Pontianak, SAWIT INDONESIA – Pelaku industri sawit se-Kalimantan berkumpul di Borneo Forum ke-8 yang berlangsung di Pontianak, Kalimantan Barat, pada 21-22 Agustus 2025. Event tahunan ini diramaikan dengan rangkaian seminar, pameran, dan lomba konten kreatif bertemakan sawit.
“GAPKI se-Kalimantan memandang perlunya forum bersama kelapa sawit untuk membahas isu terkini baik nasional dan internasional. Ini tahun kedelapan penyelenggaraan Borneo Forum di mana GAPKI Kalbar mendapatkan amanah sebagai penyelenggara,” ujar Purwati Munawir, Ketua Panitia Borneo Forum dalam sambutannya.
Purwati menjelaskan Borneo Forum ke-8 dihadiri peserta sebanyak 600 orang dan pameran berjumlah 24 peserta dari perusahaan, UMKM, dan media.
Pembukaan Borneo Forum ke-8 dihadiri oleh Dida Gardera (Staf Ahli Bidang Konektivitas dan Pengembangan Jasa Kemenko Perekonomian RI), Baginda Siagian (Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Kementerian Pertanian RI), Christianus Lumano (Staf Ahli Gubernur Kalimantan Barat Bidang Pembangunan dan Ekonomi ), Eddy Martono (Ketua Umum GAPKI), dan Ketua GAPKI se-Kalimantan.
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono mengapresiasi Borneo Forum yang terus dijalankan secara kontinyu dan berkelanjutan oleh GAPKI Se-Kalimantan.
Dalam sambutannya, Eddy Martono menjelaskan bahwa industri sawit telah menyelamatkan perekonomian Indonesia sebanyak tiga kali antara lain di saat krisis ekonomi 98, krisis global 2008, dan masa Covid.
Sementara itu, Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Kementerian Pertanian RI, Baginda Siagian menjelaskan bahwa Borneo Forum ke-8 perlu diapresiasi karena menjadi bagian dari solusi untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi industri sawit.
“Pemerintah masih berkomitmen untuk mendukung industri sawit. Harapan kami, industri sawit dapat berkontribusi semakin besar,” ujarnya.
Staf Ahli Gubernur Kalimantan Barat Bidang Pembangunan dan Ekonomi Christianus Lumano dalam kata sambutannya mewakili Gubernur, mendukung Borneo Forum ke- 8 sebagai bagian dari kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan akademisi untuk memperkuat peranan industri sawit.
“Meski menghadapi tantangan akibat krisis ekonomi global yang memperlambat pertumbuhan komoditas perkebunan, tetapi mampu bertahan dan menjadi salah satu penobang utama kekuatan ekonominya sulit berangkat dari pengalaman tersebut. Namun, saya meyakini bahwa setiap sektor perkebunan di Kalimantan Barat untuk memiliki potensi besar terus dikembangkan. Upaya ini diharapkan dapat mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya,” pungkas Christianus














