• Rabu, 30 September 2026
Sajian Utama

Benih Bersertifikat Kunci Sukses Peremajaan Sawit Rakyat

Peremajaan kebun sawit rakyat tidak lagi dipandang sekadar mengganti tanaman tua dengan bibit baru. Di tengah keterbatasan lahan dan ancaman penyakit yang kian meluas, keberhasilan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) kini sangat ditentukan oleh kualitas benih dan kesiapan ekosistem tanah sejak awal tanam.

Hal tersebut mengemuka dalam Workshop Peremajaan Sawit Rakyat dan Pekan Benih Sawit 2026 sesi II bertajuk “Kisah Sukses PSR dan Penggunaan Benih Sawit Bersertifikat” yang digelar di Palembang, Kamis (12 Februari 2026).

Dalam acara yang diselenggarakan Majalah Sawit Indonesia dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) hadir pembicara yang kompeten di bidangnya, yakni Head of Plant Breeding Asian Agri Yopy Dedywiryanto, Agus Shomad MA, S.TP, selaku Quality Assurance Manager PT Binasawit Makmur dan Direktur PT Mitra Sukses Agrindo Awang Suwarnoto.

Pelaku industri menegaskan bahwa investasi terbesar petani sesungguhnya terletak pada keputusan memilih bahan tanam bersertifikat yang akan menentukan produktivitas hingga dua dekade ke depan.

Head of Plant Breeding Asian Agri Yopy Dedywiryanto mengatakan produktivitas kebun sangat ditentukan oleh faktor genetik benih. Ia mengibaratkan, sebaik apa pun pemupukan, pengendalian gulma, hingga manajemen panen dilakukan, hasilnya tidak akan maksimal jika bahan tanam yang digunakan tidak unggul sejak awal.

“Praktik agronomi yang baik memang penting, tetapi itu harus ditopang oleh bahan tanam terbaik. Kalau fondasi genetiknya tidak kuat, seintensif apa pun perawatan dilakukan, produktivitas akan sulit mencapai level tertinggi. Jadi investasi pertama dan utama sebenarnya ada di benih,” ujarnya.

Asian Agri telah mengembangkan riset pemuliaan sejak mendirikan fasilitas penelitian dan pengembangan (R&D) di Tebing Tinggi, Sumatra Utara, pada 1989, sekitar satu dekade setelah perusahaan membuka kebun komersial.

Melalui seleksi persilangan indukan dura dan pisifera dari berbagai sumber genetik, perusahaan mengembangkan varietas Topaz. Benih ini diuji di berbagai kondisi lahan, mulai dari tanah mineral hingga gambut dalam dan dangkal.

Hasilnya, produktivitas tanaman menghasilkan (TM) umur 3-6 tahun tercatat rata-rata 32 ton tandan buah segar (TBS) per hektare dengan oil extraction rate (OER) 25%, setara potensi crude palm oil (CPO) sekitar 8,5 ton per hektare.

Pada 2004, Asian Agri merilis empat varietas Topaz hasil persilangan material genetik Nigeria, Ghana, Ekona, dan Yangambi. Di kebun internal seluas 4.000 hektare, potensi produksi mencapai 25,5 ton TBS per hektare dengan estimasi 8,7 ton CPO. Sementara di lahan gambut seluas 3.300 hektare, produktivitas menembus 31-33 ton per hektare.

Uji coba eksternal juga menunjukkan hasil lebih tinggi. Pada areal 300 hektare, tanaman menghasilkan stabil di kisaran 40 ton TBS per hektare sejak 2018 hingga 2023.

“Tagline kami ‘Topaz teruji dan terbukti’ bukan sekadar slogan. Pengujian kami lakukan berlapis, lintas generasi, dan di berbagai tipe lahan. Jadi bukan hanya hasil satu musim atau satu lokasi, melainkan konsisten dalam jangka panjang,” kata Yopy.

