang.
Duta Besar Bidang Bisnis dan Pembangunan dan Direktur Departemen Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan Kementerian Luar Negeri Kerajaan Belanda, Marchel Gerrmann, menggaris bawahi pentingnya kolaborasi internasional untuk mengadopsi peraturan baru, mengintensifkan dialog antara negara konsumen dan produsen, serta menggunakan perjanjian perdagangan untuk memastikan adanya kesetaraan dalam upaya mendorong keberlanjutan.
(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 155)














