• Senin, 28 September 2026
Berita Terbaru

Biosolar Bersubsidi Hingga Dexlite dan Pertamina Dex Nonsubsidi kini Sudah Mengandung Minyak Sawit

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Kalau bensin seperti Pertalite dan Pertamax masih murni bahan bakar fosil, lain halnya dengan bahan bakar diesel. Solar dan seluruh variannya di SPBU Pertamina — mulai dari Biosolar bersubsidi hingga Dexlite dan Pertamina Dex nonsubsidi — kini benar-benar sudah mengandung minyak sawit. Ini bukan sekadar wacana, melainkan kebijakan resmi yang sudah berjalan.

Sejak Kapan Solar di Indonesia Pakai Sawit?

Program pencampuran biodiesel sawit ke dalam solar sebenarnya bukan hal baru. Kebijakan ini telah berjalan sejak tahun 2008, ketika pemerintah mulai menerapkan mandatori biodiesel B2,5. Seiring waktu, kadar campuran biodiesel terus ditingkatkan menjadi B7,5 (2010), B10 (2011), B15 (2015), B20 (2016), B30 (2020), B35 (2023), B40 (2025), hingga akhirnya B50 yang resmi berlaku secara nasional sejak 1 Juli 2026.

B50 berarti setiap liter bahan bakar diesel yang beredar di SPBU mengandung campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit atau Fatty Acid Methyl Ester (FAME), dan 50 persen sisanya solar berbasis minyak bumi². Dasar hukumnya adalah Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026, yang diperkuat oleh Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2025 tentang Pengusahaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati³.

Presiden Prabowo Subianto sendiri yang meresmikan peluncuran program ini di Rest Area KM 57 Tol Jakarta–Cikampek, Karawang, pada 9 Juli 2026⁴.

Bukan Cuma Biosolar, Dexlite dan Pertamina Dex Juga Kena Aturan Ini

Banyak yang mengira B50 hanya berlaku untuk Biosolar bersubsidi. Faktanya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa kewajiban pencampuran biodiesel 50 persen ini berlaku untuk semua jenis bahan bakar minyak berupa minyak solar, termasuk BBM nonsubsidi seperti Dexlite dan Pertamina Dex⁵.

Pertamina Patra Niaga bahkan secara eksplisit menyatakan kesiapannya menyalurkan B50 melalui Biosolar dan Dexlite mulai 1 Juli 2026, dengan volume awal sekitar 37,92 juta liter pada hari pertama peluncuran⁶.

Sementara untuk sektor komersial atau non-PSO — termasuk pertambangan, perkebunan besar, angkutan alat berat, dan kendaraan pribadi mewah yang biasa memakai Dexlite atau Pertamina Dex — konsumen tetap diwajibkan menggunakan campuran biodiesel sesuai regulasi yang berlaku, hanya saja tanpa mendapat subsidi harga dari pemerintah⁷.

Dengan kata lain, baik Biosolar, Dexlite, maupun Pertamina Dex yang kini dijual di SPBU seluruh Indonesia sama-sama tunduk pada mandatori B50 ini.

Kenapa Kualitas Bahan Bakarnya Tetap Terjaga?

Salah satu kekhawatiran umum soal biodiesel berkadar tinggi adalah dampaknya terhadap performa mesin. Namun pemerintah mengklaim, hasil pengujian menunjukkan kualitas B100 untuk campuran B50 sudah memenuhi standar yang direkomendasikan Komite Teknis Bioenergi Cair, dengan perbaikan pada tiga parameter penting⁸:

  • Kadar air: turun menjadi maksimum 300 ppm (dari 320 ppm pada B40)
  • Monogliserida: turun menjadi maksimum 0,47 persen massa (dari 0,5 persen pada B40)
  • Stabilitas oksidasi: naik menjadi minimal 900 menit (dari minimal 720 menit pada B40)

Produsen kendaraan pun ikut menegaskan keamanannya. Business Solutions Director PT Isuzu Astra Motor Indonesia, Anjar Rosjadi, menjelaskan bahwa jika B50 tercampur dengan bahan bakar diesel berkualitas lebih tinggi seperti Dexlite atau Pertamina Dex di dalam tangki (misalnya karena B50 belum tersedia merata di semua SPBU), campurannya justru akan mengikuti kualitas bahan bakar yang lebih baik, sehingga tidak menjadi persoalan bagi mesin⁹.

Dampak Positifnya untuk Indonesia

Peralihan ke B50 membawa sejumlah manfaat signifikan yang sudah mulai terasa:

Mendorong hilirisasi sawit nasional, karena kebutuhan CPO untuk biodiesel meningkat dari 13,6 juta ton (B40) menjadi 15,2–16,3 juta ton saat B50 diterapkan penuh¹².

Menghentikan impor solar. Menteri ESDM menyatakan bahwa mulai tahun ini Indonesia tidak lagi melakukan impor solar¹⁰.

Menghemat devisa negara. Implementasi B50 diproyeksikan menghemat devisa hingga Rp157,28 triliun pada 2026, naik dari capaian B40 sebesar Rp130,21 triliun pada 2025¹¹.

Menurunkan emisi karbon. Penerapan B50 diperkirakan menurunkan emisi hingga 44,46 juta ton CO2, naik dari 39,66 juta ton CO2 pada masa B40¹².

Sumber: gapki.id

Artikel Terkait