Setiap tahun, perusahaan mengalokasikan sekitar 600 hektare lahan mineral dan 50 hektare lahan gambut untuk evaluasi ribuan kombinasi persilangan. Dari proses seleksi ketat tersebut, hanya varietas dengan produktivitas terbaik yang dipasarkan.

Saat ini, benih komersial Topaz diklaim mampu menghasilkan rata-rata 38 ton TBS per hektare per tahun, dengan potensi produksi CPO mencapai 10 ton per hektare.

Selain produktivitas, perusahaan juga menaruh perhatian pada ketahanan penyakit, khususnya Ganoderma yang menjadi ancaman utama perkebunan sawit. Pada 2019, Asian Agri merilis varietas Topaz GT yang toleran terhadap serangan Ganoderma.

Pengembangan varietas ini dilakukan melalui pengujian ribuan persilangan dengan isolat patogen agresif. Sejak 2011 hingga 2025, lebih dari 10.600 kombinasi persilangan diuji, termasuk 1,4 juta kecambah yang diinfeksikan secara artifisial. Dari jumlah tersebut, hanya 18 persilangan atau kurang dari 2% yang lolos seleksi.

“Kami konsisten pada prinsip kualitas, bukan kuantitas. Dari ribuan kombinasi yang diuji, hanya material genetik yang benar-benar unggul dan stabil yang kami distribusikan ke pasar. Prosesnya panjang dan ketat karena menyangkut keberlanjutan produksi kebun dalam jangka panjang,” ujarnya.

Direktur PT Mitra Sukses Agrindo Awang Suwarnoto menilai penggunaan benih unggul bersertifikat menjadi salah satu kunci keberhasilan PSR, seiring kebutuhan meningkatkan produktivitas nasional di tengah keterbatasan lahan dan tantangan penyakit tanaman.

Ia mengatakan banyak kebun gagal mencapai target produksi bukan semata karena kualitas bibit, melainkan lemahnya pengendalian penyakit sejak fase awal pertanaman.

“Petani sering kali tidak menyadari tanamannya sudah terserang penyakit sejak dini. Ketika gejalanya terlihat jelas, populasinya sudah turun signifikan dan produktivitas terlanjur merosot. Di titik itu, biaya pemulihan jauh lebih besar dibandingkan pencegahan,” ujarnya.

Awang menghitung, tingkat serangan 30% di lahan 10.000 hektare dapat memicu kerugian hingga Rp252 miliar. Secara tahunan, potensi kehilangan produksi mencapai sekitar Rp40 miliar. Pada skala koperasi 1.000 hektare, kerugian bisa menembus Rp5 miliar per tahun.

Serangan penyakit meningkat seiring umur tanaman. Di sejumlah wilayah seperti Sumatera Utara, kebun generasi ketiga dan keempat menyisakan 80-90 pohon per hektare. Tanah berpasir seperti di Kepulauan Bangka Belitung juga dinilai lebih rentan terhadap perkembangan patogen.

Kesehatan Tanah Jadi Kunci

Awang menegaskan keberhasilan PSR bertumpu pada empat faktor utama, yakni bibit, pupuk, populasi tanaman, dan kesehatan tanah.

“Tanah adalah fondasi utama. Kalau kondisi biologis tanahnya sehat dan mikroorganismenya seimbang, tanaman akan lebih kuat dan relatif lebih tahan terhadap serangan Ganoderma. Jadi kita tidak bisa hanya bicara bibit tanpa memperbaiki ekosistem tanahnya,” katanya.

Perusahaan yang berbasis produksi di Bogor itu mengembangkan biofungisida berbasis Trichoderma serta pupuk hayati berbasis mikoriza untuk memperkuat sistem perakaran dan menekan infeksi patogen.

“Pendekatannya adalah pencegahan. Kita perkuat imunitas kebun sejak awal tanam. Dengan begitu, risiko serangan penyakit bisa ditekan dan produktivitas lebih terjaga dalam jangka panjang,” ujarnya.

