Jakarta, SAWIT INDONESIA — Di tengah tantangan cuaca ekstrem dan fenomena El Niño yang berdampak terhadap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di berbagai wilayah Indonesia, Bumitama Agri Ltd telah mengimplementasikan kebijakan yang ketat dan komprehensif dalam pengendalian kebakaran lahan dan hutan melalui Kebijakan Tanpa Bakar (Zero Burning Policy).
Komitmen ini ditegaskan lagi seiring dengan kejadian karhutla serta kabut asap yang melanda wilayah di Kalimantan. Manajemen Bumitama dalam keterbukaan informasi di Bursa Singapura, menyatakan bahwa pencegahan dan pengelolaan kebakaran merupakan prioritas jangka panjang yang dijalankan melalui pendekatan komprehensif, mulai dari pencegahan, deteksi dini, kesiapsiagaan, pemadaman, hingga pemulihan.
Untuk mengantisipasi risiko kebakaran di musim kemusim 2026 yang cukup berat, Bumitama mengandalkan teknologi pemantauan mutakhir. Pemantauan risiko kebakaran dilakukan secara real-time menggunakan pelacakan titik panas (hotspot) berbasis satelit, pemantauan lapangan 24 jam dengan patroli per jam, CCTV berbasis kecerdasan buatan (AI), dan drone pencitraan termal.
Selain itu, infrastruktur tata kelola air—seperti waduk dan bendungan limpahan kanal di area gambut—terus dijelihkan guna menjaga tingkat kelembapan tanah selama musim kering. Tim pemadam kebakaran khusus juga didukung oleh sarana memadai mulai dari pompa, selang, truk pemadam, truk tangki air, hingga alat berat.
Kolaborasi Tingkat Tapak dan Desa Bebas Api
Pendekatan pencegahan Bumitama tidak hanya terbatas di dalam batas konsesi operasional, melainkan merambah ke wilayah sekitar melalui program Desa Bebas Api (Fire-Free Village) dan Masyarakat Peduli Api (MPA). Melalui program ini, perusahaan aktif bekerja sama dengan masyarakat sekitar untuk meningkatkan kesadaran bahaya kebakaran, pelatihan bersama, patroli gabungan, serta respons dini.
Menjelang musim kemusim 2026, Bumitama semakin memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, Manggala Agni, pemerintah desa, perusahaan tetangga, dan komunitas lokal. Khusus di Kalimantan Tengah saja, Bumitama bekerja sama dengan 12 desa tetangga sepanjang tahun 2026 demi memperkuat pencegahan berbasis komunitas.
Bumitama juga mengerahkan sumber daya secara masif untuk mencegah munculnya titik api di luar konsesi perusahaaan. Tim pemadam bekerja sepanjang waktu, dibantu oleh masyarakat, aparat keamanan, dan pemangku kepentingan terkait. Di area lahan marjinal, pemantauan intensif terus dilakukan meski api permukaan telah padam guna mengantisipasi bara di bawah tanah (underground smouldering).














