SAWIT INDONESIA - Peningkatkan produktivitas tanpa memperluas lahan bagi pekebun sawit swadaya adalah pilihan terbaik untuk dilakukan. Fakta dilapangan, pekebun swadaya secara umum belum menerapkan Best Management Practice dan pengelolaan kebun yang ramah lingkungan. Untuk memantapkan pemahaman pekebun sawit, pada hari Sabtu 3 Oktober 2026, Best Planter Indonesia (BPI) mengajak 145 peserta pelatihan untuk kunjungan Lapang ke Koperasi Produsen Perkebunan Berkat Bunga Damai yang berlokasi di Gampong Cot Girek, Kecamatan Cot Girek, Kabupaten Aceh Utara.
Peserta pelatihan berangkat dari hotel Diana kota Lhokseumawe ke koperasi, dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Sesampai di lokasi, rombongan diterima oleh Bapak Abu Bakar AR selaku Ketua Koperasi beserta tim Koperasi. Dalam sambutannya, Ketua Koperasi menyampaikan bahwa Berkat Bunga Damai sebelumnya berbentuk Gapoktan Berkat Bunga Damai. Dalam perkembangan selanjutnya, pada tahun 2022 Gapoktan naik kelas menjadi Koperasi. Bulan Maret 2026, koperasi produsen Perkebunan Berkat Bunga Damai memperoleh Sertifikat RSPO (Roundtable for Sustainable Palm Oil).
Penerapan sertifikasi yang berbasis ramah lingkungan (RSPO, ISPO dan ISCC) dipastikan akan meningkatkan produktivitas kebun sawit petani swadaya melalui tata kelola kebun yang baik dan benar, serta efisien dalam pemakaian biaya produksi (Rp/ha). Adapun faktor yang mendorong peningkatan produktivitas sebagai berikut:
- Penerapan Best Management Practice (BMP).
- Pekebun diajarkan cara menerapkan teknik pemupukan berdasarkan prinsip 5T yaitu tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, tepat cara dan tepat tempat. Peserta juga diajarkan cara pemangkasan pelepah (Front Management) yang benar, pengendalian HPT dan gulma secara terpadu yang goalnya membuat biaya produksi lebih effisien.
- Pemakaian benih unggul bersertifikat.
- Sertifikasi menuntut legalitas dan kejelasan asal usul bibit (mampu telusur), minimalisasi penggunaan bibit palsu (illegitimate) yang berproduksi rendah.
- Pola panen yang sesuai kriteria matang panen.
- Teknik panen yang benar dengan mengedepankan matang panen dan menjaga kualitas tandan buah segar sehingga losses di lapangan menjadi minimal.
- Akses pasar yang terbuka lebar.
- Selain peningkatan produktivitas kebun dan biaya produksi yang rendah (cost/hektar), pekebun juga mendapatkan akses pasar yang lebih luas. Beberapa pabrik kelapa sawit akan sanggup memberikan insentif (premi sertifikasi) dan legalitas lahan yang terjamin.
Dari kunjungan lapang diharapkan petani peserta pelatihan dapat menerapkan pengelolaan Best Management Practice (BMP) dan tata Kelola ramah terhadap lingkungan yang berdampak positif pada peningkatan produktivitas dan lingkungan sekitar.