Produk tersebut telah melewati uji efikasi di lembaga riset tropis regional dengan hasil di atas standar minimal industri 50%.

Menurut Awang, percepatan PSR membuka peluang bagi industri input pertanian berbasis hayati. Peremajaan, kata dia, tidak cukup hanya mengganti tanaman tua, tetapi juga memperbaiki struktur dan keseimbangan tanah.

“Kalau tanahnya sehat, maka akar berkembang optimal, serapan hara meningkat, dan pada akhirnya produksi ikut naik. Itu pendekatan yang lebih berkelanjutan,” katanya.

Sementara itu, Quality Assurance Manager PT Binasawit Makmur Agus Shomad menegaskan PSR bukan sekadar menumbang dan menanam kembali, melainkan keputusan strategis jangka panjang.

“PSR itu bukan hanya soal mengganti pohon tua dengan yang baru, tetapi bagaimana kita berpikir lima sampai 20 tahun ke depan. Benih adalah investasi jangka panjang. Kalau kita tidak cermat memilihnya sejak awal, kerugiannya bisa kita rasakan selama dua dekade ke depan,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa bibit untuk PSR wajib bersertifikat dan dalam bentuk siap tanam berlabel biru, bukan sekadar kecambah.

“Sebagai produsen, kami bertanggung jawab memastikan benih bersertifikat memiliki sumber induk yang teruji dan dibuktikan dengan surat keputusan Menteri Pertanian. Seluruh proses produksi juga terkontrol, dengan quality control yang independen dari bagian produksi. Kami rutin mengundang dinas perkebunan untuk melakukan pengujian mutu fisik dan penelusuran asal-usul benih,” katanya.

Menurutnya, penangkar memiliki tanggung jawab dalam pembesaran bibit hingga siap tanam dan tidak diperbolehkan mencampur varietas.

“Dari penyemaian sampai penyaluran, tidak boleh ada pencampuran varietas karena semuanya harus bisa dipertanggungjawabkan sampai tahap sertifikasi. Tidak boleh ada bibit abnormal yang terkirim ke lapangan. Rantai tanggung jawabnya jelas, mulai dari produsen, penangkar, hingga petani,” ujarnya.

Perusahaan bermitra dengan lebih dari 100 penangkar, dengan 44 di antaranya aktif memasok untuk PSR dari Aceh hingga Sulawesi Tenggara.

Melalui kerja sama pola plasma di Ogan Komering Ilir periode 2020–2025, perusahaan menyalurkan lebih dari 6 juta kecambah untuk sekitar 32.000 hektare lahan PSR.

Agus menilai keseragaman tanaman memudahkan pengelolaan dan mempercepat produksi.

“Kalau tanamannya seragam, tinggi dan pertumbuhannya relatif sama, pemupukan dan panen jauh lebih efisien. Bayangkan kalau tidak seragam, ada yang terlalu tinggi dan ada yang pendek, itu menyulitkan panen. Dengan benih unggul sekarang, produksi juga cenderung lebih cepat keluar,” katanya.

Ia mencontohkan KUD Panca Sawit Makmur di Mesuji yang melakukan replanting pada Agustus 2019.

“Pada panen pertama mereka mencapai 17,8 ton dengan berat janjang rata-rata 4,6 kilogram. Tahun kedua 16,7 ton dan tahun ketiga 18,2 ton, padahal potensi yang ditetapkan 17,1 ton. Artinya realisasi di lapangan bisa melampaui potensi,” ujarnya.

KUD Citra Sawit Mandiri yang menanam pada 2020 juga mencatat realisasi 14,9 ton dari potensi 12,7 ton pada tahun pertama, serta 18 ton pada tahun kedua sesuai potensi.

“Ada juga KUD Bina Sejahtera yang mendapatkan 19,2 ton dari potensi 12,7 ton, dengan berat janjang 6,6 kilogram, lebih tinggi dari potensi 5,1 kilogram. Ini data riil petani peserta PSR, bukan simulasi,” katanya.

Artikel Terkait