Palembang, SAWIT INDONESIA – Produktivitas kebun kelapa sawit rakyat tidak lagi cukup ditopang oleh benih unggul dan pupuk semata. Kunci utama peningkatan hasil kini berada pada kemampuan pekebun menerapkan teknik budidaya yang tepat, efisien, dan berbasis standar Good Agricultural Practices (GAP).
Untuk memperkuat kemampuan tersebut, sebanyak 118 pekebun kelapa sawit asal Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan, mengikuti pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit pada 14–19 Juli 2026 di salah satu hotel, di Palembang. Kegiatan ini merupakan implementasi dari Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) hasil kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian, dan IPB Training.
Pelatihan yang diikuti peserta dari Angkatan X, XI, XII, dan XIII dirancang untuk membantu pekebun meningkatkan produktivitas kebun melalui penerapan budidaya yang sesuai standar teknis. Dengan pengelolaan yang lebih baik, pekebun diharapkan mampu menekan biaya produksi, meningkatkan hasil panen, dan memperkuat daya saing sawit rakyat.
Pembukaan kegiatan dihadiri sejumlah perwakilan pemerintah pusat dan daerah, antara lain Dr. M. Apuk Ismane mewakili Kepala BPPSDMP Kementerian Pertanian, Mula Putra, S.E., M.Sc. mewakili Direktur Jenderal Perkebunan, Herlan Kagami, S.P., M.Si. dari Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, serta Hendra Lezi, S.P. selaku Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Empat Lawang.
Selama enam hari, peserta mendapatkan pembelajaran dari para akademisi dan praktisi perkebunan yang berpengalaman. Materi yang diberikan mencakup seluruh tahapan budidaya, mulai dari penggunaan benih unggul dan legal, teknik pembibitan, persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) dan Tanaman Menghasilkan (TM), pemupukan berimbang, hingga pengendalian hama dan penyakit tanaman.
Agar tidak berhenti pada teori, pelatihan diperkaya dengan berbagai sesi praktikum. Pekebun mempraktikkan pengujian kualitas pupuk melalui pelarutan, pengukuran pH tanah menggunakan pH meter dan kertas lakmus, penggunaan alat ponjok dalam pembibitan, serta teknik pengajiran untuk menentukan titik tanam sesuai standar.
Suasana kelas berlangsung interaktif. Para peserta aktif berdiskusi mengenai persoalan yang mereka hadapi di kebun, seperti pemilihan bibit unggul, pengelolaan lahan berbukit, teknik pemangkasan pelepah, pengendalian gulma, hingga strategi pemupukan yang paling efektif. Diskusi tersebut menjadi wadah bertukar pengalaman sekaligus mencari solusi berbasis ilmu pengetahuan.
Sebagai penguatan materi, peserta juga mengikuti kunjungan lapang ke PT Dutareka Mandiri. Di lokasi ini, mereka belajar langsung di empat titik pembelajaran, yaitu nursery, areal TBM, areal TM, dan stasiun sortasi hasil panen.
Pada area pembibitan, peserta mempelajari pengelolaan benih hingga pemeliharaan bibit sesuai standar perusahaan. Di areal TBM, mereka mempraktikkan kastrasi dan pengendalian gulma, sedangkan di areal TM peserta melakukan pruning untuk menjaga produktivitas tanaman dan mempermudah proses panen.
Kegiatan lapangan ditutup di stasiun sortasi, di mana setiap kelompok diminta memilah 20 tandan buah segar (TBS) berdasarkan tingkat kematangan dan mutu. Praktik ini memberikan pemahaman langsung bahwa kualitas panen sangat menentukan rendemen minyak dan nilai jual TBS.
Kombinasi pembelajaran di kelas, praktikum, dan praktik lapangan memberikan pengalaman belajar yang lebih komprehensif. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mempercepat adopsi teknologi budidaya di tingkat pekebun sehingga produktivitas kebun rakyat di Kabupaten Empat Lawang dapat meningkat secara berkelanjutan.
Melalui program ini, BPDP, Ditjenbun Kementerian Pertanian, dan IPB Training kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat kapasitas SDM perkebunan. Investasi pada peningkatan kompetensi pekebun diyakini menjadi fondasi penting untuk mewujudkan perkebunan kelapa sawit rakyat yang lebih produktif, berdaya saing, berkelanjutan, dan mampu meningkatkan kesejahteraan pekebun.














