Lampung, SAWIT INDONESIA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Teknologi Mineral (PRTM) kembali menegaskan komitmennya dalam mengoptimalkan potensi mineral strategis dan pemanfaatan limbah industri, melalui webinar bertajuk Diskusi Seputar Mineral Strategis Indonesia seri ke-10, Kamis (13/8).
Kepala PRTM BRIN Fajar Nurjaman menjelaskan, webinar ini bertujuan untuk membagikan hasil riset terbaru para peneliti BRIN kepada masyarakat. Sekaligus membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak eksternal demi kemajuan industri tambang dan mineral di Indonesia.
"Fokus riset pengolahan mineral di Indonesia saat ini telah mengalami perubahan besar. Jika beberapa tahun lalu Indonesia fokus terhadap hilirisasi dari mineral nikel dan bauksit dengan orientasi produk. Sekarang peneliti dituntut untuk memanfaatkan sisa atau limbah hasil tambang agar bisa diolah menjadi produk baru yang berdaya jual tinggi," jelas Fajar.
Menurutnya, pengembangan teknologi ramah lingkungan juga menjadi perhatian penting dalam proses pengolahan mineral ke depan. “Dengan sinergi yang kuat, pengembangan teknologi pengolahan limbah dan metalurgi hijau dapat menguatkan hilirisasi mineral strategis. Di samping itu juga mendukung keberlanjutan industri nasional di masa depan,” ungkapnya.
Para narasumber memaparkan dua inovasi mutakhir yang menjawab tantangan lingkungan dan kemandirian industri, yaitu transformasi residu bauksit (red mud) menjadi produk bernilai tinggi. Hingga penggunaan biokokas cangkang kelapa sawit sebagai reduktor ramah lingkungan pada pengolahan nikel dan besi.
Purna Bakti Periset Pusat Riset Teknologi Mineral BRIN, Sariman memaparkan materi mengenai Transformasi Residu Bauksit Menjadi Produk Bernilai Tinggi Melalui Pendekatan Pirometalurgi dan Hidrometalurgi untuk Hilirisasi Mineral Strategis Indonesia.
“Urgensi pengelolaan residu bauksit ber-pH tinggi volumenya mencapai 6 hingga 10 juta ton per tahun. Hal tersebut agar tidak mencemari lingkungan sekaligus dapat dimanfaatkan potensi ekonominya,” terangnya.
Menurut Sariman, residu bauksit memiliki potensi ekonomi yang sangat besar karena mengandung besi berkisar 20–60% serta unsur Logam Tanah Jarang (LTJ) seperti Neodymium, Scandium, dan Lanthanum.
“Melalui kombinasi hidrometalurgi dan pirometalurgi dengan pelindian asam sulfat pada kondisi optimum, ekstraksi Neodymium dan skandium mampu mencapai efisiensi masing masing perolehan hingga 99,6% dan 80,3% secara selektif,” ujarnya.
Karakteristik ini membuktikan bahwa metode hidrometalurgi yang dikembangkan bersifat scalable, hemat energi, serta mendukung prinsip ekonomi sirkular dengan mengubah limbah industri menjadi sumber daya sekunder bernilai tambah tinggi.
Sementara itu Dosen Prodi Teknik Kimia Institut Teknologi Kalimantan, Asful Hariyadi memaparkan topik tentang Dekarbonisasi Metalurgi: Eksplorasi Turunan Biokarbon Cangkang Kelapa Sawit sebagai Reduktor Ramah Lingkungan pada Pengolahan Nikel dan Besi.
Asful menjelaskan mengenai tantangan ketergantungan impor kokas dari bahan baku batubara yang menyumbang emisi karbon signifikan dalam peleburan nikel dan besi.
“Limbah cangkang kelapa sawit (CKS) yang melimpah ternyata dapat dikembangkan menjadi biokokas terbarukan yang ramah lingkungan. Briket biokokas berbasis cangkang sawit ini memiliki kadar Karbon Terikat di atas 80%, serta kekuatan tekan mekanis yang memenuhi kriteria standar untuk penggunaannya dalam blast furnace,” jelasnya.
Melalui uji coba peleburan feronikel, penggunaan biokokas CKS mencatatkan tingkat perolehan hingga 92% untuk nikel dan 88% untuk besi.
“Berdasarkan studi Life Cycle Assessment, integrasi biokokas ini mampu menekan potensi pemanasan global secara drastis hingga di bawah 0,5 kg CO2-eq/kg produk, jauh lebih rendah dibanding kokas batubara konvensional,” jelasnya.
Inovasi yang dipaparkan dalam forum ini membuktikan komitmen BRIN bersama perguruan tinggi dalam mendukung hilirisasi industri mineral yang hijau dan ramah lingkungan. Melalui teknologi ini, limbah yang tadinya mencemari lingkungan kini bisa diubah menjadi bahan berharga, sekaligus mengurangi polusi asap pabrik demi keberlanjutan lingkungan hidup Indonesia.
Sumber: brin.go.id














